Di Tunmat, Kami Ramai-Ramai Patah Jagung

Di Tunmat, kebun-kebun telah menguning,
kami datang membawa kegembiraan,
ramai-ramai patah jagung,
seperti mematahkan kesunyian,
dari tulang-tulang musim.

Tongkol-tongkol tua,
dilepas dari pelukan batang,
jatuh ke dalam bakul,
seperti cahaya-cahaya kecil,
yang pulang ke rumah.

Dari tangan ibu yang berbau tanah,
dari tubuh ayah yang menyimpan keringat,
dari doa anak-anak yang dikabulkan,
kami madahkan pujian dan syukur,
atas nama Tuhan, alam, dan leluhur.

Kami tidak hanya memanen jagung,
tetapi memanen cerita:
tentang beberapa butir beras
dan setetes darah ayam
di batu pemali—untuk bermantra,
tentang tanah yang sabar,
tentang hujan yang tak pernah berjanji,
dan tentang perut-perut yang menunggu
sebutir harapan.

Malam nanti,
api menyala di tungku,
jagung direbus,
tawa berpindah,
dari mulut ke mulut.

Kami tahu—
di tanah ini,
kebahagiaan
kadang sederhana:
ramai-ramai patah jagung,
lalu pulang membawa musim
di dalam bakul,
untuk doa dan air mata
selama semusim.

Atambua, 22 September 2026

Bagikan tulisan ini

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *