Memeluk Cerita di Balik Diamnya S

Tahun 2007 menjadi titik awal dari lembaran kisah hidupku. Karier mengajar ini kubulai pada bulan Juli di sebuah sekolah swasta. Sejak kecil, aku memang sangat bercita-cita menjadi seorang guru. Dalam bayanganku kala itu, guru adalah pekerjaan yang begitu menyenangkan.
Namun, setelah benar-benar terjun ke dunia pendidikan, aku menemukan banyak hal yang tak pernah kubayangkan sebelumnya. Berbagai ragam karakter murid harus kuhadapi. Ada murid yang rajin, ada yang belum siap untuk belajar, bahkan ada pula murid yang sama sekali tidak mau belajar di dalam kelas dan lebih memilih belajar di luar.
Kisah-kisah unik seperti itu terus berganti setiap tahunnya. Hingga akhirnya, pada awal tahun ajaran baru kali ini, aku bertemu dengan seorang murid yang sangat pendiam. Luar biasa pendiam. Ia sama sekali tidak mau membuka mulutnya untuk bersuara. Sebut saja namanya S.
Melihat diamnya S, sejujurnya ada rasa bersalah yang mengusik hatiku. Aku merasa belum berhasil merangkulnya. Karena penasaran, aku mulai menelusuri latar belakangnya hingga menghubungi keluarganya. Dari sanalah, aku mendapatkan sebuah informasi yang membuat hatiku tersayat dan merasai kepedihan yang sulit dilukiskan dengan kata-kata.
“Nek, saya mau bertanya. Kenapa, ya, S tidak mau bersuara sama sekali?” tanyaku memulai perbincangan saat bertamu ke rumah sang nenek.
Sang nenek terdiam sejenak. Hening menyelimuti kami selama beberapa menit, sebelum akhirnya beliau mulai bercerita sebuah kisah yang begitu mengharukan, hingga tak sanggup kubendung air mataku.
“Sewaktu S berumur tiga tahun, ibu jari tangan kirinya masuk ke jari-jari roda sepeda, Bu,” jelas sang nenek sambil menyapu air matanya yang menetes.
Aku terdiam seketika, mengelus dada menahan rasa sesak yang merayap.
“Lalu bagaimanakah ceritanya, Nek?” tanyaku lirih.
Sang nenek pun melanjutkan penjelasannya. Aku mendengarkan bait demi bait cerita beliau dengan saksama. Tak ada satu kata pun yang terlewat, bahkan aku tak berani sedikit pun memotong pembicaraannya.
Di usianya yang masih sangat muda, S harus menanggung derita akibat kehilangan salah satu jarinya. Dari cerita sang nenek, sangat jelas terlihat bahwa sejak kecil S telah kehilangan semangat hidupnya. Ia mengalami trauma mendalam sebuah guncangan batin yang membekas hingga kini.
Dampak trauma itu terbawa saat ia mulai bersekolah. S enggan berteman karena merasa malu dan minder dengan kondisi fisiknya di hadapan kawan-kawannya.
“Ke mana orang tuanya, Nek?” tanyaku penasaran.
Rupanya, kedua orang tua S sangat sibuk bekerja. Ibunya turut membanting tulang membantu sang ayah mencari penghasilan tambahan, sebab penghasilan ayahnya saja tidak mencukupi kebutuhan keluarga. Sejak kecil, S praktis berada dalam asuhan dan kasih sayang sang nenek.
Mendengar seluruh kisah dari sang nenek, aku pun mulai memperkuat tekad di dalam diri.
“Akan kujadikan engkau, Nak, sebagai murid paling istimewa di kelasku,” janjiku tulus dalam hati.
Keesokan harinya, aku mulai mencoba mendekati S. Pada awalnya, ia bersikap enggan denganku. Jangankan berinteraksi, bahkan untuk sekadar menatap mataku pun ia tidak mau. Namun, aku sangat memaklumi hal itu. Aku sadar betul bahwa menyembuhkan trauma batinnya tidak sesederhana membalikkan telapak tangan. Aku harus siap berjuang dengan ekstra sabar.
