Cerita Pendek : Aku Sedang Sedih

Belajar Mengenal Perasaan Sedih dan Berani Mengungkapkannya

Pagi itu, Raka datang ke sekolah bersama Bunda. Biasanya Raka selalu tersenyum ketika memasuki kelas. Namun, hari ini wajahnya terlihat murung.

Saat Bunda berpamitan, Raka mulai memegang tangan Bunda erat-erat.

“Bunda jangan pulang. Raka mau ikut Bunda,” katanya sambil menunduk.

Bunda memeluk Raka dan berkata, “Raka sekolah dulu, ya. Nanti Bunda jemput lagi. Raka bisa bermain bersama teman-teman.”

Namun, setelah Bunda pergi, Raka mulai menangis.

Miss kemudian mendekat dan duduk di samping Raka.

“Raka sedang sedih karena ingin bersama Bunda, ya?”

Raka mengangguk sambil mengusap air matanya.

“Tidak apa-apa merasa sedih, Sayang. Miss temani, ya.”

Miss memberikan waktu kepada Raka untuk menenangkan diri. Miss tidak memaksa Raka langsung bermain.

Beberapa saat kemudian, tangisan Raka mulai berhenti.

“Kalau Raka sudah siap, bagaimana kalau kita membaca buku cerita bersama?” ajak Miss.

Raka melihat buku bergambar yang dibawa Miss.

“Ini gambar keluarga, Miss. Ada Ayah, Bunda, dan anak.”

“Iya, Raka. Keluarga selalu punya tempat istimewa di hati kita. Nanti saat Bunda datang menjemput, Raka bisa bercerita tentang buku ini.”

Raka mulai tersenyum.

Kemudian Raka bergabung dengan teman-temannya untuk bermain.

Sebelum kegiatan selesai, Miss berkata kepada anak-anak,

“Anak-anak, kita boleh merasa sedih. Kalau sedih, kita boleh bercerita, meminta pelukan jika nyaman, atau meminta bantuan kepada orang yang kita percaya.”

Hari itu Raka belajar bahwa kesedihan bukan sesuatu yang harus disembunyikan.

Ia belajar bahwa setiap perasaan boleh diungkapkan dan selalu ada orang yang siap mendengarkan.

Bagikan tulisan ini

Similar Posts

Tinggalkan Balasan