Di Antara Dua Mahkota

Di bawah temaram lampu ruang guru,
Sepi merayap, merenggut selaksa ragu.
Dua lembar kertas membisu di atas meja,
Dua amanah besar menuntut jiwa dan raga.
Satu helai memanggil nurani sang pendidik,
Menatap netra mungil yang haus ilmu dan budi pekerti.
Di sana ada tawa, harapan, dan masa depan anak bangsa,
Yang merindukan bimbingan tanpa cemas dan tawa hampa.
Satu helai lagi menggoda dengan tajuk jabatan,
Langkah birokrasi, wewenang, dan janji kesejahteraan.
Timbangan keadilan bergetar di dalam dada,
Sanggupkah jemari menggenggam dua mahkota?
Di sinilah dilema menyayat batin sang guru,
Antara fokus mengajar dan mengejar waktu.
Apakah ruang kelas ‘kan kehilangan kehangatan,
Saat pikiran terbagi oleh urusan jabatan?
Ia melangkah di atas titian tipis integritas,
Menjaga kejujuran agar tak runtuh dalam tumpukan berkas.
Bukan sekadar formalitas di atas kertas perjanjian,
Namun tentang janji pada Tuhan dan generasi depan.
Dua jalan terbentang di hadapan kalbu,
Menuntut ketegasan, kejujuran, dan arah tujuan.
Sebab mengajar adalah panggilan jiwa yang suci,
Tak boleh terabaikan oleh godaan tahta dan posisi.
Bagikan tulisan ini

Similar Posts

Tinggalkan Balasan