ALGORITMA DI ATAS MEJA HIJAU

Bagian 1
Polres Metro FYP
Aroma minyak angin bertabrakan dengan wangi kopi instan di ruang tunggu Polres Metro Kota Harapan. Namun, ada satu aroma baru yang mendominasi ruangan berukuran sepuluh kali sepuluh meter itu: aroma bedak kamera dan keringat dingin para pencari keadilan yang sedang menghafal skrip.
Pak Mardi duduk di bangku plastik warna biru yang salah satu kakinya sudah diganjal potongan kardus. Di pangkuannya, sebuah map jepit warna merah tergeletak layu. Di dalamnya bukan berisi dokumen sertifikat tanah atau BPKB asli, melainkan tangkapan layar (print-out) dari sebuah unggahan Instagram yang diberi lingkaran spidol merah pada kolom jumlah tayangan: 42 Views.
“Bapak kurang menangis,” bisik Angga, anak laki-laki Pak Mardi yang baru berusia sembilan belas tahun namun garis matanya sudah tampak seperti pria usia empat puluh akibat terlalu sering begadang memantau tren media sosial. “Netizen itu tidak suka kemiskinan yang tanggung, Pak. Kemiskinan Bapak ini kurang sinematik. Kalau cuma diam menatap ban bocor, orang langsung scroll ke atas.”
“Tapi motor Supra Bapak itu satu-satunya alat kerja, Ngga. Hilangnya pas Bapak lagi salat Magrib di masjid. Kurang biadab apa lagi itu maling?” suara Pak Mardi bergetar, bukan karena akting, tapi karena sisa umurnya yang dihabiskan sebagai kuli bangunan tidak pernah mempersiapkannya untuk situasi ini.
“Malingnya pintar, Pak,” balas Angga ketus sambil mengusap layar ponselnya yang retak seribu. “Maling zaman sekarang tahu algoritma. Dia tahu kalau motor Bapak dicuri jam enam sore, video CCTV masjid baru bisa diunggah jam delapan malam—itu waktu prime time di mana perhatian netizen sedang direbut oleh kasus perselingkuhan artis atau anak pejabat yang pamer mobil mewah. Kasus Bapak tenggelam di dasar samudra internet.”
“Antrean nomor tiga puluh dua, silakan menuju Studio Ruang Penyidikan Dua!” suara melengking dari pengeras suara memotong pembicaraan mereka.
Pak Mardi berdiri dengan lutut yang agak gemetar. Ia melangkah menuju sebuah pintu kayu yang di atasnya bukan lagi tertulis “Ruang Reskrim”, melainkan lampu neon merah menyala bertuliskan: ON AIR.
Di dalam ruangan, tidak ada meja kayu jati kuno dengan tumpukan berkas perkara yang berdebu. Ruangan itu telah diubah menjadi studio mini yang estetik. Dindingnya dicat dengan warna abu-abu industrial, lengkap dengan panel peredam suara. Di tengah ruangan, duduk seorang pria berseragam polisi lengkap dengan pangkat balok dua di pundaknya. Namanya Inspektur Ronald. Di depannya tidak ada mesin tik atau laptop biasa, melainkan sebuah komputer dengan tiga monitor besar dan sebuah ring light berdiameter lima puluh sentimeter yang memantulkan lingkaran putih di bola matanya.
“Selamat siang, Pak Mardi,” ujar Inspektur Ronald, suaranya terdengar sangat bariton dan terlatih, khas pembawa acara siniar (podcast). “Silakan duduk. Langsung menghadap ke kamera sensor utama ya, Pak, di bawah lampu hijau itu. Nah, bagus. Posisikan wajah agak miring tiga puluh derajat ke kiri agar dahi Bapak yang berkeringat terlihat lebih dramatis.”
