
Qobul Hajat: Perjalanan Panjang dari Beasiswa PAI hingga Guru SKI
- Judul: Qobul Hajat: Perjalanan Panjang dari Beasiswa PAI hingga Guru SKI
Saya lahir dari keluarga tidak mampu. Bapak hanya petani, ibu di rumah. Tapi ada satu hal yang tidak pernah miskin di rumah kami: dukungan untuk sekolah. Bapak selalu bilang, “Sekolah yang tinggi, Nak. Biar tidak seperti Bapak.”
Sejak kecil cita-cita saya hanya satu: menjadi guru. Saya suka melihat guru-guru saya di sekolah rapi, pintar, disegani. Saya tulis di buku tulis saya: “Cita-citaku jadi guru.”
Saat lulus MA, saya ingin sekali kuliah Matematika. Saya suka berhitung. Tapi Allah punya jalan lain. Pendaftaran jurusan Matematika mahal, uangnya tidak ada. Saya menangis semalaman. Bapak bilang, “Coba daftar PAI saja, Nak, siapa tahu ada rezeki.”
Saya daftar jurusan PAI jalur beasiswa. Alhamdulillah, saya lolos beasiswa full sampai lulus. Saya tidak bayar sepeserpun. Saya ditempatkan di kelas beasiswa, kelas A, jumlahnya hanya 20 orang. Anak-anak pintar semua. Saya yang dari desa, minder, tapi semangat.
Di semester 3, terjadi sesuatu yang tidak pernah saya rencanakan. Tunangan saya, yang sekarang jadi suami saya, awalnya minta tolong saya carikan orang untuk dijadikan tunangan. Saya carikan. Tapi akhirnya dia bilang, “Kenapa harus cari orang lain, kalau ada kamu?” Dia adalah teman sekelas saya. Pindahan dari kelas lain karena nilainya tinggi. Saya kaget, bingung, tapi juga bahagia.
Semester 4 kami menikah. Sederhana saja. Setelah satu bulan menikah, saya hamil. Perut mulai besar, tapi kuliah tetap jalan. Saya tidak mau putus. Teman-teman kelas A sangat mendukung. Dosen-dosen juga memaklumi saya yang sering izin ke bidan.
Waktu PPL, kandungan saya sudah 7 bulan. Saya mengajar di madrasah dengan perut besar. Anak-anak PPL saya memanggil saya “Bu Mil” sambil tertawa karena saya ngos-ngosan naik tangga. Tapi saya selesaikan PPL dengan nilai baik. Saya ingin buktikan, hamil bukan alasan berhenti bermimpi.
Setelah melahirkan, ujian lain datang. Saya menyelesaikan skripsi saat anak saya umur 3 bulan. Bayangkan, satu tangan gendong bayi, satu tangan ketik laptop. Malam begadang bukan karena nugas, tapi karena anak demam. Sering saya ketik skripsi sambil menyusui.
Skripsi selesai. Tapi saya tidak bisa langsung wisuda. Lagi-lagi terkendala uang biaya wisuda. Saya harus fakum 2 semester. Rasanya hancur. Teman-teman sekelas A sudah wisuda duluan. Saya di rumah jadi ibu, sambil menunggu.
Akhirnya setelah 2 semester fakum, Allah beri jalan. Ada rezeki sedikit dari keluarga. Saya dan suami bisa wisuda berbarengan. Hari itu saya pakai kebaya pinjaman, tapi hati saya paling kaya sedunia. Kami wisuda bersama, gandengan tangan, anak kami sudah bisa berjalan.
Sebelum wisuda pun, Allah sudah siapkan rezeki lain. Sepupu suami saya yang punya lembaga MTs minta saya mengajar. Katanya, “Mau ngajar SKI?” Saya mau. Tanpa pikir panjang. Akhirnya saya mengajar mapel SKI (Sejarah Kebudayaan Islam).
Setelah wisuda, ijazah saya dimasukkan ke data madrasah. Resmi saya jadi guru MTs. Gaji pertama saya Rp 150.000 per 3 bulan. Kecil, Bu. Tapi saya nangis pegang amplop itu. Ini gaji pertama dari cita-cita yang saya tulis sejak kecil.
10 tahun saya mengabdi. Tidak sertifikasi, tidak protes. Saya mengajar SKI dari kelas 7 sampai kelas 9. Saya ceritakan kisah Nabi dengan bahasa Madura biar anak paham. Saya tidak pernah lelah.
Sampai akhirnya tahun ini, saya terpanggil PPG. 10 tahun menunggu. Alhamdulillah, saya sangat bersyukur. Akhirnya cita-cita saya qobul hajat. Doa saya dari kecil dikabulkan. Ini juga impian Bapak saya.
Tapi ada sedih yang tidak bisa saya tahan. Bapak saya meninggal sebelum saya lolos PPG. Bapak tidak sempat melihat saya pakai seragam sertifikasi. Tidak sempat saya bilang, “Pak, anakmu sudah jadi guru beneran sekarang.”
Waktu dapat kabar lolos PPG, saya ziarah ke makam Bapak. Saya bilang, “Pak anakmu sudah lolos. Doakan lancar ya Pak.” Angin berhembus, saya anggap itu jawaban Bapak.
Sekarang saya mengerti. Perjalanan menjadi guru itu tidak selalu lurus seperti jalan tol. Kadang harus belok karena tidak ada uang daftar MTK, kadang harus berhenti 2 semester karena tidak ada biaya wisuda, kadang harus mengajar sambil hamil 7 bulan dan skripsi sambil gendong bayi 3 bulan.
Tapi selama kita mau belajar dan keluarga mendukung, semua qobul hajat. Allah tidak tidur.
Untuk teman-teman guru honorer yang masih menunggu PPG, jangan menyerah. Saya 10 tahun menunggu. Bapak saya yang miskin saja percaya pendidikan bisa mengubah nasib. Apalagi kita yang sudah di dalam dunia pendidikan.
Saya ingin murid-murid SKI saya tahu, bahwa sejarah bukan hanya hafalan tahun dan nama sahabat Nabi. Sejarah adalah tentang kita yang bertahan. Seperti saya bertahan dari kelas beasiswa 20 orang, bertahan PPL hamil 7 bulan, bertahan skripsi dengan bayi 3 bulan.
Semoga Bapak tenang di alam sana. Cita-cita anakmu sudah tercapai, Pak. Al-Fatihah untuk Bapak!






