Di Balik Diammu, Adam

DI BALIK DIAMMU, ADAM
Catatan Kecil dari Seorang Guru
Bertahun-tahun menjadi guru,
aku belajar banyak hal.
Tentang angka,
tentang rumus,
tentang jawaban yang benar
dan kesalahan yang harus diperbaiki.
Namun ternyata,
ada pelajaran yang tak pernah tertulis
di buku mana pun:
tentang membaca seorang anak.

Duduk di sudut kelas,
terdiam sendiri.
Satu coretan,
dua coretan,
lalu entah berapa banyak
yang tak sempat kuhitung.
Bukan pelajaran
yang memenuhi kertasmu.
Hanya sebuah animasi
yang kau gambar berulang-ulang,
seolah ada sesuatu
yang ingin kau katakan,
tetapi tak menemukan suara.
Di sana,
di antara garis dan warna,
barangkali ada luka,
ada kecewa,
ada air mata
yang tak pernah jatuh
di hadapan kami.
“Ada apa sebenarnya?”

Adam,
begitu kami memanggilmu, Nak.
Kau tidak banyak  bicara.
Lebih banyak diam.
Dan kami sering kali
lebih cepat menilai
daripada mencoba memahami.
Kenakalanmu
kami sebut pelanggaran.
Kemalasanmu
kami anggap kesengajaan.
Celetukanmu
terkadang kami terima
sebagai kebrutalan.
Kami melihat perilakumu,
tetapi belum sempat melihat
apa yang membuatmu demikian.

Sampai suatu hari,
ketika seorang guru bertanya,
“Kamu kenapa?”
“Ada masalah?”
Kau hanya menjawab,
“Saya baik.”
Sesederhana itu.
Lalu kau kembali diam.
Mungkin memang
ada hal-hal yang terlalu berat
untuk diceritakan.
Mungkin ada luka
yang bahkan untuk menyebut namanya saja
kau belum sanggup.
Adam,
masa depanmu masih panjang.
Jangan biarkan
hari-hari yang berat hari ini
membuatmu percaya
bahwa hidup akan selalu seperti ini.

Kami mungkin pernah salah
membaca diammu.
Kami mungkin pernah
menilai perilakumu
tanpa tahu apa yang sedang kau lawan
sendirian.
Kini,
sebagian diammu
mulai kami pahami.
Ada luka
yang kau simpan.
Ada kecewa
yang kau sembunyikan.
Ada cerita
yang belum mampu kau ucapkan.
Dan jika suatu hari
kau akhirnya ingin bercerita,
semoga kau tahu—
ada yang bersedia mendengarkan,
tanpa menghakimi.
Karena mungkin, Adam,
yang selama ini kau butuhkan
bukan seseorang yang bertanya,
“Mengapa kamu seperti ini?”
Tetapi seseorang
yang cukup sabar untuk berkata,
“Tidak apa-apa.
Aku di sini.
Ceritakan pelan-pelan.”

Dan bila hari itu belum tiba,
tak apa.
Untuk sementara,
tulislah di kertasmu.
Gambarlah sesukamu.
Diamlah jika memang itu
yang sanggup kau lakukan.
Kami akan belajar
untuk tidak selalu menerjemahkan diammu
sebagai kesalahan.
Sebab kini kami tahu—
tidak semua anak yang diam
sedang baik-baik saja.
Dan tidak semua anak
yang terlihat nakal
sedang ingin melawan.
Barangkali,
ia hanya sedang mencari jalan
untuk mengatakan:
“Tolong pahami aku.”
Dan sejak saat itu,
aku pun belajar—
menjadi guru ternyata bukan hanya tentang
mengajarkan anak menemukan jawaban,
tetapi tentang belajar membaca
pertanyaan-pertanyaan
yang belum mampu mereka ucapkan.

 —-Tee Saputra 2026—-

Bagikan tulisan ini

Similar Posts

Tinggalkan Balasan