Pak Mardi menelan ludah. “Anu, Pak Polisi… motor saya…”
“Sebentar, Pak,” Inspektur Ronald memotong sambil mengetuk-ngetuk jarinya di atas stream deck. “Saya cek dulu dasbor analitik laporan Bapak yang masuk lewat aplikasi E-Keadilan. Emm… nama akun: @Mardi_SupraRider. Jumlah pengikut: 14 orang. Unggahan video laporan: satu video berdurasi tiga puluh detik dengan latar belakang musik sedih.”
Ronald menghela napas panjang, bersandar pada kursi hidroliknya dengan ekspresi kecewa yang sangat kentara.
“Pak Mardi, Pak Mardi… Bapak ini mau melaporkan tindak pidana pencurian atau mau bikin arsip digital pribadi? Engagement rate akun Bapak ini mengenaskan. Nol koma nol sekian persen. Video laporan Bapak bahkan tidak masuk ke lingkaran rekomendasi algoritma wilayah kecamatan, apalagi tingkat nasional.”
“Tapi Pak,” Angga menyela dari belakang, “kami sudah pakai tagar #MalingMotor #KeadilanUntukMardi #PolisiBaik.”
Ronald terkekeh, sebuah tawa yang terdengar sangat merendahkan namun dibungkus dengan keramahan korporat. “Dek, tagar #PolisiBaik itu sudah kena shadowban oleh sistem karena terlalu sering dipakai untuk konten klarifikasi. Dan tagar pencurian motor itu sudah terlalu jenuh. Hari ini, netizen sedang fokus pada tagar #KucingPejabatHilang yang impression-nya sudah tembus sepuluh juta dalam dua jam. Kalau saya mengerahkan personel untuk mencari motor Supra tahun 2008 milik Bapak, biaya operasional digitalnya lebih besar daripada nilai motornya. Tim humas kami bisa diamuk netizen karena dianggap menaikkan konten yang tidak relatable dengan selera pasar.”
“Lalu motor saya bagaimana, Pak?” tanya Pak Mardi, suaranya mulai serak.
“Sesuai dengan Undang-Undang Efisiensi Hukum dan Optimalisasi Viralitas Nomor 12, laporan Bapak kami masukkan ke dalam status ‘Draft Pending Pendingin’. Jika dalam waktu 3×24 jam video laporan Bapak tidak berhasil menembus minimal sepuluh ribu tayangan dan lima ratus komentar yang menghujat pelaku, maka sistem secara otomatis akan menghapus laporan ini demi menghemat ruang penyimpanan server negara.” Inspektur Ronald tersenyum profesional. “Ada lagi yang bisa saya bantu? Kalau tidak, silakan berikan rating bintang lima pada aplikasi pelayanan kami ya.”
Bagian 2
Agensi Air Mata
Malam harinya, rumah petak Pak Mardi berubah menjadi markas darurat. Angga mengundang seorang temannya yang bekerja sebagai creative director lepasan untuk sebuah agensi politik tingkat kelurahan. Namanya Joni. Joni datang membawa sebuah laptop berspesifikasi tinggi, dua buah lampu softbox portabel, dan sebuah botol misterius berisi cairan bening.
“Ini gliserin,” kata Joni sambil menunjukkan botol itu ke hadapan Pak Mardi yang sedang duduk termenung di lantai semen tanpa alas. “Kalau diteteskan ke mata, efek air matanya bisa bertahan lima belas menit tanpa bikin perih berlebihan. Bagus untuk pengambilan gambar jarak dekat (close-up).”
“Joni, apa kita tidak bisa pakai jalur hukum yang normal saja?” tanya Pak Mardi, menatap botol itu dengan ngeri.
Joni tertawa terbahak-bahak hingga rokok di selipan telinganya hampir jatuh. “Jalur hukum normal? Pak Mardi, hukum yang normal itu sudah runtuh sejak Mahkamah Konstitusi mengetuk palu bahwa ‘Suara Netizen adalah Suara Tuhan yang Sah’. Sekarang ini, jaksa tidak membaca nota pembelaan, mereka membaca infografis di akun-akun gosip. Hakim tidak melihat barang bukti, mereka melihat hasil pemungutan suara (voting) di fitur cerita Instagram.”
