
JEJAK EDELWEISS DI TAPAK PENGABDIAN
Aroma tanah basah yang diguyur hujan sore selalu punya cara ajaib membawaku pulang ke tahun 2009. Di bawah naungan lorong-lorong tua kampus almamater kami, suara desir angin terasa begitu akrab. Di sinilah semuanya bermula. Di antara tumpukan buku perpustakaan yang lapuk dan riuh rendah ruang kuliah, cinta kami tumbuh tanpa banyak selebrasi. Sederhana, bersahaja, namun memeluk impian yang melitup jauh ke depan.
Ujian kesetiaan itu datang tanpa permisi pada tahun 2013, tatkala toga kelulusan akhirnya kami kenakan. Saat banyak orang memburu kenyamanan kota besar, laki-laki yang kini menjadi suamiku memantapkan langkah mengambil jalan sunyi. Ia memilih mengajar di wilayah 3T-Terdepan, Terluar, dan Tertinggal. Demi pemerataan pendidikan bangsa, katanya dengan binar mata yang tak pernah padam. Sementara aku, memilih bertahan di kampus yang sama untuk melanjutkan studi jenjang magister.
Dua tahun berjalan dalam rentang kerinduan yang panjang. Sinyal ponsel yang kumat-kumatan di pulau terluar menjadi santapan harian. Kami belajar mengeja rindu lewat patahan kata yang terlambat sampai. Namun, bentang jarak tak pernah sanggup mengikis rasa percaya. Takdir membawanya kembali pada tahun 2015 dalam kepastian yang utuh, hingga kami mantap mengikat janji suci di pelaminan pada tahun 2016. Kami mengawali hidup baru di rumah orang tua, menata hari demi hari dalam balutan kesederhanaan.
Rupanya, panggilan jiwa seorang pendidik tak pernah benar-benar padam. Tahun 2017, pintu penugasan daerah 3T kembali memanggil suamiku. Kembali kami harus bertaruh dengan jarak. Hampir setahun memendam sepi dalam perpisahan temporary, keberanianku akhirnya memuncak di penghujung tahun. Aku mengepak koper, memeluk erat cita-citaku, dan menyusulnya ke pulau jauh. Aku tak ingin lagi menjadi penonton dari jauh; aku ingin hadir utuh di setiap helai perjuangannya.
Di tanah seberang yang asing itu, keajaiban bersahaja dianugerahkan. Aku dipercaya mengandung buah hati pertama kami yang lahir dengan selamat pada tahun 2018. Hidup kami di sana jauh dari kata mewah. Kami diberi tempat tinggal berupa rumah dinas bekas gudang yang terbengkalai. Dindingnya kusam, sudut-sudutnya berdebu, dan catnya telah lama mengelupas.
Bersama-sama, kami menyapu sisa-sisa jelak, mengamplas dinding, dan memugar sisa bangunan tua itu hingga bertransformasi menjadi sebuah kamar hunian yang hangat. Gudang tua itu menjelma menjadi saksi bisu paling jujur. Di sanalah tawa mungil bayi kami bergema, memecah kesunyian belantara pulau yang melingkupi malam-malam kami. Kehangatan itu makin melimpah saat anak kedua kami lahir pada tahun 2020.
Namun, di tengah riuh tawa anak-anak dan kesibukan mendampingi tugas suami, ada bisikan kecil dari dalam dada yang makin lama makin nyaring. Gelar S2 yang kuraih dengan peluh dan air mata tak boleh mengendap begitu saja menjadi tumpukan ijazah di dalam lemari. Ilmu itu harus mengalir.
Pada tahun 2022, aku memberanikan diri mengetuk pintu sebuah SMP di kecamatan tempat kami tinggal. Berbekal map lamaran dan keteguhan hati, aku melangkah. Pintu itu terbuka lebar. Aku diterima dan resmi melangkah ke depan kelas sebagai seorang guru.
Namun, dunia nyata tak selalu berwujud dongeng indah. Beberapa kali mengikuti seleksi CPNS, takdir belum berpihak padaku. Gugur dan gagal menjadi kawan lama yang mengetes ketahanan mental. Bahkan hingga kini, karena belum pernah terdaftar dalam seleksi PPPK, statusku tertahan sebagai guru honorer-bahkan belum tersentuh status PPPK paruh waktu.
Ada hari-hari di mana rasa sedih, cemas, dan gundah merayap pelan di sudut hati. Rasa tidak adil kadang membisikkan keputusasaan saat melihat kualifikasi magisterku harus berbenturan dengan rumitnya dinding birokrasi. Namun, setiap kali menatap mata anak-anak didik di kelas-mata yang berbinar penuh rasa ingin tahu dan harapan-kesedihan itu luluh. Aku memilih ikhlas. Aku memilih menyalakan api daripada mengutuki kegelapan.
Di tengah pesatnya era digital dan dinamisnya perubahan kebijakan pemerintah, aku menolak untuk stagnan. Aku berinovasi, mempelajari metode pembelajaran modern, dan merajut teknologi ke dalam ruang kelas bersahaja kami. Status honorer tidak pernah mengurangi kualitas cintaku pada ilmu dan murid-muridku. Mengabdi bukan tentang seberapa tebal amplop di akhir bulan atau status kepegawaian di atas kertas; ia adalah tentang jejak kebaikan yang kita tinggalkan di jiwa manusia-manusia muda.
Rasa terima kasih yang mendalam selalu tercurah untuk sekolah tempatku bertugas, yang telah memberiku ruang untuk bertumbuh dan memberi manfaat. Perjalanan panjang dari lorong kampus tua tahun 2009, garis LDR yang meliuk, dinding gudang bekas yang diubah jadi kamar hangat, hingga papan tulis SMP saat ini adalah untaian takdir yang membentuk siapa diriku hari ini.
Aku akan terus melangkah. Mengajar dengan hati, merawat cinta keluarga, dan memelihara dedikasi dalam setiap helai pengabdian ini-sebab di dalam kelas-kelas sederhana itulah, masa depan bangsa ini sedang ditenun.(NASAVA_26).






