
Santri di Antara Rumus dan Kitab
Suara azan Subuh baru saja bergema dari pengeras suara Masjid Al-M ketika Akbar sudah berdiri di tepi ranjang tingkatnya. Di saat santri-santri lain masih merapatkan sarung untuk menahan kantuk dan dinginnya udara pagi, Akbar sudah melipat selimut dan merapikan pecinya. Pemuda berusia tujuh belas tahun itu mendiami dua dunia yang sama-sama menuntut pengabdian penuh: dunia pesantren Al-M yang sarat kitab kuning dan dunia sekolah menengah atas di SMA Multi yang dipenuhi rumus-rumus sains serta batas waktu tugas.
Sebagai santri kelas dua belas di Pondok Pesantren Al-M sekaligus siswa kelas XII MIPA di SMA Multi, hari-hari Akbar adalah sebuah maraton yang tak pernah benar-benar selesai. Setiap pagi, setelah menuntaskan salat Subuh berjemaah, rutinitasnya dimulai tanpa jeda. Ia bergabung di selasar pondok Al-M untuk mengikuti pengajian kitab Tafsir Jalalain bersama pengasuh pesantren. Dengan penat di mata akibat begadang menyalin catatan biologi semalam, Akbar berusaha menjaga fokusnya. Jarinya menari di atas lembaran kertas kitab yang sudah menguning, mengartikan baris demi baris kata Bahasa Arab dengan makna Jawa pegon yang cermat.
Tepat pukul enam pagi, tatkala pengajian usai, dinamika hidupnya berubah drastis. Akbar bergegas menuju kamar mandi santri Al-M yang selalu mengular antreannya. Begitu gilirannya tiba, ia membasuh diri secepat mungkin, mengganti baju koko dan sarungnya dengan seragam putih-abu-abu berbadget SMA Multi yang tergantung rapi di sudut lemari kayu kecilnya. Tanpa sempat menikmati sarapan santai, Akbar menyambar tas ranselnya yang berbobot berat berisi dua jenis buku yang sangat berbeda: buku catatan Fisika kuantum dan modul Shorof.
Perjalanan dari pondok Al-M ke SMA Multi memakan waktu sepuluh menit dengan mengayuh sepeda tua milik almarhum ayahnya. Mengayuh di antara lalu lintas pagi yang padat, pikiran Akbar sering kali terbagi. Di satu sisi, ia membayangkan setoran hafalan Alfiyah Ibnu Malik yang harus ia serahkan sore nanti kepada ustaz pembimbing di Al-M. Di sisi lain, ia harus bersiap menghadapi ulangan harian Matematika Peminatan pada jam pertama di SMA Multi. Dua tanggung jawab itu saling berbenturan di dalam kepalanya, menuntut ketahanan mental yang luar biasa.
Di SMA Multi, Akbar bukan sekadar siswa yang menumpang lewat. Ia memegang peran sebagai Ketua Organisasi Siswa yang sering kali harus memimpin rapat kegiatan. Namun, tantangan terbesarnya bukanlah tugas-tugas organisasi, melainkan menjaga staminanya agar tetap tegak di dalam kelas. Tidak jarang, saat guru menjelaskan materi yang panjang, matanya terasa sangat berat. Kelopak matanya seolah ditarik oleh gravitasi yang tak tertahankan akibat hanya tidur tiga hingga empat jam sehari.
Suatu hari, ketika jam pelajaran Kimia sedang berlangsung di SMA Multi, rasa lelah yang terkumpul akhirnya menembus pertahanan Akbar. Tanpa disadarinya, kepalanya terkulai di atas meja. Bu Ratna, guru Kimia yang terkenal tegas, menghentikan penjelasannya di depan papan tulis. Langkah kakinya yang berwibawa mendekati meja Akbar di barisan belakang. Ketukan penggaris di atas meja membuat Akbar tersentak kaget.
“Akbar! Kamu tidur lagi di jam pelajaran saya?” suara Bu Ratna menggelegar, membuat seluruh isi kelas SMA Multi mendadak hening.
Akbar langsung berdiri, wajahnya pucat dan penuh penyesalan. “Maafkan saya, Bu. Saya benar-benar tidak sengaja.”
“Saya tahu kamu anak pesantren Al-M dan punya banyak kegiatan, Akbar. Tapi kalau kamu tidak bisa membagi waktu, nilai Kimiamu di SMA Multi yang akan jadi taruhannya. Seleksi masuk perguruan tinggi sudah di depan mata. Kamu harus pilih, mau fokus di mana?” teguran Bu Ratna menancap dalam di benak Akbar.
Pernyataan itu membayangi pikiran Akbar sepanjang hari. Apakah ia terlalu memaksakan diri? Haruskah ia melepas salah satunya? Namun, membayangkan wajah ibunya di kampung yang selalu meneteskan air mata bahagia setiap kali mendengar kabar bahwa anaknya taat beragama di Al-M sekaligus berprestasi di SMA Multi, niat untuk menyerah langsung sirna. Bagi Akbar, ilmu agama di Al-M adalah benteng jiwanya, sedangkan ilmu formal di SMA Multi adalah jembatan untuk meraih cita-citanya menjadi seorang insinyur yang religius.
Setibanya kembali di pondok Al-M pada pukul empat sore, tidak ada waktu untuk meratapi nasib. Akbar harus segera bersiap untuk kegiatan kurikulum pesantren. Ia mengambil wudu untuk salat Asar, dilanjutkan dengan jam setoran hafalan. Di hadapan ustaz pembimbingnya di Al-M, Akbar duduk bersimpuh. Dengan suara yang agak bergetar karena cemas, ia mulai melafalkan bait-bait kitab Alfiyah. Di pertengahan bait, pikirannya sempat terbuyarkan oleh rumus Kimia SMA Multi yang tadi pagi ditegur oleh Bu Ratna, membuat jalannya hafalan tersendat.
“Fokus, Akbar,” potong sang ustaz dengan nada lembut namun dalam. “Menuntut ilmu itu ibadah, tapi hati yang terbagi tidak akan sanggup menampung hikmah. Selesaikan apa yang ada di depanmu saat ini. Ketika kamu di Al-M mengaji kitab, lupakan rumus sekolahmu. Ketika kamu di SMA Multi, niatkan itu sebagai bagian dari ibadahmu.”
Nasihat sederhana itu menjadi titik balik bagi cara berpikir Akbar. Ia menyadari bahwa kesalahannya selama ini adalah membiarkan kecemasan akan tugas lain merusak fokusnya pada tugas yang sedang dikerjakan. Malam itu, setelah salat Isya dan pengajian malam di Al-M selesai pukul sembilan, Akbar duduk di sudut kamar santri dengan metode baru.
Ia membuat jadwal ketat yang ia tempel di dalam tutup lemarinya. Pukul sembilan hingga sepuluh malam adalah waktu khusus untuk menyelesaikan tugas-tugas SMA Multi dan mengulang pelajaran umum. Pukul sepuluh hingga sebelas malam dedicated untuk mengkaji ulang pelajaran pondok Al-M dan menambah hafalan. Tepat pukul sebelas malam, ia harus tidur agar tubuhnya mendapatkan hak istirahat yang cukup sebelum bangun pukul empat pagi.
Perjuangan mengatur waktu tersebut mulai membuahkan hasil. Akbar belajar disiplin secara ekstrem. Ia memanfaatkan setiap sela waktu kecil yang dimiliki. Saat istirahat jam pertama di SMA Multi, tatkala teman-temannya pergi ke kantin, Akbar duduk di bawah pohon rindang perpustakaan untuk mengulang hafalan kitab Al-M. Sebaliknya, saat ada waktu luang beberapa menit sebelum pengajian pondok dimulai, ia menggunakannya untuk membaca kembali bab-bab latihan soal Fisika.
Ujian demi ujian pun berlalu. Musim ujian semester di SMA Multi bertepatan langsung dengan Imtihan atau ujian akhir semester di pondok Al-M. Itu adalah pekan paling berat sepanjang hidup Akbar. Dalam kurun waktu satu minggu, ia harus menempuh belasan mata pelajaran sekolah sekaligus mempertahankan hafalannya di hadapan para penguji pesantren Al-M.
Pada malam sebelum ujian akhir Kimia dan ujian lisan Fiqh, tubuh Akbar sempat mendemam karena kelelahan hebat. Teman sekamarnya di Al-M menyarankan agar Akbar meminta izin tidak mengikuti salah satu ujian. Namun, Akbar menolak. Ia mengompres dahinya sendiri dengan kain basah sambil terus membaca buku catatan di bawah temaram lampu kamar santri. Dalam kesendirian malam, ia menyelipkan doa di antara sujud malamnya, memohon kekuatan kepada Tuhan agar dimampukan melewati masa-masa sulit tersebut.
Bulan-bulan penuh peluh dan perjuangan itu akhirnya mencapai puncaknya pada hari kelulusan. Di aula SMA Multi, pengumuman kelulusan dan penghargaan siswa berprestasi digelar. Akbar duduk di jajaran kursi depan bersama ibunya yang sengaja datang dari desa dengan pakaian sederhananya.
Saat kepala sekolah membacakan hasil kelulusan, nama Akbar dipanggil sebagai lulusan terbaik di jurusan MIPA sekaligus meraih nilai tertinggi dalam ujian akhir di SMA Multi. Suara tepuk tangan membahana di seluruh ruangan. Bu Ratna, yang dulu sempat menegurnya dengan keras, tersenyum bangga sambil menganggukkan kepala dari panggung guru.
Tidak berhenti di situ, seminggu kemudian di Panggung Utama Pondok Pesantren Al-M, digelar acara wisuda Haflah Akhirussanah. Di atas panggung pesantren yang megah, pengasuh pondok Al-M mengumumkan bahwa Akbar berhasil menuntaskan hafalan kitabnya dengan predikat Mumtaz (sangat baik) serta terpilih sebagai santri teladan tahun ini.
Saat menyalami pengasuh pondok Al-M dan mencium tangan beliaunya, mata Akbar meneteskan air mata haru. Ia melihat ibunya berdiri di sudut arena pesantren dengan senyum paling indah yang pernah ia lihat. Semua rasa lelah, kantuk yang tertahan, teguran guru, dan malam-malam panjang yang menguras tenaga kini terbayar tuntas. Akbar telah membuktikan bahwa koridor SMA Multi dan bilik pesantren Al-M bukanlah dua hal yang saling menegasikan, melainkan dua sayap yang telah membawanya terbang tinggi meraih mimpi.





