
Belajar Dunia dari Piring Pajangan Amai
Tanah makam Mande belum lagi sepenuhnya kering,
ketika langkah Abak beranjak jauh menyeberang selat, memeluk takdir yang baru.
Di rumah kayu yang sepi, kau dekap tubuh kecilku yang menggigil,
merawat sisa doa dengan kiriman seadanya yang kerap datang terlambat.
Aku tumbuh dari ketabahan jemarimu yang mulai bergetar,
menyaksikan bagaimana hidup kau pertahankan tanpa sekali pun mengutuk nasib.
“Aia diminum raso duri, nasi dimakan raso sakam.”
Kau ajarkan aku memilah rasa, menahan perih, dan mengubah sabar menjadi baja,
sebab bagiku, engkaulah lentera sejati yang mengukir lembar kehidupan di dadaku.
Setahun sekali, saat hari kemenangan mengetuk pintu kampung,
kau akan membasuh pajangan porselen indah yang terpajang di dinding kayu—
sebuah piring kaca berukir menara dan pegunungan salju dari Swiss yang begitu jauh.
Tempat kau menitipkan impian, bahwa kemiskinan tak boleh mengurung sayapku;
di depan piring itulah aku menatap dunia, bermimpi terbang melintasi benua.
Puluhan tahun kau menenun gigih di atas sajadah yang menipis,
memastikan jiwaku tak runtuh oleh kemiskinan dan rasa sepi ditinggalkan.
Kini, aku berdiri di atas panggung megah, mengenakan jubah wisudawan terbaik,
tepat di tengah negeri dingin yang dulu hanya mampu kupandangi di atas piring pajanganmu.
“Pulau Pandan jauah di tangah, dibaliak Pulau Angso Duo. Hancua badan dikanduang tanah, budi baiak dikana juo.”
Ketulusanmu telah menjelma kompas yang menuntun langkahku menaklukkan dunia;
meski ragamu kini telah menyatu dengan bumi, doa-doamu telah abadi dalam darahku.
Hari ini, kutatap toga dan piagam ini dengan mata yang berkaca-kaca,
andai kau masih ada di sini, ingin kuletakkan seluruh tanda penghormatan ini di kakimu.
Sebab di balik gelar mentereng dan tepuk tangan riuh ribuan manusia,
ada seorang Amai bersahaja, madrasah pertamaku, yang telah selesai mendidikku menjadi pemenang.





