KALAH SAMA BOCAH

Katanya, menjadi guru itu pekerjaan mulia karena tugasnya mencerdaskan kehidupan bangsa. Betul sekali. Namun, ada satu hal yang jarang dibahas dalam seminar pendidikan, guru SD juga membutuhkan kecerdasan tingkat tinggi untuk memahami jalan pikiran anak-anaknya. Bagaimana tidak? Kita bisa menghabiskan dua jam menyusun soal ulangan, memeriksa ejaan, memastikan kunci jawaban benar, bahkan menghitung jumlah soal sampai tiga kali. Namun, ketika soal dibagikan, masih ada saja yang bertanya, “Bu, ini dikerjakan pakai pensil atau pakai pikiran?”
Kadang aku ingin menjawab, “Pakai pikiran, Nak. Kalau pakai sandal, nanti Ibu bingung menilainya.”
Tapi tentu saja, sebagai guru yang profesional, aku hanya tersenyum. Senyum yang sudah kulatih bertahun-tahun, terutama untuk menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya sebenarnya sudah terpampang jelas di depan mata.
Menjadi guru kelas dua SD juga istimewa. Kita mengajarkan anak-anak membaca, menulis, dan berhitung, sambil diam-diam belajar mengendalikan emosi sendiri. Sebab, sebelum anak-anak berhasil menyelesaikan soal nomor satu, biasanya gurunya sudah lebih dulu diuji dengan sepuluh pertanyaan yang tidak ada di kisi-kisi.
Pagi itu, aku membagikan lembar soal kepada anak-anak kelas dua. Mereka langsung duduk rapi. Ada yang menggenggam pensil dengan penuh percaya diri, ada yang membaca soal sambil mengangguk-angguk, dan ada pula yang memandang lembar ulangan seperti sedang membaca surat dari planet lain.
“Anak-anak, kerjakan sendiri-sendiri, ya. Tidak boleh bertanya kepada teman.”
“Baik, Buuu!”
Aku berjalan mengelilingi kelas. Suasana cukup tenang. Aku mulai merasa bangga. Rupanya anak-anak sudah semakin mandiri. Lima menit kemudian, Bima mengangkat tangan.
“Bu!”
“Ya?”
“Ini boleh dikerjakan?”
Aku mendekat. “Ya, memang untuk apa kertasnya dibagikan kalau bukan untuk dikerjakan?”
Ia tersenyum malu. “Kirain cuma dibaca, Bu.”
Aku kembali ke meja sambil menggigit bibir, menahan tawa.
Belum selesai satu masalah, tangan lain terangkat.
“Bu, nomor satu jawabannya apa?”
“Kalau Ibu beri tahu jawabannya, nanti Ibu yang ikut ulangan.”
Kina berpikir sebentar. “Kalau Ibu ikut ulangan, berarti Ibu dapat nilai juga?”
“Dapat.”
“Kalau nilainya seratus, nanti Ibu naik kelas, Bu?”
Aku terdiam. Anak ini sedang mengerjakan ulangan atau merencanakan masa depan karierku? Aku melanjutkan berkeliling. Di bangku belakang, kulihat Varend menulis dengan sangat cepat. Tangannya bergerak lincah, wajahnya serius, dan sesekali ia mengangguk seperti ilmuwan yang baru menemukan rumus penting. Aku mendekat.
“Wah, cepat sekali. Sudah sampai nomor berapa?”
“Nomor lima, Bu.”
Aku melirik lembar jawabannya. Nomor satu sampai empat kosong.
“Lho, nomor satu sampai empat mana?”
“Belum bisa, Bu. Jadi saya kerjakan yang mudah dulu.”
Aku mengangguk. Strategi yang masuk akal.
“Bagus. Nanti yang belum bisa dikerjakan lagi.”
Ia tersenyum lega. “Iya, Bu. Kalau tetap tidak bisa, berarti memang bukan rezeki saya.”
Aku buru-buru berbalik sebelum tawaku terdengar satu kelas.
Beberapa menit kemudian, aku melihat dua anak saling melirik. Aku mendekat dengan wajah serius.
“Sedang apa kalian?”
“Enggak apa-apa, Bu.”
“Kenapa saling melihat?”
“Cuma memastikan teman saya masih hidup, Bu.”
Aku mengernyit. “Memangnya kenapa?”
“Dari tadi diam terus.”
Aku memijat kening. Anak-anak ini memang luar biasa. Bahkan saat ulangan pun mereka masih sempat melakukan pemeriksaan kondisi teman. Aku mengingatkan mereka agar kembali fokus. Setelah itu, suasana lumayan tenang sampai terdengar suara kecil dari sudut kelas.
“Bu, saya sudah selesai!”
Aku menghampiri Ziyan yang mengangkat lembar jawabannya tinggi-tinggi.
“Cepat sekali. Coba periksa lagi sebelum dikumpulkan.”
Ia menunduk memeriksa jawabannya. Beberapa detik kemudian, ia mengangkat tangan lagi.
“Sudah, Bu!”
Aku mengambil kertasnya. Semua nomor sudah diisi.
“Bagus. Sekarang duduk dengan tenang, ya.”
Ia mengangguk, lalu berbisik, “Bu, boleh tidur?”
Aku menatapnya.
“Kalau tidur, nanti kalau teman-teman selesai, kamu malah bermimpi sedang mengerjakan soal.”
Ia tersenyum. “Enggak apa-apa, Bu. Yang penting di mimpi jawabannya benar.”
Aku menyerah. Bukan menyerah sebagai guru, tentu saja. Aku hanya sedang berusaha mempertahankan kewarasan. Setelah semua anak mengumpulkan lembar jawaban, aku mulai memeriksanya. Awalnya berjalan lancar. Sampai aku menemukan sebuah jawaban yang membuatku berhenti menulis nilai.
Pertanyaannya berbunyi, “Sebutkan tiga contoh hewan yang hidup di air.”
Jawaban seorang anak: ikan, udang, dan Bu Guru. Aku membaca jawaban itu sekali lagi.
Ikan. Udang. Bu Guru.
Aku memanggilnya.
“Bim, kenapa Bu Guru kamu masukkan sebagai hewan yang hidup di air?”
Bima menjawab tanpa ragu, “Soalnya kalau hujan, Bu Guru sering kehujanan. Berarti hidup di air, Bu.”
Aku menutup wajah dengan lembar jawabannya. Bahuku bergetar menahan tawa.
Besoknya, saat membagikan hasil ulangan, aku mengingatkan anak-anak agar belajar lebih giat. Aku menjelaskan kesalahan mereka dengan sabar, termasuk jawaban yang memasukkan profesiku ke dalam kelompok hewan air.
“Anak-anak, Ibu ini manusia, bukan hewan air.”
Mereka tertawa.
Seorang anak di barisan depan mengangkat tangan.
“Kalau Ibu bukan hewan air, kenapa kemarin bilang Ibu sedang berenang di lautan pekerjaan?”
Aku mematung. Ternyata, kalimat-kalimat yang kuucapkan saat mengeluh tentang pekerjaan pun mereka simpan baik-baik. Aku akhirnya ikut tertawa. Tawa yang lepas, tanpa perlu berpura-pura tegas.

Begitulah menjadi guru. Kita menyiapkan soal untuk menguji pengetahuan anak-anak, tetapi kadang-kadang justru merekalah yang menguji kesabaran, logika, dan kemampuan kita menahan tawa.
Aku tidak tahu berapa banyak materi yang mereka ingat dari ulangan itu. Namun, aku yakin mereka akan lebih lama mengingat cerita Bu Guru yang hampir masuk kategori hewan air.
Dan kalau suatu hari ada yang bertanya kepadaku bagaimana rasanya menjadi guru SD, aku akan menjawab dengan sederhana.
“Seru. Kita dibayar untuk mengajar, tetapi setiap hari mendapat bonus kejutan yang tidak tercantum dalam surat tugas.”
Satu yang pasti, sejak kejadian itu, aku selalu memeriksa soal ulangan dengan lebih teliti. Bukan hanya memastikan jawabannya benar. Aku juga harus memastikan tidak ada pertanyaan yang tanpa sengaja membuatku menjadi salah satu pilihan jawaban.

Bagikan tulisan ini

Similar Posts

Tinggalkan Balasan