Kala fajar menyingkap kabut
Dinding bilik bambu dan bangku kayu bersahaja
Saksi bisu sang Penebar Cahaya
Menyemai ilmu di ladang jiwa
Pada papan tulis yang lusuh
Ia torehkan aksara cinta
Mengukir hikmah dengan kapur rapuh
Disertai hembusan kata penggugah kalbu
Menyirami dahaga ruh-yang merindu gemilang masa depan
Sedang sang murid, khusyuk terpaku dalam cakrawala asa
Diam dalam makna yang membening
Mata menatap dalam kejernihan semesta,
Tangan menari di atas kertas,
Telinga mereguk suara,
Dan hati menengadah, memanjat doโa
Agar lentera ilmu tak hanya singgah,
Tapi bersemayam dalam nurani yang merekah
Kini, sang waktu mengganti wajahnya
Gawai menyeruak laksana badai tanpa arah
Menyusupkan gemuruh yang menggoda jiwa
Mengelabui etika, mencairkan kejujuran jadi fatamorgana
Namun, sang guru tak tunduk pada gelap
Ia tetap memanggul pelita nilai
Meski malam zaman terasa pekat
Dengan kasih seluas samudra
Dengan sabar sedalam palung cakrawala
Ia berdiri bak pilar langit
Berusaha tak rapuh, berusaha tak roboh
Wahai zaman,
Sekuat apapun engkau menggiring pada semesta asing
Sang guru tetap bentangkan jembatan langit
Menanam puspa akhlak di tanah yang mulai gersang
Mencetak generasi dalam tempa harapan yang takkan redup
Meski dirgantara dunia terus berubah rupa

Tinggalkan Balasan