SELAMA MENJADI GURU (Perjalanan, Perjuangan, Cinta, dan Pengabdian)

SELAMA MENJADI GURU
Perjalanan, Perjuangan, Cinta, dan Pengabdian
Menjadi guru bukan hanya tentang berdiri di depan kelas, menyampaikan materi, atau memberikan nilai kepada peserta didik. Menjadi guru adalah perjalanan panjang yang penuh perjuangan, pengorbanan, kebahagiaan, kesedihan, pertemuan, dan kehilangan. Ada lelah yang tidak selalu terlihat, keluhan yang disimpan sendiri, serta doa-doa sederhana agar setiap langkah selalu diberikan kekuatan.
Bagi saya, menjadi guru Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK) merupakan perjalanan hidup yang mengajarkan banyak hal. Bukan hanya tentang olahraga dan kesehatan, tetapi juga tentang kesabaran, tanggung jawab, dan rasa syukur.
Perjalanan itu semakin terasa ketika saya harus meninggalkan tempat kerja sebelumnya, SMP Negeri 2 Cikoneng, karena mendapat penugasan untuk mutasi ke SDN 2 Margajaya. Lingkungan kerja, peserta didik, dan suasana sekolah yang berbeda membuat saya harus beradaptasi. Namun, saya memahami bahwa menjadi guru berarti harus siap ditempatkan di mana pun tenaga dan kemampuan kita dibutuhkan.
Saya tinggal di Dusun Ciragama, Desa Ciharalang, Kecamatan Cijeungjing, Kabupaten Ciamis. Sementara itu, tempat saya bertugas berada di SDN 2 Margajaya, Dusun Pasirangin, Desa Margajaya, Kecamatan Pamarican, Kabupaten Ciamis. Jarak yang cukup jauh membuat saya harus menempuh perjalanan menggunakan sepeda motor selama lebih dari satu jam.
Setiap pagi, ketika sebagian orang masih menikmati hangatnya tempat tidur, saya sudah bersiap berangkat. Sekitar pukul 05.45, saya meninggalkan rumah agar bisa tiba di sekolah sebelum pukul 07.00 untuk melakukan presensi. Udara dingin, jalanan yang terkadang berkabut, serta hujan yang turun di tengah perjalanan menjadi bagian dari keseharian saya.
Di sepanjang perjalanan, banyak hal terlintas dalam pikiran. Tentang pekerjaan, peserta didik yang menunggu pembelajaran, dan tanggung jawab yang harus saya jalankan. Namun, ada dua hal yang selalu menguatkan saya, yaitu istri yang menunggu di rumah dan calon buah hati yang sedang kami nantikan.
Kehadiran calon buah hati memberikan arti baru dalam perjuangan saya. Saya ingin menjadi suami yang baik, calon ayah yang bertanggung jawab, sekaligus guru yang tetap menjalankan tugas dengan sepenuh hati. Saya berharap kelak anak kami memahami bahwa cinta tidak selalu ditunjukkan melalui kata-kata atau hadiah mahal. Terkadang, cinta hadir dalam bentuk kerja keras, keberangkatan pagi-pagi sekali, dan usaha untuk menjaga tanggung jawab kepada keluarga.
Setibanya di sekolah, saya berusaha mengesampingkan rasa lelah dan menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya. Sebagai guru PJOK, saya ingin pembelajaran menjadi kegiatan yang menyenangkan. Saya tidak hanya ingin peserta didik menguasai gerakan olahraga, tetapi juga belajar tentang kerja sama, kedisiplinan, sportivitas, dan menghargai orang lain.
Melihat peserta didik tertawa saat bermain, berusaha menguasai gerakan baru, dan saling membantu memberikan kebahagiaan tersendiri. Sapaan sederhana dan cerita polos mereka terkadang mampu menghilangkan rasa lelah yang saya rasakan. Dari mereka, saya belajar tentang ketulusan, keberanian mencoba, dan semangat untuk bangkit ketika mengalami kegagalan.
Namun, tidak setiap hari berjalan mudah. Enam hari dalam seminggu, saya harus menjalani rutinitas bekerja dan menempuh perjalanan yang sama. Setelah kegiatan sekolah selesai sekitar pukul 14.00, saya kembali mengendarai motor menuju rumah. Biasanya, saya baru tiba sekitar pukul 15.20, bahkan terkadang lebih lama.
