TUJUH RANGKAI DARI TANAH IBU

Dada ibu tidak dirancang menyerah pada asap.
Sebelum kabut racun turun membakar bukit,
ibu mengetuk cangkul ke perut bumi,
mengajari jemarimu membaca denyut tanah yang jujur.
Sebab tanah ini, Anakku, adalah ibu yang kedua.
Ia tak membalas dendam meski dadanya kerap dilukai.
Di luar sana, orang-orang membawa janji ringkas:
racun penyembur rumput dan api pemicu kilat.
“Hemat waktu, hemat biaya!” kata mereka.
Tapi ibu tahu, jalan pintas selalu berujung jurang.
Cara cepat itu murah di mata rupiah,
tapi terlampau mahal dibayar dengan napasmu.
Padahal leluhur kita di negeri ini sudah berpesan:
Padi ditanam, lalang tumbuh; lalang ditanam, takkan padi tumbuh.
Maka ibu pilih cara lama, cara para pendahulu:
mencabut rumput dengan peluh, menabur kompos dedaunan,
membiarkan cacing-cacing bernapas bebas di dalam gelap.
Ini bukan sekadar bertani, Anakku.
Ini cara kita menjaga martabat sebagai manusia.
Orang-orang tertawa melihat ibu mandi keringat.
Padahal saat api mereka melalap rimba dan mengepulkan racun,
petak tanah kita tetap memberi lebih dari yang kita butuh:
cabe rawit merah menggigit, beras kurik yang wangi,
dan mata air beringin tua yang tak pernah surut.
Ketika kita jujur menjaga alam,
alam tak pernah membiarkan anak-cucunya mati kelaparan.
Ibu tak punya emas atau sertifikat tanah untuk kauwarisi.
Ibu hanya punya jemari kasar dan iman yang lurus pada tanah.
Ingat pesan ibu jika kelak ibu sudah membisu di bawah gundukan:
jangan pernah jual tangismu pada asap,
jangan pernah bakar rumah tempat kau dilahirkan!
Hari ini, asap pekat kembali mengepung ladang kita.
Di atas meja, bertumpuk uang kiriman dari kota,
dibawa lelaki berjas yang kemarin membakar hutan seberang.
Ia datang hendak membeli ladang ini dengan harga tertinggi,
dan ibu baru saja menandatangani surat itu—
bukan untuk menjualnya,
melainkan menyerahkan lelaki itu pada hakim rimba yang tak pernah tidur.
Sirukam, 13 Oktober 2026
Bagikan tulisan ini

Similar Posts

Tinggalkan Balasan