
Tujuh Belas Tahun Bukanlah Waktu yang Singkat
Sejak tahun 2009, saya memilih untuk mengabdikan diri sebagai pendidik di RA Nurul Huda. Sepuluh tahun di antaranya, saya dipercaya menjadi kepala RA. Selama perjalanan itu, saya belajar bahwa menjadi guru bukan hanya tentang mengajar anak mengenal huruf, angka, doa, dan berbagai pengetahuan. Menjadi guru adalah tentang kesediaan untuk terus hadir, berjuang, dan memberikan yang terbaik meskipun keadaan tidak selalu mudah.
Saya adalah Umul Khajjah. Bagi saya, RA Nurul Huda bukan sekadar tempat bekerja. Sekolah ini adalah bagian dari perjalanan hidup saya. Di tempat inilah saya tumbuh bersama anak-anak, belajar bersama para guru, dan menyaksikan bagaimana sebuah lembaga pendidikan dapat berkembang ketika banyak hati memilih untuk bergerak bersama.
Namun, perjalanan itu tidak selalu berjalan mulus.
Dahulu, RA Nurul Huda menempati bangunan yang sudah tua. Kondisi bangunan semakin lama semakin membutuhkan perhatian. Apalagi, saat hujan turun, atap bocor dan banjir mulai menggenangi halaman sekolah. Lahan yang tersedia juga terbatas sehingga sekolah sulit berkembang.
Sebagai seorang guru dan kepala RA, kondisi tersebut membuat hati saya tidak tenang. Saya membayangkan anak-anak yang setiap hari datang untuk belajar. Mereka membutuhkan tempat yang aman dan nyaman untuk bermain, belajar, dan tumbuh. Saya kemudian menyadari bahwa mengeluhkan keadaan tidak akan mengubah apa pun. Jika ingin melihat perubahan, kami harus berani memulainya. Dari situlah perjuangan pembangunan sekolah dimulai.
Tentu saja, saya tidak berjalan sendirian. Ada dewan guru yang terus memberikan dukungan. Ada panitia pembangunan yang bekerja dengan penuh tanggung jawab. Ada wali murid yang ikut membantu. Ada pula masyarakat yang memberikan dukungan. Masing-masing mengambil bagian sesuai kemampuan.
Saya belajar bahwa sebuah sekolah tidak akan tumbuh hanya karena kerja satu orang. Sekolah tumbuh karena kebersamaan, gotong royong, kepedulian, dan keyakinan bahwa apa yang sedang diperjuangkan hari ini adalah untuk masa depan anak-anak.
Prosesnya tidak selalu mudah. Ada banyak hal yang harus dipikirkan dan diselesaikan. Namun, setiap kali merasa lelah, saya kembali mengingat alasan mengapa perjuangan ini dimulai. Anak-anaklah alasan kami untuk terus melangkah.
Hingga akhirnya, perjuangan panjang itu membuahkan hasil. RA Nurul Huda memiliki gedung sekolah baru dengan lima ruang kelas.
Bagi sebagian orang, mungkin itu hanya sebuah bangunan. Namun, bagi saya, bangunan itu adalah bukti bahwa sebuah harapan dapat menjadi kenyataan ketika diperjuangkan bersama. Setiap ruang kelas membawa cerita tentang doa dan kerja keras. Ada kerja keras para guru, perjuangan panitia pembangunan, dukungan wali murid, kepedulian masyarakat, dan harapan agar anak-anak mendapatkan pendidikan dalam lingkungan yang lebih baik.
Perubahan setelah memiliki gedung baru pun kami rasakan. Sekolah menjadi lebih aman dan nyaman bagi anak-anak. Guru dapat melaksanakan pembelajaran dengan lebih baik. Anak-anak memiliki ruang yang lebih layak untuk belajar dan bermain. Hal yang membuat kami semakin bersyukur adalah jumlah siswa yang juga mengalami peningkatan.
Bagi saya, peningkatan jumlah siswa bukan sekadar angka. Itu adalah tanda bahwa kepercayaan masyarakat kepada sekolah mulai tumbuh. Kepercayaan tersebut menjadi tanggung jawab baru bagi kami untuk terus menjaga kualitas pendidikan.
Memiliki gedung yang baik saja tidak cukup. Sekolah juga harus mampu memberikan pendidikan yang baik. Di sinilah saya semakin memahami arti menjadi seorang guru. Anak usia dini tidak hanya membutuhkan pengetahuan. Mereka membutuhkan kasih sayang, keteladanan, kesempatan untuk mencoba, dan orang dewasa yang percaya kepada kemampuan mereka.
Karena itu, dalam mendampingi anak-anak, saya selalu berusaha mengajarkan hal-hal sederhana yang memiliki makna besar, seperti belajar mandiri, berani mencoba, mau berbagi, menghormati guru dan orang tua, menjaga kebersihan, berani tampil, serta tidak takut melakukan kesalahan. Saya percaya bahwa karakter tidak terbentuk dalam satu hari. Karakter tumbuh dari kebiasaan kecil yang dilakukan terus-menerus.
Sebagai guru RA, saya juga belajar bahwa setiap anak memiliki keunikan. Ada yang cepat beradaptasi, ada yang membutuhkan waktu. Ada yang percaya diri, ada pula yang masih malu-malu. Ada yang mudah mengikuti kegiatan, ada pula yang membutuhkan pendampingan lebih. Tugas kami bukan membuat semua anak menjadi sama. Tugas kami adalah membantu setiap anak berkembang sesuai potensinya.
Selama 17 tahun mengajar, saya telah melihat begitu banyak perubahan pada diri anak-anak. Ada anak yang datang dengan rasa malu, kemudian tumbuh menjadi anak yang percaya diri. Ada yang awalnya selalu meminta bantuan, kemudian belajar melakukan sesuatu sendiri. Ada pula yang awalnya sulit berinteraksi, kemudian mulai memiliki teman dan berani berkomunikasi. Perubahan-perubahan kecil seperti itulah yang membuat saya selalu bersyukur menjadi guru.
Mungkin bagi orang lain, itu bukan sebuah prestasi besar. Namun, bagi seorang guru, melihat seorang anak berkembang adalah kebahagiaan yang tidak ternilai.
Kini, ketika melihat RA Nurul Huda, saya tidak hanya melihat gedung baru dan bertambahnya jumlah siswa. Saya melihat perjalanan selama 17 tahun. Saya melihat begitu banyak tangan yang pernah membantu.
Saya melihat para guru yang tetap bertahan, panitia pembangunan yang bekerja bersama, wali murid dan masyarakat yang memberikan dukungan, serta anak-anak yang menjadi alasan mengapa semua perjuangan itu layak dilakukan.
Saya tidak tahu akan menjadi apa anak-anak yang hari ini kami didik ketika mereka dewasa nanti. Mungkin mereka akan menjadi dokter, guru, pengusaha, pemimpin, atau menjalani profesi yang belum pernah mereka bayangkan. Namun, saya berharap ada bekal yang selalu mereka bawa dari RA Nurul Huda: akhlak yang baik, kemandirian, keberanian, rasa percaya diri, dan kecintaan untuk terus belajar.
Mungkin suatu hari nanti, mereka tidak mengingat semua pelajaran yang pernah kami berikan. Namun, saya berharap mereka mengingat bahwa pernah ada guru yang percaya kepada mereka, mendampingi mereka ketika belajar, menyemangati mereka ketika gagal, bahagia ketika melihat mereka berhasil, dan selalu mendoakan kebaikan untuk masa depan mereka.
Setelah 17 tahun mengajar dan 10 tahun dipercaya memimpin RA Nurul Huda, saya semakin memahami bahwa menjadi guru bukanlah perjalanan yang selalu mudah. Ada lelah, ada tantangan, dan ada saat-saat ketika kita harus kembali menguatkan diri. Namun, ada pula kebahagiaan yang membuat semua perjuangan terasa berarti.
Kini, jika saya ditanya mengapa saya masih memilih menjadi guru, jawabannya sederhana. Saya percaya bahwa setiap anak memiliki masa depan yang layak diperjuangkan. Selama masih ada anak-anak yang membutuhkan pendampingan, saya ingin terus hadir, terus belajar, terus mengabdi, dan terus menanam harapan.
Sebab, menjadi guru bukan tentang seberapa besar nama kita dikenal, bukan pula tentang seberapa banyak penghargaan yang kita terima. Menjadi guru adalah tentang jejak yang kita tinggalkan di hati anak-anak.
Saya mungkin hanya seorang guru, tetapi saya percaya bahwa satu guru dapat menyalakan satu cahaya. Ketika cahaya itu tumbuh di hati seorang anak, mungkin suatu hari nanti cahaya tersebut akan menerangi banyak kehidupan lainnya.
Itulah perjalanan saya selama menjadi guru: belajar untuk tidak menyerah, belajar untuk terus percaya, dan belajar bahwa setiap perjuangan untuk anak-anak selalu memiliki arti.