Perjalanan pulang sering kali terasa berat. Pinggang sakit, badan pegal, dan rasa lelah menumpuk setelah berjam-jam berkendara. Ada saat ketika saya mengeluh dalam hati dan bertanya sampai kapan harus menjalani perjalanan sejauh ini?. Saya hanyalah manusia biasa yang bisa merasa lelah dan kehilangan semangat.
Namun, setiap kali rasa lelah itu datang, saya kembali mengingat istri, calon buah hati, dan tanggung jawab yang telah dipercayakan kepada saya. Saya juga teringat peserta didik yang membutuhkan kehadiran saya untuk belajar dan mendapatkan teladan. Pikiran-pikiran itulah yang membuat saya kembali menguatkan diri dan bersyukur.
Saya mulai memahami bahwa perjuangan tidak selalu berupa sesuatu yang besar. Terkadang, perjuangan adalah kesediaan untuk bangun lebih pagi, berhati-hati di jalan, tetap bekerja meskipun lelah, dan pulang dengan harapan bisa berkumpul bersama keluarga.
Bagi saya, rumah bukan sekadar tempat untuk tidur dan beristirahat. Rumah adalah tempat untuk mengumpulkan kembali kekuatan. Obrolan sederhana dengan istri, perhatian ketika badan terasa pegal, dan waktu bersama setelah menjalani aktivitas masing-masing menjadi kebahagiaan yang tidak ternilai. Saya berharap kelak anak kami tumbuh sehat dalam keluarga yang penuh kasih sayang dan memahami arti kerja keras serta tanggung jawab.
Perpindahan tempat tugas juga mengajarkan saya tentang pertemuan dan kehilangan. Saya harus meninggalkan lingkungan yang telah dikenal, kebersamaan dengan rekan kerja, serta kebiasaan yang sebelumnya terasa akrab. Pada awalnya, perubahan itu menghadirkan banyak pertanyaan. Namun, seiring berjalannya waktu, saya belajar menerima bahwa setiap lingkungan membawa pengalaman dan pelajaran baru.
Saya percaya bahwa meninggalkan sesuatu bukan berarti melupakan semuanya. Pengalaman di SMP Negeri 2 Cikoneng tetap menjadi bagian dari perjalanan saya, sebagaimana pengalaman di SDN 2 Margajaya akan membentuk diri saya menjadi pribadi yang lebih dewasa. Setiap pertemuan meninggalkan cerita, dan setiap perubahan memberikan kesempatan untuk belajar.
Saya juga menyadari bahwa menjadi guru bukan berarti harus menjadi manusia yang sempurna. Masih banyak hal yang perlu saya perbaiki, baik dalam mengajar, mengelola waktu, maupun memahami kebutuhan peserta didik. Saya ingin terus belajar agar kehadiran saya dapat memberikan manfaat, meskipun melalui hal-hal sederhana.
Kini, saya memahami bahwa bersyukur bukan berarti tidak boleh mengeluh. Saya tetap bisa merasa lelah dan berharap keadaan menjadi lebih mudah. Namun, saya berusaha tidak hanya melihat jauhnya perjalanan atau sakitnya tubuh setelah berkendara. Saya ingin melihat keluarga yang menjadi alasan untuk bertahan dan peserta didik yang menjadi bagian dari pengabdian saya.
Pada akhirnya, selama menjadi guru, saya belajar bahwa hidup bukan hanya tentang seberapa jauh kita melangkah, tetapi juga tentang alasan kita terus berjalan. Selama masih diberikan kesehatan dan kesempatan, saya akan berusaha menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya, memperbaiki diri, serta mensyukuri setiap hal yang hadir dalam kehidupan.
Sebab, menjadi guru bukan sekadar profesi. Menjadi guru adalah bagian dari perjalanan hidup, tempat saya belajar tentang pengabdian, ketulusan, cinta, dan tanggung jawab.
Inilah cerita saya selama menjadi guru. Sebuah perjalanan yang tidak selalu mudah, tetapi selalu berusaha saya jalani dengan ikhlas dan penuh rasa syukur. Sejauh apa pun perjalanan menuju tempat kerja, selalu ada alasan untuk pulang, selalu ada cinta untuk dijaga, dan selalu ada harapan yang membuat saya kuat melanjutkan perjalanan.
Bagikan tulisan ini

