Tiga tembakan peringatan meluncur ke udara,
komando kapten untuk segera bergegas.
Kami berlari, meraih senapan laras panjang, bertugas di posisi masing-masing.
Satu per satu, tanah mereka mulai terkikis, habis.
Tinggal sedikit lagi, sampai bumi mereka sepenuhnya jadi milik kami.
Sudah lebih dari tujuh puluh tahun hal ini terjadi,
Mungkin tiga, tujuh, atau sepuluh tahun lagi.
Di tengah luncuran dumb bombs yang bergerak tanpa kendali,
terlihat seorang anak berlarian, berteriak, membuat kegaduhan,
“Hey!, bisakah hentikan kekacauan ini sebentar, adikku sedang sakit, bisa beri kami sedikit air?”.
Tanpa kata, kuarahkan laras baja, tepat ke jantungnya.
Samar-samar terdengar jeritan anak kecil lain dari kejauhan, mungkin adiknya, entahlah.
Salahkah ini? kurasa tidak.
Jasad itu bisa dijadikan pupuk alami untuk menyuburkan tanah mereka.
Bukankah aku cukup baik?.
Aku tidak tahu bagaimana perasaan ini bisa muncul,
perasaan menyenangkan saat mendengar teriakan mereka yang melengking itu.
Mentari mulai terbenam.
Kapten pun telah memberi arahan agar kami kembali.
Hari ini cukup sampai di sini.
Masih ada hari esok, dan esoknya lagi, lalu esoknya lagi.
Saat ini kami telah berganti pakaian santai.
Tertawa di tepi barat pemukiman warga.
Sambil menenggak arak,
menghirup aroma memabukkan yang membuat candu.

Tinggalkan Balasan