Hari demi hari, aku terus setia mendampinginya. Setiap kali jam pelajaran usai dan bel pulang berbunyi, aku menahannya sebentar dan memintanya untuk belajar membaca bersamaku selama 10 menit.
Mendengar permintaanku, ia hanya memberikan sebuah isyarat anggukan kecil sebuah jawaban “ya” yang begitu singkat, tetapi sangat berarti bagiku.
Hari demi hari berlalu, bulan pun berganti. Akhirnya, aku mulai melihat benih-benih perubahan pada diri S. Sesekali aku mencoba melontarkan cerita-cerita lucu di depannya, dan betapa bahagianya hatiku ketika melihatnya tersenyum manis. Refleks, aku merangkul dan memeluknya hangat. Aku juga mengajak S untuk berfoto swafoto bersama, lalu membagikannya di status WhatsApp-ku. Aku yakin ia atau keluarganya pasti melihatnya, sebab aku menyimpan seluruh nomor kontak orang tua murid.
Saat mengajarinya berhitung, aku perlahan membimbing dan membesarkan hatinya.
“Jari-jari cantik milikmu ini harus kita gunakan untuk berhitung ya, Nak. Kakak tidak boleh menyembunyikan tangan yang indah ini lagi,” ucapku lembut.
Aku mengelus kepalanya dengan penuh kasih sayang. Kadang, setiap kali ia berhasil menyelesaikan tugasnya dengan baik, aku mendaratkan ciuman hangat di keningnya sebagai bentuk apresiasi.
Selain pendekatan personal itu, ada satu kebiasaan kecil yang selalu kulakukan di kelas. Setiap kali ada murid yang berulang tahun, aku selalu mengajak anak-anak yang lain untuk bersama-sama menyanyikan lagu Happy Birthday.
Tradisi hangat itu sudah lama kujalankan sejak awal mula aku mengabdikan diri sebagai seorang guru. Bukan tanpa alasan, aku ingin setiap muridku merasakan atmosfer kekeluargaan yang erat, akrab, dan penuh kepedulian di dalam kelas sebuah tempat di mana mereka merasa aman dan dihargai seutuhnya.
Akhirnya, S mulai menyadari betapa indahnya arti sebuah pertemanan. Aku menyaksikan sendiri perubahan-perubahan besar yang dialaminya. Ia yang tadinya mengurung diri dalam diam dan malu, kini mulai membuka diri. Bahkan, teman-teman sekelasnya dengan tulus merangkulnya dan dengan senang hati membantunya belajar membaca setiap kali jam istirahat tiba.
Melihat pemandangan indah itu, aku tersadar. Tidak ada satu pun manusia yang diciptakan oleh Sang Pencipta secara sia-sia. Setiap anak memiliki keistimewaan dan jalannya masing-masing untuk bersinar. Setiap langkah kecil yang kuambil dengan penuh kesabaran dan kasih sayang, ternyata membuahkan hasil yang berharga.
Aku makin paham bahwa menjadi seorang guru yang selalu dirindukan oleh murid-muridnya bukanlah hal yang mudah. Itu membutuhkan ketulusan, kesabaran tanpa batas, dan keteguhan untuk tidak menyerah pada kondisi apa pun.
Melihat senyum manis dan mendengar kembali suara lembut S adalah hadiah terindah dalam perjalanan karierku. Perjalanan ini kembali mengingatkanku pada alasan utama mengapa aku sangat ingin menjadi guru sejak kecil, bukan hanya untuk mengajar, tetapi untuk hadir, merawat jiwa-jiwa muda, dan menjadi tempat mereka merasa dicintai serta berharga.

Bagikan tulisan ini

Similar Posts

Tinggalkan Balasan