Joni kemudian membuka laptopnya, menampilkan sebuah grafik rumit yang penuh dengan warna merah dan hijau.
“Musuh kita sekarang bukan cuma si maling, Pak. Tapi sistem. Maling motor Bapak kemungkinan besar adalah bagian dari sindikat yang sudah bekerja sama dengan Agensi Buzzer Hitam. Mereka sengaja mencuri motor orang-orang miskin seperti Bapak karena mereka tahu Bapak tidak punya modal untuk bikin konten tandingan. Begitu Bapak bikin video laporan, mereka akan langsung mengerahkan ribuan akun robot untuk menulis komentar seperti: ‘Halah, motor jelek aja ribut’, ‘Mungkin itu bentuk sedekah pak’, atau ‘Paling juga digadaikan sendiri buat judi online’. Begitu sentimen negatif terbentuk, netizen lain akan malas membela Bapak.”
Pak Mardi memegang kepalanya yang mulai berdenyut. “Astaga… mau nyari motor hilang saja harus perang teknologi begini.”
“Maka dari itu,” Joni memukul meja tripleks dengan semangat, “kita harus melakukan rebranding terhadap kemiskinan Bapak. Kita tidak bisa pakai narasi ‘Kuli Bangunan Kehilangan Motor’. Itu terlalu biasa. Kita harus menaikkan level konfliknya.”
“Bagaimana caranya?” Angga mendekat, matanya berbinar.
“Kita bikin cerita bahwa motor Supra itu bukan sekadar kendaraan, tapi adalah peninggalan terakhir dari mendiang istri Pak Mardi yang meninggal karena… emm, karena apa ya yang lagi sensitif sekarang? Ah! Karena tidak mampu membayar pajak kesehatan digital! Dan motor itu digunakan Pak Mardi untuk mengantar obat ke anak-anak panti asuhan setiap malam Jumat!”
“Tapi istri saya masih hidup, Joni! Dia cuma lagi pulang kampung ke tempat ibunya di Gunungkidul!” protes Pak Mardi, wajahnya memerah karena merasa bersalah pada istrinya yang sehat walafiat.
“Pak Mardi,” Joni menatap Pak Mardi dengan pandangan tajam seorang profesional. “Apakah Bapak mau motor Bapak kembali atau mau menjaga akurasi silsilah keluarga? Di dunia digital, fakta adalah urutan nomor sekian setelah estetika dan emosi. Kalau kita pakai cerita asli, besok motor Bapak sudah jadi potongan besi tua di pasar loak. Pilih mana?”
Pak Mardi terdiam. Kehormatannya sebagai manusia seolah sedang dipreteli lembar demi lembar di atas altar algoritma. Akhirnya, dengan sangat perlahan, ia mengangguk.
“Bagus,” kata Joni sambil menyiapkan kamera. “Angga, matikan lampu utama. Kita pakai lampu softbox dari bawah supaya wajah Bapak kelihatan lebih tirus dan menderita. Pak Mardi, silakan diteteskan gliserinnya. Ingat ya, begitu kamera menyala, Bapak jangan langsung bicara. Tarik napas dalam-dalam, lihat ke arah lensa seolah-olah lensa itu adalah tuhan yang sedang memegang nasib Bapak, lalu katakan: ‘Saya tidak butuh uang, saya cuma butuh keadilan…’”
Bagian 3
Badai Digital
Video itu diunggah tepat pukul lima subuh, waktu di mana para pekerja komuter sedang membuka ponsel mereka di dalam kereta untuk mengusir kantuk. Berkat keahlian Joni dalam memanipulasi algoritma dan menyisipkan kata kunci yang sedang tren, video berjudul “Jeritan Kuli Bangunan: Motor Peninggalan Almarhumah Istri Diembat Maling, Polisi Minta Engagement” meledak dalam waktu empat jam.
Pada pukul sembilan pagi, video itu telah dibagikan ulang oleh tiga akun agregator berita besar dengan pengikut jutaan. Kolom komentar dipenuhi oleh kemarahan kolektif publik.
