
Kelas Kecil di Tepi TPA Cipeucang
Seorang relawan berdiri di ujung meja kayu. Ia memegang selembar kertas hijau dan melipatnya perlahan. Belasan anak mengelilinginya. Ada yang berdiri. Ada yang bersandar di tepi meja sambil menopang dagu. Seorang anak laki-laki berkaos merah tersenyum kecil saat lipatan pertama selesai.
Di atas meja tergeletak dua botol lem, dua gunting, sekotak krayon, dan potongan kertas merah muda. Belasan anak berbagi alat yang sama. Mereka menunggu giliran.
Ruangan itu kecil. Cat hijaunya mengelupas di banyak bagian. Sebuah kipas angin berdiri di sudut. Pintunya terbuka ke gang sempit di luar. Tidak ada kursi. Tidak ada papan tulis. Namun, setiap minggu ruangan ini terisi anak-anak yang datang untuk belajar.
Di dekat pintu, seorang perempuan dewasa duduk bersila di lantai. Beberapa anak kecil duduk di sekitarnya. Ia tidak ikut mengajar. Ia hanya memperhatikan dari jauh. Kehadirannya memberi pesan penting bagi anak-anak itu: ada orang dewasa yang peduli pada apa yang mereka pelajari. Penelitian pendidikan secara konsisten menunjukkan hal yang sama. Anak lebih bertahan belajar ketika orang dewasa di sekitarnya ikut terlibat, meski hanya dengan hadir dan bertanya tentang apa yang mereka kerjakan hari itu.
Inilah Bimbel Hutan Besar Cipeucang, kelompok belajar gratis di sekitar TPA Cipeucang, Serpong, Tangerang Selatan.
Anak-Anak yang Tinggal di Dekat Tumpukan Sampah
Bimbel ini mendampingi sekitar 50 anak berusia 4 sampai 13 tahun. Mereka tinggal di permukiman yang berdekatan dengan tempat pembuangan sampah kota. Sekitar 25 anak sudah bersekolah. Sekitar 25 anak lainnya belum pernah duduk di bangku sekolah.
Penyebab utamanya adalah ekonomi. Sekolah negeri memang tidak memungut uang pendaftaran. Namun, orang tua tetap harus membeli seragam, sepatu, buku tulis, dan membayar ongkos perjalanan. Bagi keluarga dengan penghasilan harian yang tidak tetap, biaya itu sering kalah penting dibanding kebutuhan makan.
Akibatnya, sebagian anak usia sekolah dasar belum bisa membaca. Mereka belum mengenal huruf. Mereka belum terbiasa memegang pensil. Tanpa bantuan, jarak antara mereka dan anak seusianya akan terus melebar setiap tahun.
Pendidikan Adalah Hak, Bukan Hadiah
Pasal 31 ayat 1 UUD 1945 menyatakan bahwa setiap warga negara berhak mendapat pendidikan. Ayat 2 menegaskan bahwa setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya. Aturan ini tidak membedakan anak berdasarkan alamat rumah atau pekerjaan orang tuanya.
Namun, hak dalam undang-undang belum tentu dirasakan setiap anak. Pemerintah sudah menyediakan Program Indonesia Pintar (PIP) untuk membantu biaya sekolah anak dari keluarga kurang mampu. Masalahnya, banyak keluarga belum tahu cara mengaksesnya. Sebagian anak bahkan belum memiliki akta kelahiran, dokumen yang sering dibutuhkan untuk mendaftar sekolah.
Di titik inilah kelompok belajar seperti Bimbel Hutan Besar Cipeucang berperan. Relawan tidak menggantikan sekolah. Mereka membantu anak bersiap masuk sekolah. Mereka mengajar dasar membaca, mencatat data anak, dan membantu keluarga memahami jalur yang tersedia, termasuk program kesetaraan Paket A.
Selembar Kertas Lipat Punya Alasan
Sebagian orang mungkin bertanya, mengapa anak yang belum bisa membaca justru diajak melipat kertas? Jawabannya ada pada kesiapan menulis.
Menulis membutuhkan keterampilan motorik halus, yaitu kemampuan menggerakkan otot kecil di jari dan pergelangan tangan dengan tepat. Melipat, menggunting, dan menempel melatih otot-otot itu. Anak yang jarinya sudah terlatih akan lebih mudah memegang pensil dan membentuk huruf.
Kelas prakarya juga melatih kemampuan sosial. Anak belajar menyimak petunjuk, menunggu giliran memakai gunting, dan meminjamkan lem kepada teman. Psikolog Lev Vygotsky menjelaskan bahwa anak belajar paling efektif melalui interaksi dengan orang dewasa dan teman sebaya. Ia menyebut jarak antara apa yang bisa anak lakukan sendiri dan apa yang bisa ia lakukan dengan bantuan sebagai zona perkembangan proksimal.
Relawan yang melipat kertas di depan anak-anak sedang bekerja di zona itu. Ia menunjukkan caranya. Anak mencoba. Relawan membetulkan. Lama-lama, anak bisa melakukannya sendiri.
Empat Relawan Tidak Cukup
Saat ini hanya empat relawan yang mengajar sekitar 50 anak. Satu relawan mendampingi kira-kira 12 anak sekaligus. Angka ini terlalu besar untuk anak usia dini yang butuh perhatian satu per satu. Anak yang baru mengenal huruf perlu dituntun tangannya. Anak yang sudah sekolah perlu dibantu memahami tugasnya. Kebutuhan mereka berbeda, tetapi relawannya sama.
Relawan juga menghadapi keterbatasan bahan. Dua gunting untuk belasan anak berarti sebagian besar waktu habis untuk menunggu. Buku cerita bergambar masih sangat sedikit. Padahal anak yang baru belajar membaca membutuhkan banyak bacaan pendek yang sesuai usianya.
Karena itu, keberlanjutan Bimbel tidak bisa bergantung pada semangat empat orang saja. Kegiatan ini butuh dukungan rutin. Kampus bisa mengirim mahasiswa sebagai relawan. Perusahaan bisa menyalurkan dana tanggung jawab sosial. Dinas Perpustakaan bisa membantu buku bacaan. Warga biasa bisa menyumbang alat tulis atau waktu satu jam setiap minggu.
Kembali ke Selembar Kertas Hijau
Lipatan kertas hijau di tangan relawan itu mungkin belum sempurna. Lipatan pertama anak-anak pun mungkin miring. Namun, setiap lipatan adalah latihan. Setiap latihan membuat anak selangkah lebih siap memegang pensil, menulis nama, dan membaca kalimat pertamanya.
Anak-anak di sekitar TPA Cipeucang sudah menunjukkan kemauan belajar. Mereka datang tanpa seragam dan tanpa bayaran. Mereka duduk di lantai dan berbagi gunting. Kemauan itu perlu dijawab dengan dukungan nyata.






