
Dahaga di Lembah Sibalaya
Dahaga di Lembah Sibalaya
Karya : Achmad Lamo Labung, S.Pd.,Gr.
Di bawah temaram langit Sibalaya Utara,
Senja berbisik pucat di hamparan tanah Lembah Palu,
Petak-petak sawah berundak terdiam dalam nestapa,
Menanti remah-remah air yang tak kunjung menyatu.
Musim tanam tiba membawa cemas yang membara,
Pematang-pematang kering memeluk sisa lumpur kusam,
Aliran Sungai Gumbasa yang dulu mengalir deras bersuara,
Kini kerap terhenti, membisu dalam sepi yang kelam.
Irigasi membatu tanpa bisikan riak air,
Menatap jerami pasrah di bawah bayang kelapa.
Di rumah-rumah Tanambulava, keran PDAM menetes getir,
Air bersih ada, namun tak berani diperah leluasa,
Sebab rupiah bertarif mahal menghantu di ujung meteran.
Tak sanggup air perpipaan menyiram dahaga persawahan,
Hanya untuk seteguk minum dan secangkir basah di dapur.
Petani Sigi menengadah menatap bukit di kejauhan,
Memohon pada alam agar kemarau tak makin melabur.
Sibalaya Utara bertaut dalam sabar dan doa,
Di balik bayang dedaunan rindang dan langit sore yang meredup,
Semoga Sungai Gumbasa kembali mengalirkan kehidupan,
Membawa senyum kembali mekar di persawahan Sigi yang tercinta.