@RakyatJelata99: #KeadilanUntukPakMardi !!! Kemana ini Pak Kapolri? Masa harus viral dulu baru bertindak? @AntiOknum_Oknum: Institusi sebelah lagi sibuk urusin kucing hilang, padahal ada rakyat kecil yang tertindas begini. Miris! @SobatGimmick: Sedih banget liat matanya yang berkaca-kaca. Netizen, mari kita kawal kasus ini sampai tuntas!
Angga melompat-lompat di ruang tamu sambil memandangi angka penayangan yang terus bergerak naik seperti argometer taksi rusak. “Satu juta penonton, Pak! Kita masuk Trending Topic nomor dua di Twitter!”
Pak Mardi hanya duduk di sudut ruangan, memandangi ponselnya dengan perasaan asing. Ia merasa sedang melihat orang lain di dalam layar itu. Orang di dalam video itu terlihat sangat menyedihkan, sangat rapuh, dan sangat… bukan dirinya.
Namun, kegembiraan itu tidak bertahan lama. Pukul dua siang, sebuah badai tandingan datang dari arah yang tak terduga.
Sebuah akun bercentang biru dengan nama @Dito_Skincare—seorang pemuda kaya raya yang terkenal sering membuat konten bagi-bagi uang di jalanan mengunggah sebuah video klarifikasi. Di dalam video tersebut, tampak seorang pria muda dengan wajah babak belur (yang belakangan diketahui adalah si maling motor) sedang duduk bersimpuh di lantai marmer rumah mewah milik Dito.
“Halo teman-teman semua, hari ini saya mau meluruskan kegaduhan yang sedang terjadi,” ujar Dito dalam videonya, menggunakan pakaian kasual berwarna putih bersih dengan latar belakang air mancur. “Pria di sebelah saya ini adalah Rian. Dialah yang mengambil motor Pak Mardi. Tapi tunggu dulu, jangan dihujat dulu. Kenapa Rian mengambil motor itu? Karena Rian memiliki seorang adik yang menderita penyakit langka dan butuh biaya operasi segera. Rian sudah mencoba mencari kerja tapi ditolak karena dia tidak punya ‘orang dalam’.”
Kamera kemudian menyorot wajah Rian yang menangis tersedu-sedu.
“Saya sebagai sesama manusia tidak bisa tinggal diam,” lanjut Dito dengan senyum malaikatnya. “Hari ini, saya secara resmi telah menebus motor Pak Mardi dari tangan Rian. Dan bukan cuma itu, saya juga memberikan Rian modal usaha sebesar lima puluh juta rupiah agar dia tidak mencuri lagi! Mari kita selesaikan masalah ini dengan cinta, bukan dengan kebencian. #DamaiItuIndah #GuePilihKebaikan.”
Dalam hitungan menit, opini publik berbalik arah 180 derajat. Netizen yang tadinya membela Pak Mardi kini menyerang balik.
@NetizenPalingBenar: Nah loh, ternyata malingnya punya alasan kemanusiaan. Pak Mardi kok egois banget ya, motor tua gitu aja sampai bikin gaduh senegara, padahal ada nyawa anak kecil yang terancam. @DitoLoverz: Bang Dito emang pahlawan tanpa tanda jasa! Pak Mardi harusnya bersyukur motornya balik dan ada orang yang terbantu. @KritisDikitNapa: Konspirasi nih. Jangan-jangan Pak Mardi sengaja taruh motornya di luar buat dijadiin konten pancingan biar terkenal? Zaman sekarang kan banyak yang gila hormat.
Joni yang sedang memantau dari markasnya langsung membanting tetikusnya ke meja. “Sialan! Kita kena counter-branding! Agensi di belakang Dito ini kelas kakap. Mereka menggunakan narasi ‘Filantropi Toksik’ untuk mencuci nama si maling demi menaikkan penjualan produk skincare mereka!”
“Lalu sekarang bagaimana?” Angga panik, wajahnya pucat melihat ribuan pesan makian masuk ke akun ayahnya.
