Tertinggi yang Tertepi

Pendidikan sering kali digadang-gadang sebagai tangga menuju perubahan, kunci pembuka pintu pencerahan, sekaligus modal utama untuk membawa dampak positif bagi lingkungan sekitar. Namun, apa yang terjadi ketika seseorang berhasil meniti tangga tersebut hingga puncaknya, lalu memilih kembali ke tempat segalanya bermula yaitu  sekolah dan ternyata untuk mendapati bahwa keberadaannya justru tidak diberi panggung?  Fenomena “Tertinggi yang Tertepi” menjadi ironi nyata yang sering kali mengendap pelan di lorong-lorong sekolah. Seorang pendidik yang telah meraih jenjang pendidikan tertinggi, membawa gelar master, doktor, atau berbagai keahlian akademis mumpuni, kembali dengan semangat membara untuk mengabdi. Harapannya sederhana  menyumbangkan gagasan, memperbarui metode, serta berkontribusi aktif dalam tata kelola dan struktur sekolah demi kemajuan bersama.

Namun, realita di lapangan sering kali tak seindah ekspektasi. Bukannya diserap ke dalam dinamika pengembangan sekolah, mereka justru dibiarkan berada di pinggiran. Ruang-ruang strategis dan keterlibatan dalam struktur organisasi seolah menjadi pintu yang terkunci rapat. Setiap kegiatan penting, pengambilan kebijakan, hingga posisi kepemimpinan seakan menutup celah bagi ide-ide baru yang mereka bawa.

Mengapa hal ini bisa terjadi? Ada beberapa dinamika yang sering kali melatarbelakangi:

  1. Inersia dan Resistensi Perubahan

Struktur yang telah lama mapan cenderung nyaman dengan pola lama. Kehadiran figur berpendidikan tinggi sering kali dipersepsikan secara keliru, bukan sebagai aset yang mengakselerasi, melainkan sebagai tantangan bagi status quo atau zona nyaman yang sudah terbentuk.

  1. Kekhawatiran yang Tak Beralasan

Ketakutan akan tergesernya posisi atau dominasi dalam struktur sering kali memicu pembatasan ruang gerak secara implisit. Akibatnya, alih-alih dirangkul untuk berkolaborasi, mereka justru dijauhkan dari pembuat keputusan.

  1. Budaya Senioritas dan Birokrasi Kaku

Di beberapa lingkungan edukasi, hierarki dan kesepakatan informal kerap lebih menentukan ketimbang kualifikasi akademis serta kompetensi yang dimiliki.

Dampak dari fenomena ini tidak main-main. Ketika potensi terbaik disisihkan, sekolah sendiri yang sebetulnya merugi. Inovasi pembelajaran terhambat, pemikiran kritis terhenti di ruang guru, dan semangat pengabdian secara perlahan bisa tergerus oleh rasa kecewa.  Meski demikian, seorang pengabdi sejati tidak didefinisikan oleh jabatan dalam struktur atau ruang fisik yang diberikan. Bintang tidak membutuhkan panggung mewah untuk tetap bersinar,  ia menyinari kegelapan dari mana pun ia berada. Dedikasi kepada murid-murid di dalam kelas, ketulusan dalam mendidik, serta konsistensi dalam menyebarkan nilai-nilai kebaikan adalah panggung hakiki yang tak pernah bisa dirampas oleh struktur mana pun.    Pada akhirnya, sekolah yang bijak adalah sekolah yang mampu merangkul seluruh potensi terbaiknya tanpa rasa terancam. Sebab, pendidikan yang maju tidak dibangun dari dinding-dinding yang tertutup, melainkan dari keterbukaan untuk belajar, berkolaborasi, dan memberi ruang bagi mereka yang ingin membawa perubahan.

 

Bagikan tulisan ini

Similar Posts

Tinggalkan Balasan