Dulu, langit biru selalu menyapa jiwa yang bersedih.
Tampak jelas kebahagiaan yang tak pernah pudar.
Namun sekarang?
Ia menjadi tanah yang dirundung luka.
Serpihan surga itu
Kini dipenuhi sedu sedan dan darah mengalir.
Pesawat-pesawat itu membabi buta,
Muntahkan dentuman neraka.
Dengarlah tangisan mereka!
Dengarlah jeritan batin mereka!
Kini rumah beribu kenangan itu
Hancur ditangan yang haus darah
Lihatlah para serigala berbaju besi itu!
Hentikan tangisan polos dengan peluru dingin
Muka polos itu
Menyaksikan kekejaman bayang bayang
Kutulis luka ini jadi nyanyian sunyi,
Untuk bumi yang dicium para syuhada.
Dibungkam peluru, dikoyak dentuman,
Tapi takkan pernah mati suara mereka.

Tinggalkan Balasan