“Kita tidak punya pilihan lain,” kata Joni sambil menarik napas panjang. “Kasus ini sudah terlalu besar untuk diselesaikan di kantor polisi biasa. Ini harus dibawa ke Mahkamah Digital Agung.”
Bagian 4
Sidang Live Streaming
Mahkamah Digital Agung adalah puncak dari seluruh sistem peradilan modern negara ini. Di sinilah kasus-kasus yang memiliki impact sosial tinggi disidangkan secara langsung melalui platform live streaming terbesar di dunia.
Hari sidang pun tiba. Pak Mardi, didampingi Angga dan Joni sebagai tim hukum digitalnya, duduk di sebuah meja panjang bersisi kiri. Di sisi kanan, duduk Dito_Skincare bersama pengacara papan atasnya yang mengenakan jas seharga ratusan juta rupiah, lengkap dengan si maling, Rian, yang kini sudah terlihat lebih segar setelah mendapatkan perawatan wajah gratis dari klinik Dito.
Di tengah ruangan, di atas podium yang tinggi, duduk Hakim Agung ketua, seorang wanita paruh baya dengan konde besar yang di tengahnya disisipkan sebuah kamera aksi mini untuk memberikan sudut pandang orang pertama (first-person view) kepada penonton live streaming.
Di atas dinding di belakang hakim, sebuah layar raksasa menampilkan jumlah penonton yang sedang menyaksikan sidang tersebut: 4.200.000 Penonton Langsung. Di bawah angka tersebut, terdapat dua buah bar persentase berwarna biru (untuk Pak Mardi) dan merah (untuk pihak Dito). Saat sidang dimulai, bar Pak Mardi berada di posisi 35%, sementara Dito memimpin dengan 65%.
“Sidang kasus nomor 404-Viral-Hukum-2026 dengan agenda perebutan narasi keadilan antara Saudara Mardi dan Saudara Dito serta Rian, dinyatakan dibuka,” kata Hakim Agung sambil mengetok palu sidang yang dilengkapi dengan sensor suara kosmik sehingga mengeluarkan efek bunyi ‘Boom’ yang menggema di ruang digital.
“Silakan pihak penggugat, Saudara Mardi, untuk menyampaikan argumen pembuka Anda. Ingat, Anda hanya punya waktu tiga menit sebelum penonton merasa bosan dan algoritma menurunkan retensi video kita,” lanjut Hakim.
Joni menyenggol lengan Pak Mardi. Pak Mardi maju ke depan mikrofon. Ia tidak lagi menggunakan teks yang ditulis Joni. Rasa lelah, malu, dan absurditas yang dialaminya selama seminggu terakhir ini mendadak berkumpul di tenggorokannya menjadi sebuah kejujuran yang mentah.
“Saya… saya cuma mau motor saya kembali,” kata Pak Mardi pelan. “Saya tidak tahu apa itu engagement, saya tidak tahu apa itu branding. Saya ini cuma kuli bangunan yang kalau tidak ada motor, saya harus jalan kaki memikul sak semen sejauh lima kilometer. Saya tidak benci sama anak yang mencuri motor saya, kalau memang adiknya sakit, saya bisa maafkan. Tapi kenapa saya yang kehilangan barang, malah saya yang sekarang dicaci maki oleh jutaan orang di internet? Kenapa saya yang harus meminta maaf karena saya kemalingan?”
Suasana di kolom komentar live streaming mendadak melambat. Emosi jujur Pak Mardi rupanya berhasil menembus lapisan ketidakpedulian netizen. Bar persentase biru Pak Mardi merangkak naik: 40%… 45%… 50%.
Melihat situasi yang berbalik, pengacara Dito langsung berdiri. “Interupsi, Yang Mulia! Pihak penggugat sedang melakukan manipulasi emosi tingkat rendah tanpa didukung oleh data digital yang sah! Klien kami, Saudara Dito, telah menunjukkan iktikad baik yang luar biasa dengan menyelesaikan akar masalah sosial dari kriminalitas ini, yaitu kemiskinan si pelaku. Tindakan klien kami telah mendapatkan sentimen positif sebesar 78% di platform media sosial berdasarkan audit independen.”
