SAMPIRAN TIGA RATUS PERSEN

Pagi hari memetik melati,

harumnya sampai ke dalam rumah.

 

Aku mengendusnya sembari melupakan dunia,

menganggapnya seakan baik-baik saja,

tanpa cemas yang berlebih,

sayangnya, kilasan cahaya pada jendela berkata lain,

ada kegelisahan yang menggantikannya,

namaku tertulis kecil di sudut kebijakan,

dipanggil saat dibutuhkan,

dilupakan saat perhitungan,

statusku berganti,

istilahku berganti,

sebutanku berganti,

namun gelisah tetap menetap di alamat yang sama.

Aku menanak hari dengan tungku kesabaran,

menghidangkan masa depan dari piring pengorbanan.

Ketika kata “honorer” diluruhkan dari lembar aturan,

aku berharap bebanku turut luruh,

namun yang berubah hanya papan penunjuk jalan,

sedang jurang di hadapanku tetap menganga.

Di negeri yang menjunjung ilmu di atas mimbar,

aku sering menjadi akar yang bekerja dalam gelap

agar pohon peradaban tampak rindang di permukaan.

 

Tiga ratus persen melambung dalam kabar,

tiga ratus persen melintas dalam pidato,

tiga ratus persen bergema dalam percakapan,

tiga ratus persen melambung tinggi pada satu profesi,

tiga ratus persen meluncur deras dari satu kekeliruan pidato,

tiga ratus persen menjadi kembang api yang sebentar menyala lalu hilang.

Aku tetap mencoba memungutnya seperti anak kecil mengejar layang-layang putus,

berebut cepat dengan yang lain,

berharap bisa meraihnya,

dan mencari peruntungan pada angin untuk menerbangkannya kembali.

Namun tiga ratus persen telah berubah menjadi sampiran,

indah di awal, menggugah di telinga, tak sampai pada isi yang dinanti.

Sementara itu, aku tetap menghitung jarak

antara pengabdian dan kebutuhan,

antara idealisme dan tagihan,

antara kehormatan profesi dan kenyataan hidup.

 

Sering ingin kutanyakan kepada waktu,

“Berapa harga satu pagi yang kuhadiahkan bagi masa depan?

Berapa nilai satu huruf yang kutanam dalam benak murid?

Berapa upah untuk menyalakan pelita

di ruang-ruang yang nyaris kehilangan cahaya?”

Namun setiap kali langkahku hendak patah,

setiap kali keyakinanku hendak rebah,

setiap kali harapanku hendak menyerah,

sepasang mata di bangku paling depan memanggilku, “Guru.”

Panggilan itu lebih nyaring daripada pidato,

lebih hangat daripada tepuk tangan,

lebih jujur daripada angka-angka.

Dari sana aku mengerti,

barangkali kesejahteraan belum seluruhnya berpihak,

tetapi makna telah lebih dahulu datang.

 

 

 

Perlahan aku mencintai profesi ini,

bukan karena jalannya lapang,

bukan karena nasibnya gemilang,

bukan karena tiga ratus persen telah menjadi kenyataan.

Aku mencintainya karena ada mimpi yang tumbuh di bangku-bangku kayu,

karena ada masa depan yang belajar mengeja dirinya sendiri,

karena ada murid yang menemukan keberanian setelah sekian lama ragu.

Mereka adalah benih, mereka adalah pelita, mereka adalah alasan.

Selama masih ada tangan kecil yang terangkat untuk bertanya,

selama masih ada mata yang berbinar karena mengerti,

aku akan tetap menjaga kelas ini seperti penjaga fajar,

meski sebagian harapan masih menjadi sampiran,

aku percaya suatu hari isi akan menemukan jalannya.

 

Jika sampiran belum terbukti,

biarlah murid menjawabnya sudah.

 

Kutim, 30052026

Tagar:

Bagikan postingan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *