Kejebur Jadi Guru TK: Perahu Dibilang Mangkok, Perjuangan Tak Pernah Berhenti

Kejebur Jadi Guru TK: Perahu Dibilang Mangkok, Perjuangan Tak Pernah Berhenti

Saya tidak pernah membayangkan akan menjadi guru TK. Awalnya, saya hanya mengajar bimbingan belajar atau bimbel untuk anak-anak SD. Latar belakang pendidikan saya adalah Manajemen, dan saat itu saya merasa sudah cukup terbiasa menghadapi anak-anak. Saya pikir, mengajar anak TK juga tidak akan jauh berbeda.

Ternyata, saya salah besar!

Semua bermula ketika anak sulung saya mulai sekolah di RA. Saat itu, kepala sekolah RA tempat anak saya belajar meminta saya untuk membantu mengajar. Saya pun mencoba menjalaninya. Tanpa sadar, saya seperti kejebur ke dunia pendidikan anak usia dini. Hahaha!

Mengajar anak SD dan anak TK ternyata sangat berbeda. Anak TK punya dunia sendiri, cara berpikir sendiri, dan kejujuran yang kadang membuat gurunya tidak bisa berkata-kata.

Saya masih ingat ketika sedang bercerita tentang Nabi Nuh. Supaya anak-anak lebih mudah memahami cerita, saya mencoba menggambar sebuah perahu di papan tulis. Dalam pikiran saya, gambar itu sudah cukup mewakili bentuk perahu.

Namun, tiba-tiba seorang anak berkata dengan polosnya, “Itu mangkok ya, Bu Guru?”

Hahaha! Niat hati menggambar perahu Nabi Nuh, malah dikira mangkok!

Pengalaman itu membuat saya sadar bahwa anak-anak TK sangat jujur dan apa adanya. Kalau menurut mereka gambar kita tidak sesuai, mereka akan langsung protes. Mereka tidak peduli apakah gurunya sudah berusaha keras atau belum. Yang mereka sampaikan adalah apa yang benar-benar mereka lihat dan pikirkan.

Dari anak-anak kecil itulah saya mulai belajar bahwa menjadi guru TK bukan hanya tentang mengajar membaca, menulis, atau berhitung. Ada banyak hal yang harus dipelajari, mulai dari memahami perasaan anak, menghadapi tingkah mereka yang beragam, sampai membantu mereka belajar mandiri.

Bahkan, urusan toilet pun menjadi bagian dari pengalaman saya. Pagi-pagi, ketika kegiatan belajar belum dimulai, terkadang ada anak yang belum terbiasa menggunakan toilet sendiri. Akhirnya, Bu Guru harus siap membantu. Baru mau membuka kegiatan, sudah ada kejutan. Begitulah menjadi guru TK. Rencana pembelajaran boleh disusun dengan rapi, tetapi kenyataan di kelas sering kali punya cerita sendiri.

Di balik semua kelucuan itu, ternyata ada perjuangan yang tidak selalu terlihat oleh orang lain.

Ketika saya mulai menjalani peran sebagai guru, kehidupan saya tidak hanya tentang sekolah dan murid-murid. Saya juga seorang ibu yang memiliki anak sendiri. Saya harus memikirkan kebutuhan anak, mengurus rumah, menjalankan pekerjaan, dan pada saat yang sama mulai memikirkan pendidikan saya agar sesuai dengan bidang pekerjaan.

Keadaan semakin menantang karena saat itu saya dan almarhum suami menjalani LDM, atau hubungan jarak jauh. Tidak mudah menjalani hari-hari ketika pasangan berada jauh dari kita, sementara tanggung jawab sebagai ibu dan guru tetap harus dijalankan.

Ada saat-saat ketika saya harus pandai membagi waktu antara mengajar, kuliah, dan mengurus anak sendiri. Ketiganya sama-sama membutuhkan perhatian. Di sekolah, saya harus hadir untuk anak-anak didik. Di bangku kuliah, saya harus berusaha memahami materi dan menyelesaikan tugas. Di rumah, ada anak saya sendiri yang juga membutuhkan waktu, perhatian, dan kasih sayang dari ibunya.

Kadang-kadang, rasanya waktu berjalan begitu cepat, sementara pekerjaan seperti tidak ada habisnya. Saya harus belajar mengatur tenaga, pikiran, dan perasaan. Tidak semua hal bisa berjalan sesuai rencana. Ada lelah yang harus ditahan, ada tanggung jawab yang harus diselesaikan, dan ada keadaan yang mengharuskan saya tetap melangkah meskipun semuanya terasa tidak mudah.

Saya tidak ingin mengatakan bahwa saya selalu kuat. Ada kalanya saya merasa kewalahan. Namun, saya berusaha menjalani semuanya satu per satu. Saya percaya bahwa setiap keputusan yang saya ambil memiliki alasan, dan setiap perjuangan yang saya jalani adalah bagian dari perjalanan hidup saya.