“Lagipula,” Dito ikut berbicara sambil menghadap ke kamera dengan senyum terbaiknya, “Saya sudah membawa motor Supra milik Pak Mardi ke sini. Saya kembalikan sekarang juga. Bahkan, sebagai bonus, saya sudah mengecat ulang motor itu dengan warna emas dan menempelkan logo perusahaan skincare saya di tangki bensinnya. Kurang baik apa lagi saya?”
Sebuah motor Supra tahun 2008 dipinggirkan ke tengah ruang sidang oleh petugas. Motor itu kini tampak mengerikan; warnanya kuning keemasan mengkilap dengan stiker besar bertuliskan: “GLOW UP BERSAMA MOTOR PAK MARDI”.
Netizen di kolom komentar kembali riuh. @UserKepo: Wah gila, motornya jadi keren banget! Pak Mardi untung banyak itu! @NetizenJulid: Kalau dikasih motor emas gitu masih protes juga, fix Pak Mardi emang kurang bersyukur.
Bar persentase Dito kembali melonjak ke angka 60%.
“Baiklah,” Hakim Agung ketua mengetok palunya lagi. “Waktu perdebatan telah habis. Karena kedua belah pihak memiliki argumen yang sama-sama kuat dan didukung oleh massa digital masing-masing, maka keputusan hukum hari ini akan ditentukan oleh fitur ‘Super Gift’ dari para penonton.”
Pak Mardi membelalakkan matanya. “Apa itu, Ngga?” bisiknya pada anaknya.
“Fitur saweran, Pak,” bisik Angga dengan wajah putus asa. “Netizen yang mendukung Bapak harus mengirimkan gift digital bernama ‘Paus Keadilan’ seharga lima ratus ribu rupiah, sementara yang mendukung Dito harus mengirimkan gift ‘Singa Sultan’. Pihak yang mengumpulkan nilai moneter gift terbanyak dalam waktu dua menit akan memenangkan kasus ini secara hukum.”
“Mulai dari sekarang!” seru Hakim Agung.
Layar raksasa di belakang hakim langsung berubah menjadi medan pertempuran grafik yang luar biasa riuh. Gambar-gambar animasi singa, paus, mawar, dan senapan mesin digital beterbangan di layar, diikuti dengan bunyi efek suara yang memekakkan telinga.
Dito langsung memberikan tanda kepada tim suksesnya di luar ruangan. Dalam sekejap, akun-akun influencer lingkaran dalam Dito mulai mengirimkan ratusan ‘Singa Sultan’. Angka di kubu Dito melonjak drastis. Jutaan, puluhan juta, hingga menembus angka seratus juta rupiah dalam waktu satu menit.
Sementara di kubu Pak Mardi, sumbangan hanya datang dari akun-akun kecil milik sesama kuli bangunan, mahasiswa tingkat akhir yang idealis, dan ibu-ibu rumah tangga yang iba. Mereka hanya mampu mengirimkan gift ‘Mawar Layu’ seharga seribu rupiah atau ‘Jempol Keadilan’ seharga lima ratus rupiah.
“Tiga puluh detik lagi!” teriak Hakim Agung dengan nada suara mirip komentator balap kuda. “Kubu Dito memimpin jauh dengan total saweran seratus lima puluh juta rupiah! Kubu Pak Mardi tertinggal di angka dua belas juta rupiah! Apakah akan ada keajaiban di detik-detik terakhir?!”
Pak Mardi menatap layar itu dengan pandangan kosong. Ia melihat bagaimana keadilan di negaranya kini memiliki label harga yang sangat transparan, dihitung secara real-time lewat animasi binatang digital yang menari-nari di atas penderitaannya.
Waktu Habis! Ditutup!
Layar raksasa berkedip merah. Hasil akhir: Dito_Skincare: 88% (Rp185.000.000) vs Pak Mardi: 12% (Rp14.500.000).
