
Ilusi Hati
Triiiiinggg…….
itulah bunyi gawai ku dalam kantong celana yang tampak kusam dimakan waktu. Pagi itu pukul 06.45 wib, aku dengan kendaraan kesayangan ku melaju di jalanan yang penuh lalu lalang kendaran silih berganti. Aku terfokus pada arah jalan ku menuju sebuah madrash yang terletak jauh dari keraamaian kota industri ini. Kulihat dari arah berlawanan banyak sekali insan yang berpapasan dengan ku, di jalan yang sama, waktu yang sama, namun tujuan yang berbeda. Ada yang bertujuan pergi ketempat ia bekerja, ada yang pergi hanya mengantarkan buah hati ke tempat pendidikan, ada juga ingin menuntut ilmu. Semua aktifitas itu terasa sudah biasa aku rasakan. Setibanya aku ditempat tujuan, aku bergegas memarkirkan kendaran ku ditempat semestinya. Dengan tekad yang ikhlas aku menuju ke meja kerja ku, kulihat disana setumpuk buku yang tersusun sedikit acak acakan. Termenung aku duduk di kursi ku sembari memutar otak dan angan ku bagaimana cara agar seketika aku masuk kelas dan menyampaikan segudang materi ajar dan strategi pembelajaran yang akan disampaikan kepada anak-anak. Tidak terasa jam pun menunjukkan pukul 07.00 wib, berbunyi bel tanda bahwa aktifitas pembelajarana akan segera dimulai. Aku buka buku daftar ku lalu kulihat jadwal kelas ku hari ini. “aaah….aku menarik nafas panjang seketika aku melihat kelas ku hari ini adalah kelas rendah. Otakku langsung merespon dengan mengingat kejadian diminggu lalu. aku teringat seorang siswa bernama adam. ia merupakan siswa yang menjadi target utama dalam pembelajaran tersebut. Aku ingat betul bagaiman perisiwa itu terjadi. Aku sadar atas tindakan ketidak sabaran ku dalam menghadapi anak tersebut. Waktu itu keadaan sangat kacau, beban kerja dan tugas harus terselesaikan dengan baik. Namun seketika dimenit-menit akhir terjadi kesalahpaham antara adam dengan teman lainya. saat temenya mengadu dan menceritakan kejadian antara mereka berdua dan ingin meminta maaf atas perbuatanya, aku begitu antusias mendengarkan cerita tanpa meminta penjelasan dari pihak lain, Alhasil dengan perasaan kesal akupun memanggil adam untuk dipertemukan dengan keduanya. Namun, tiba-tiba adam melempar sebuah sepatu kerah temanya dan mengenai pelipis diatas mata. Seketikan amarah ku naik dan langsung menegur keras terhadap adam. Seketika itu pula adam tidak terima dan tidak terkontrol emosi nya. Dengan lantang dan penuh amarah iya berkata ” dia, dia, dia duluan mengejek saya dengan ejekan berulang..” ujarnya. Aku pun tanpa ragu-ragu membalasnya ” iya..bapk tau,. tapi kan dia ingin meminta maaf kepadamu, mengapa adam lempar dengan sepatu? kalau terluka bagaimana? kalau ibunya marah bagaiman? apakah adam mau dimarahi oleh ibunya? jawab adam!…tanpa sedetikpun akau memberi kesempatan ada berbicara menyampaikan pendapatnya. Keadaan tersebut menyebabkan adam lepas kontrol dan balik berkata kepada ku, ” bapak itu tidak mau mendengar penjelasan adam, sekrtika itupula aku tertegun dan tertampar olehnya. mengapa aku tidak memberikan penjlasan dari sisi-sisi ini ya?





