
MEMBACA MERDEKA
Aku membaca merdeka
di sebuah buku
yang telah berusia 81 tahun,
sampulnya merah putih
halaman-halamannya
ditulis dengan darah,
air mata,
dan nama-nama
yang mungkin tak sempat
membaca halaman terakhir
dari perjuangannya
Di buku itu. Aku membaca kata laut
dalam tubuh berdaulat
aneh, ada ulat-ulat
di antara karang, ikan dan ganggang
diam-diam menggerogoti laut dari dalam
sementara pelaut masih kalut
berlayar sebagai tuan di rumahnya sendiri
Di buku itu. Aku membaca kata adil
huruf demi huruf
namun di antara baris-barisnya
suara orang-orang kecil
masih ada terdengar lebih kecil, mengecil
daripada suara bedil
Di buku itu. Aku membaca kata makmur
pada tanah yang subur
tanah-tanah pandai melahirkan
tapi masih bingung cara memberi kenyang
pada panci-panci di dapur
masih ada yang mendidih
bukan karena nasi : mengepul karena dempul, utang dari sana sini
Lalu aku membaca lagi
kata merdeka
kepada sampul merahnya aku bertanya :
“Berapa darah
yang masih harus diingat?”
dan buku itu diam
kepada sampul putihnya aku bertanya :
“Berapa dosa
yang masih harus dibersihkan?”
dan buku itu masih tetap diam
Barangkali merdeka
pada buku itu
memang tidak kekurangan kata
kita yang hanya terlalu sering
merayakan judul pada sampulnya
tanpa membaca simpul isinya
Jeneponto, 16 Agustus 2026





