
Mata yang Bersinar
Di tengah keheningan, dunia terasa sunyi. Lalu aku melihatnya sepasang mata, hanya mata, melayang lembut di ruang yang tak terduga. Warnanya oranye, seperti senja yang tak pernah benar-benar tenggelam, bercahaya lembut namun tak pernah redup.
Tak ada wajah, tak ada tubuh. Hanya tatapan itu dalam, tenang, seolah ia telah mengenaliku sejak lama. Ia tidak bicara, tapi hatiku mendengarnya dengan jelas:
Aku melihatmu. Bukan sekadar siapa kamu di luar sana, tapi siapa kamu sebenarnya di dalam sini. Aku melihat lelahmu, harapanmu, dan hal-hal yang bahkan kamu takut ucapkan. Kamu tidak tersembunyi. Kamu tidak sendirian.
Cahayanya tak menyilaukan, justru menghangatkan seperti pelukan yang tak terlihat. Lama aku menatapnya, dan lama ia menatapku kembali tanpa terburu-buru, tanpa menghakimi. Saat akhirnya perlahan ia memudar, yang tertinggal bukanlah kesepian, tapi satu kebenaran yang lembut:
Selalu ada yang menjagamu, bahkan ketika kamu tak melihat siapa mereka.