“Dengan ini,” Hakim Agung mengetok palu tiga kali, “Mahkamah Digital Agung menyatakan bahwa tindakan Saudara Dito dan Rian adalah sah dan berkeadilan secara sosial. Laporan pencurian Saudara Mardi dengan ini resmi ditolak dan diputihkan. Sebagai konsekuensi dari kekalahan dalam Sidang Algoritma, Saudara Mardi diwajibkan membayar biaya potongan administrasi platform sebesar tiga puluh persen dari total gift yang diterimanya, dan motor Supra miliknya secara hukum disita oleh negara untuk dijadikan monumen ‘Kebaikan Digital’.”
Ruang sidang meledak dalam tepuk tangan. Dito dan pengacaranya saling berpelukan di depan kamera, bersiap untuk membuat konten kemenangan yang akan langsung diunggah sepuluh menit lagi. Sementara Rian si maling melambaikan tangan ke arah kamera penonton seperti seorang pahlawan nasional.
Epilog
Di Luar Jaringan
Pak Mardi berjalan keluar dari gedung Mahkamah Digital Agung. Matahari sore Jakarta membakar pundaknya yang tampak semakin membungkuk. Di sampingnya, Angga berjalan sambil terus menatap ponsel, mencoba menghitung sisa uang dari gift netizen setelah dipotong pajak negara dan komisi agensi Joni.
“Kita masih dapat bersih sekitar tiga juta rupiah, Pak,” kata Angga, mencoba menghibur ayahnya yang sejak tadi diam membisu. “Lumayan buat uang muka beli motor bekas yang lain. Tapi kali ini, kita harus beli motor yang tidak punya nilai sejarah, biar kalau hilang lagi kita tidak perlu bikin video.”
Pak Mardi tidak menjawab. Ia meraba kantong celananya, mengeluarkan sisa uang lima ribu rupiah yang sudah lecek untuk membeli dua buah es lilin dari seorang pedagang gerobak di pinggir jalan trotoar.
Saat mereka sedang menikmati es lilin di bawah bayangan gedung pencakar langit yang megah, sebuah mobil Alphard hitam—mobil milik Dito—berhenti di depan mereka karena lampu merah.
Kaca mobil bagian tengah terbuka sedikit. Di dalamnya, tampak motor Supra milik Pak Mardi yang berwarna emas diletakkan di kursi belakang yang luas, siap dibawa ke studio foto untuk keperluan promosi produk terbaru mereka minggu depan.
Dito melihat Pak Mardi dari balik kaca mobilnya yang gelap. Ia tidak tersenyum, tidak juga mengejek. Ia hanya menatap Pak Mardi dengan pandangan datar seorang pengusaha yang baru saja menyelesaikan sebuah transaksi harian yang sukses. Kaca mobil kemudian tertutup kembali secara perlahan seiring dengan berubahnya lampu lalu lintas menjadi hijau. Mobil mewah itu melesat pergi, meninggalkan kepulan asap knalpot yang pekat di wajah Pak Mardi.
Pak Mardi menyeka wajahnya yang terkena debu jalanan dengan lengan bajunya yang kotor.
“Ngga,” kata Pak Mardi pelan setelah lama terdiam.
“Ya, Pak?”
“Besok-besok, kalau Bapak mati… tolong jangan video-kan jenazah Bapak ya. Bapak cuma mau dikubur di dalam tanah yang tenang, bukan di dalam handphone orang-orang itu.”
Angga menatap ayahnya, lalu perlahan-lahan menurunkan ponselnya dan memasukkannya ke dalam saku celana dalam-dalam. Untuk pertama kalinya dalam satu minggu ini, kedua pria itu saling memandang satu sama lain tanpa terhalang oleh lensa kamera, di sebuah sudut kota di mana keadilan tidak lagi gratis, dan air mata harus memiliki sponsor untuk bisa didengar.

Bagikan tulisan ini

Similar Posts

Tinggalkan Balasan