SURAT CINTA DARI JAUH UNTUK GAZA
Dari jantung bumi yang masih berdetak,
kukirim seribu rindu lewat angin barat,
bersama desir debu dan doa yang pekat,
menuju langit Gaza yang terus dilumat.
Engkau-Gaza, puisi luka yang tak henti ditulis,
di tiap dindingmu ada darah yang menangis,
namun juga ada nyala yang tak habis,
api keberanian dari hati yang paling tulus.
Anak-anakmu melukis harapan di puing-puing,
dengan krayon langit dan air mata bening,
mereka tak gentar meski maut bersayap sering,
meniti hari lara tanpa pernah mengering.
Oh Gaza, engkau tak sendiri di kesepianmu,
kami peluk engkau dalam sunyi rindu,
surat cinta ini bukan hanya kata yang semu,
tapi janji-dunia takkan berpaling darimu.
Jika langitmu hitam oleh dentum dan jelaga,
biarlah doaku menjadi pelangi yang menyapa,
menyulam kembali asa yang sempat sirna,
dan menghidupkan harapan di dada yang lara.
Tetaplah berdiri, Gaza, meski dunia mendesis,
engkau puisi hidup di tengah bara yang menangis,
dari kami yang mencintaimu tanpa sisa,
meski tak tampak, cinta ini tetap menyala.

Tinggalkan Balasan