
LENTERA DUA DUNIA
Dingin malam di Tatar Galuh Ciamis belum sepenuhnya surut ketika lantunan dzikir dan gemericik air wudhu mulai memecah keheningan pesantren. Saat jarum jam belum genap menunjukkan pukul empat pagi, Nina sudah terbangun dari tidurnya. Di saat sebagian besar orang masih terlelap dalam selimut hangat, jemari gadis itu sudah sigap membentangkan sajadah. Qiyamul lail menjadi muara pertamanya untuk mengadu, mengisi daya jiwa yang harus bertarung di dua medan setiap harinya.
Nina adalah seorang santri salafi sekaligus mahasiswi di salah satu perguruan tinggi di Kabupaten Ciamis. Menggabungkan dua peran tersebut bukanlah perkara mudah. Pesantren tempatnya menimba ilmu memegang teguh aturan dan kedisiplinan yang ketat. Namun, mimpi Nina untuk meluaskan cakrawala berpikir di bangku kuliah tak surut begitu saja. Ia siap membayar mahal mimpinya itu dengan tenaga, waktu, dan keikhlasan.
Usai salat Subuh berjemaah dan mengaji kitab suci, perjuangan fisik Nina yang sebenarnya dimulai. Ia bergegas menuju Ndalem kediaman pimpinan pesantren. Sebagai santri yang ngabdi, tugasnya berderet menanti. Di dapur Bu Nyai, aroma nasi yang mengepul dan Sayur Sop menjadi saksi kecekatan tangannya. Nina memasak untuk keluarga Ndalem dan menyiapkan sebagian konsumsi santri, berlanjut mencuci piring, menyapu pekarangan, menjaga warung kecil milik pesantren, hingga sesekali mengasuh putra bungsu Bu Nyai.
“Teh Nin hatur nuhun ya, mangga lajeng bade kuliah mh hati-hati ya teh,” tutur Bu Nyai lembut seraya mengusap bahu Nina yang masih menyapu teras.
“Sami-sami, ceu. Abi bade angkat neda pidu’ana,” jawab Nina santun, menundukkan pandangan.
Tepat pukul enam pagi, raut wajah Nina berganti. Sarung dan mukena kini berganti dengan pakaian kuliah yang rapi dan bersahaja. Ia mengambil ponsel pintar yang selama ini tersimpan rapi di lemari khusus karena aturan pesantren melarang keras penggunaan alat elektronik dan membawa kendaraan bermotor bagi santri. Ponsel itu hanya diperbolehkan dipakai untuk keperluan tugas perkuliahan dan hanya boleh diaktifkan ketika ia berada di luar gerbang pesantren.
Perjalanan ke kampus adalah babak perjuangan lainnya. Nina harus berjalan kaki menyusuri jalan setapak desa menuju jalan raya untuk menunggu angkutan umum (angkot). Tak jarang, angkot yang ditunggu penuh sesak atau lambat datang. Di dalam angkot yang berdesakan itu, jemarinya kerap kali membuka kembali catatan perkuliahan atau membuka kembali hafalan matan Alfiyah yang belum sempat diulang.
Di kampus, Nina bukanlah mahasiswa yang santai. Ia sadar betapa terbatasnya waktu yang ia miliki dibanding teman-temannya. Ketika mahasiswa lain bersantai di kafe setelah jam kuliah selesai, Nina memanfaatkan setiap detik jeda untuk menggunakan internet, mengerjakan tugas perkuliahan di perpustakaan, atau berdiskusi cepat dengan dosen. Ia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan kuliah hanya karena menyandang status santri, begitupun sebaliknya.
“Nin, nanti malam nongkrong yuk? Ada tugas kelompok nanti kita kerjain di cafe,” ajak kawan sekelasnya suatu sore.
Nina tersenyum tulus lalu menggeleng pelan. “Maaf ya, teman-teman. Sebelum Magrib aku harus sudah sampai di pondok. Ada setoran hafalan dan pengabdian di Ndalem yang harus diselesaikan.” Teman-temannya mengangguk paham, menaruh rasa hormat pada keteguhan hati Nina.
Sore hari, begitu angkot mengantarkannya kembali ke depan gerbang pesantren, Nina menyimpan kembali ponselnya. Dunia digital ia tinggalkan di luar pagar, dan ia kembali melangkah masuk sebagai seorang santri yang haus akan keberkahan ilmu agama. Malam hari diisi dengan menyimak kajian kitab kuning dari Abah Kyai hingga larut.
Lelah? Sangat. Tak jarang matanya berat menahan kantuk di sela-sela mengaji, atau jemarinya pegal karena seharian bergelut dengan pena, sapu, dan wajan. Namun setiap kali rasa lelah itu datang menguji, Nina teringat nasihat Abah Kyai:
“Ilmu tanpa pengabdian akan kehilangan berkahnya, dan keberkahan tanpa perjuangan tak akan pernah membuahkan kemuliaan.”
Nina sadar, hidup di dua dunia bukan tentang membagi diri menjadi dua bagian yang terpisah, melainkan menyatukan keduanya dalam satu niat luhur : beribadah dan menuntut ilmu. Di antara riuhnya dunia kampus Biru Ciamis dan tenang sunyinya tembok pesantren salafi, Nina sedang menenun masa depannya sendiri ; sebuah masa depan yang diterangi oleh dua lentera sekaligus.