Pada usia 34 tahun, saya akhirnya memutuskan untuk kuliah lagi mengambil jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI). Sebelumnya, saya lulusan Manajemen. Karena ijazah tersebut tidak linear dengan pekerjaan saya sebagai guru TK, saya perlu menempuh pendidikan yang sesuai.

Awalnya, memang tuntutan linearitas ijazah menjadi alasan utama saya kembali kuliah. Saya harus memulai lagi ketika usia saya sudah tidak muda seperti mahasiswa yang baru lulus SMA. Ada tugas yang harus dikerjakan, materi yang harus dipahami, dan waktu yang harus dibagi di tengah tanggung jawab lainnya.

Namun, semakin saya menjalani semuanya, semakin saya menyadari bahwa kuliah bukan hanya tentang mendapatkan ijazah. Saya juga sedang memperluas pengetahuan, memperbaiki diri, dan belajar menjadi pendidik yang lebih baik.

Di dunia pendidikan, saya bertemu dengan banyak anak yang memiliki karakter berbeda. Ada anak yang mudah memahami pelajaran, ada yang membutuhkan bantuan lebih banyak, ada yang pendiam, dan ada pula yang selalu punya cerita lucu setiap hari. Mereka semua meninggalkan kesan tersendiri dalam perjalanan saya.

Saya belajar bahwa setiap anak datang ke sekolah dengan cerita dan keadaan keluarga yang berbeda. Sebagai guru, saya tidak selalu mengetahui apa yang sedang mereka alami di rumah. Karena itu, saya ingin belajar untuk lebih sabar, lebih peka, dan tidak terburu-buru menilai mereka.

Menjadi guru ternyata juga mengajarkan saya tentang cinta. Bukan hanya cinta kepada anak sendiri, tetapi juga kasih sayang kepada anak-anak yang setiap hari dipercayakan kepada saya. Ada kebahagiaan sederhana ketika melihat mereka mulai bisa melakukan sesuatu secara mandiri, berani mencoba, atau memahami hal yang sebelumnya terasa sulit.

Ada pula perjuangan yang tidak mudah, pertemuan dengan orang-orang yang memberi pelajaran hidup, dan kenangan yang akan terus melekat meskipun waktu berjalan.

Dalam perjalanan hidup, saya juga harus menghadapi kehilangan. Kepergian almarhum suami menjadi bagian dari kisah hidup yang tidak mudah untuk saya ceritakan. Ada kenangan dan perasaan yang tetap memiliki tempat tersendiri dalam hati. Kehilangan membuat saya semakin memahami bahwa hidup tidak selalu berjalan seperti yang kita rencanakan. Ada hal-hal yang bisa kita persiapkan, tetapi ada pula kenyataan yang harus kita hadapi dengan segala keterbatasan diri.

Kini, ketika melihat kembali perjalanan saya, saya menyadari bahwa menjadi guru bukan sekadar profesi. Ada kisah keluarga di dalamnya, ada pengorbanan waktu, ada perjuangan menuntut ilmu, ada cinta kepada anak-anak, dan ada kehilangan yang ikut membentuk diri saya.

Saya yang awalnya hanya mengajar bimbel anak SD, kemudian diminta membantu mengajar di RA anak sendiri, akhirnya menemukan bagian penting dalam perjalanan hidup saya sebagai guru TK. Perjalanan yang awalnya tidak direncanakan justru membawa saya pada banyak pengalaman yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya.

Dan kalau suatu hari saya mengingat kembali semua ini, mungkin saya akan tersenyum ketika teringat gambar perahu Nabi Nuh yang dibilang mirip mangkok. Saya akan mengingat anak-anak yang polos, pagi-pagi yang penuh kejutan, tugas kuliah yang harus diselesaikan, dan hari-hari ketika saya berusaha membagi diri untuk semua tanggung jawab saya.

Saya tidak tahu apakah perjalanan saya bisa disebut luar biasa. Saya hanya tahu bahwa saya sudah berusaha menjalani setiap peran yang dipercayakan kepada saya, dengan segala kekurangan dan kemampuan yang saya miliki.
Bagi saya menjadi guru adalah perjalanan untuk terus belajar. Belajar dari anak – anak, belajar dari keluarga, belajar dari perjuangan dan belajar menerima bahwa tidak semua cerita hidup berakhir seperti yang kita harapkan.

Pada akhirnya, saya percaya bahwa setiap pertemuan meninggalkan pelajaran, setiap perjuangan membentuk diri, dan setiap kenangan memiliki tempatnya sendiri. Termasuk perjalanan saya yang kejebur menjadi guru TK, lalu kembali kuliah pada usia 34 tahun.

Sebuah perjalanan yang tidak selalu mudah, tetapi akan selalu menjadi bagian dari cerita hidup saya.

Bagikan tulisan ini

Similar Posts

Tinggalkan Balasan