LANGKAH YANG DI TUNTUN RESTU

Aroma tanah basah dan lantunan bait-bait “Alfiyah” yang bergaung di lorong Salah satu pesantren di Kabupaten Ciamis selalu menjadi tempat perlindunganku. Selama tiga tahun membina diri sebagai santriwati, aku merasa telah menemukan ketenangan hidup yang pas. Sebab itulah, menjelang kelulusan SMA, satu-satunya hal yang kuinginkan adalah berhenti sejenak. Aku tidak ingin melanjutkan studi pendidikan formal. Aku hanya ingin bernapas tanpa diburu target-target akademik yang melelahkan.

Namun, di rumah, takdirku rupanya sudah digariskan oleh jemari orang tuaku.

“Kamu harus kuliah,” tegas Bapak malam itu, suaranya tak membentak namun tidak pula memberi ruang untuk bantahan. Ibu mengangguk pelan di sampingnya, tatapannya menyiratkan perintah yang sama.
Kehidupanku sejak kecil memang seperti lembaran kertas yang garis-garisnya sudah dilukis oleh mereka. Aku jarang diberi ruang untuk memilih warna tingkah laku atau jalanku sendiri. Setiap keputusan besar selalu datang dari meja makan keluarga, bukan dari bilik hatiku.

Setelah berminggu-minggu bergelut dengan keheningan dan doa di sepertiga malam, aku mencoba bernegosiasi. Aku menurunkan gengsiku dan mengalah untuk orang tuaku ; lanjut kuliah. Tetapi dengan satu syarat pribadi : aku ingin mengambil jurusan Psikologi. Aku merasa bidang itu setidaknya bisa membantuku memahami kerumitan pikiran manusia termasuk memahami mengapa orang tuaku begitu dominan.

Namun, lagi-lagi impianku berbenturan dengan dinding tebal.

“Ambil Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD),” kata Ibu lembut, tapi dampaknya menghantam dadaku begitu keras.
“Kenapa harus PAUD, Bu?” tanyaku dengan suara tertahan.
“Di dusun kita belum ada TK atau PAUD sama sekali,” timpal Bapak. “Peluang kerjamu besar di sini. Kamu bisa berguna untuk masyarakat dusun.”

Rasanya dadaku sesak seketika. Mengiyakan permintaan itu felt like a heavy sentence. Aku membenci dunia anak-anak. Menurutku, anak kecil itu bising, tidak bisa diatur, dan menguras energi. Membayangkan diriku mengajar anak-anak setiap hari adalah mimpi buruk yang paling tidak ingin kualami.

Beberapa bulan aku menimbang, bertengkar dengan ego diri di dalam kamar di sebuah pesantren. Haruskah aku memberontak? Namun, didikan pesantren yang tertanam kuat di dadaku terus berbisik tentang satu hal: “Ridhallahi fi ridhal walidain Wasukhtullohi fii sukhtil walidain ; Ridho Allah terletak pada ridho kedua orang tua dan murka alloh terletak pada murka kedua orang tua”.

Akhirnya, dengan menelan bulat-bulat rasa keterpaksaan itu, aku menyerah. “Aku ingin berbakti,” bisik hatiku menenangkan jiwa yang getir. “Apapun itu, akan kujalani.”

Empat tahun berlalu dalam helaan napas yang panjang dan lika-liku yang tak mudah. Kuliah S1 PAUD kujalani setengah hati di awal, meski lambat laun tugas-tugas itu terselesaikan juga. Setiap kali rasa lelah dan tidak suka itu muncul, aku hanya mengingat wajah kedua orang tuaku dan niat awalku untuk berbakti.
Dan ajaibnya, setelah aku benar-benar “nyebur” ke dunia anak, perlahan-lahan tabir kebaikan mulai terbuka.
Petunjuk orang tua rupanya tidak pernah salah. Keberkahan hidup yang tak pernah kubayangkan mulai mengalir. Langkahku seolah selalu dipermudah. Kemudahan demi kemudahan datang menyapa, mulai dari urusan akademik hingga jaringan pertemanan.

Puncaknya, setelah lulus S1, dengan dorongan orang tua dan dukungan warga, aku memberanikan diri mendirikan sebuah lembaga Raudhatul Athfal (RA) tepat di tengah-tengah dusunku.
Awalnya, bahuku rasanya mau patah. Menjadi kepala sekolah di sebuah lembaga baru adalah tanggung jawab yang amat besar. Aku harus mengurus izin, kurikulum, menghadapi berbagai karakter orang tua murid, hingga memikirkan nasib para pengajar. Ada hari-hari di mana aku ingin menangis karena kelelahan. Tapi setiap kali rasa ragu itu datang, bayangan senyum ridho dari Bapak dan Ibu menjadi benteng yang menguatkanku. Aku yakin, restu merekalah yang membuat jalan yang terjal ini terasa rata.

Tahun demi tahun berlalu. Tanpa kusadari, benteng ketidaksukaanku pada dunia anak runtuh sepenuhnya.

Suara tawa polos anak-anak, kepolosan mereka saat menyambutku di pintu gerbang, dan genggaman tangan mungil mereka setiap pagi kini menjadi penawar lelah yang paling ampuh. Aku bahagia. Sangat bahagia. Sesuatu yang dulu kubenci setengah mati, kini menjadi sumber sukacita utamaku setiap hari.

Kini, saat melihat bangunan RA yang berdiri kokoh dan riuh dengan gelak tawa santri-santri kecilku, sebuah impian baru perlahan tumbuh di dada. Aku merasa pengetahuan yang kupunya masih sangat kurang. Aku ingin belajar lebih banyak lagi tentang dunia anak, melangkah lebih jauh dengan melanjutkan studi S2.

Meski sampai detik ini keinginan S2 itu masih menjadi angan-angan yang kukejar dalam doa, aku tidak lagi takut pada masa depan. Sebab aku telah membuktikan sendiri : ketika kita meredam ego demi berbakti, Allah tidak pernah alpa menggantinya dengan keberkahan yang melimpah.

Bagikan tulisan ini

Similar Posts

Tinggalkan Balasan