Similar Posts

  • NALA & NAILA Dua Kembar, Dua Takdir, Satu Cinta

    NALA & NAILA Dua Kembar, Dua Takdir, Satu Cinta Pagi itu, hujan turun membasahi halaman rumah sederhana milik pasangan Sinta dan Brata. Hampir sepuluh tahun pernikahan mereka lalui dengan doa, kesabaran, dan harapan akan hadirnya seorang anak. Ketika tangisan bayi pertama terdengar di ruang bersalin, air mata Pak Brata langsung jatuh. Tak lama kemudian, bayi…

  • Voice Note dari Ibu

    Ponsel Raka bergetar untuk kesebelas kalinya hari itu. Di dalam KRL yang sesak, terjepit di antara bapak-bapak berransel besar dan mbak-mbak yang asyik menggulir TikTok, ia melirik layar. Ibu — Voice note (2:47). Dua menit empat puluh tujuh detik. Raka sudah hafal isinya: Sudah makan, Nak? Jangan lupa vitamin. Anak Bu Rini sudah nikah lho. Kamu kapan pulang? Ia mengetik cepat, “Iya Bu, nanti ya, lagi sibuk,” lalu memasukkan ponselnya kembali ke saku. Sudah tiga tahun Raka merantau di Jakarta. Kerja di startup, lembur hampir tiap hari, makan malam mi instan yang ia beri telur supaya terasa seperti masakan rumah. Hidupnya baik-baik saja, begitu selalu ia katakan pada Ibu. Yang tidak pernah ia katakan: ia belum sekali pun mendengarkan satu voice note sampai habis. Di sebuah rumah kecil di pinggiran Magelang, Ibu Sari duduk di teras sambil memegang ponsel dengan kedua tangan, seperti memegang burung kecil yang takut lepas. Dulu, Raka yang mengajarinya. “Gampang, Bu. Tekan terus ikon mikrofon, bicara, lepas.” Sejak itu Ibu jatuh cinta pada voice note. Mengetik terlalu lama, hurufnya kecil-kecil, jempolnya sering salah pencet. Tapi bicara? Empat puluh tahun ia bicara pada murid-murid SD, pada tetangga, pada ayam-ayamnya. “Sudah dibalas?” tanya Bu Rini dari pagar. “Sudah,” jawab Ibu, tersenyum. “Katanya sibuk.” Senyumnya tetap ada. Hanya matanya yang tidak ikut. Ada hal-hal yang tidak pernah dikeluhkan seorang ibu, karena ia terlalu sibuk memastikan anaknya baik-baik saja. Bulan Oktober, hujan turun nyaris tiap sore. Suatu Jumat malam Raka pulang dengan badan menggigil dan menjatuhkan diri ke kasur tanpa sempat melepas sepatu. Sabtu pagi, suhunya 39 derajat. Ia tidak punya tenaga untuk bangun, apalagi memasak. Ponselnya berbunyi lagi. Voice note (4:12). Biasanya ia abaikan. Tapi pagi itu, mungkin karena terlalu lemas untuk melakukan hal lain, jarinya menekan tombol putar. “Raka, Nak. Ibu lagi di teras. Hujannya deras sekali. Ibu jadi ingat waktu kamu kecil, takut petir, lari ke kamar Ibu bawa bantal. Kamu bilang, ‘Bu, aku nggak takut, cuma bantalnya yang takut.’” Raka tertawa kecil. Tawa itu berubah jadi batuk. “Ibu nggak mau ganggu. Ibu tahu kamu sibuk. Cuma, kalau Ibu kirim voice note, Ibu bisa dengar suara Ibu sendiri menyebut namamu. Rasanya seperti kamu masih di rumah. Aneh ya, Nak?” Hening sebentar. Hanya suara hujan di seberang sana. “Tadi Ibu masak sayur sop. Kebanyakan lagi. Empat puluh tahun masak untuk bertiga, sekarang tinggal Ibu sendiri, tangan Ibu belum mau diajak mengerti.” Ada yang menekan dada Raka, dan itu bukan demam. Ia memutar bagian terakhir itu tiga kali. Ia mencoba mengetik balasan, tapi jarinya gemetar dan kata-katanya terasa terlalu kecil. Akhirnya ia melakukan sesuatu yang belum pernah ia lakukan: menekan terus ikon mikrofon. “Bu, aku lagi sakit sedikit. Tapi nggak apa-apa. Aku denger voice note Ibu. Sampai habis.” Ia menelan ludah. “Maaf ya, Bu. Selama ini aku cuma bales ‘sibuk’. Padahal sayur sop Ibu yang paling aku kangenin di dunia ini.” Dua puluh detik kemudian, ponselnya berdering. Panggilan video. Wajah Ibu muncul terlalu dekat, setengah dahinya terpotong, dengan sepotong ayam lewat di latar. “Raka? Kamu sakit? Mukamu pucat sekali, Ya Allah!” “Bu, HP-nya kejauhan. Itu dahi Ibu doang yang kelihatan.” “Oh. Begini?” “Sekarang hidung.” Mereka tertawa, di dua kota yang berbeda, di bawah hujan yang sama. Ibu tidak menyuruhnya pulang. Itu yang membuat Raka akhirnya memesan tiket. Selasa pagi, setelah demamnya turun, ia duduk di kereta menuju Yogyakarta, lalu menyambung bus ke Magelang. Enam jam perjalanan yang tiga tahun ini selalu ia sebut “nanti kapan-kapan”. Di dalam bus, ia menggulir riwayat obrolannya ke atas, ke voice note paling awal. “Halo, Raka? Ini Ibu. Sudah sampai Jakarta? Ibu coba voice note ini, katanya bisa. Kalau kamu dengar, bales ya. Ibu bangga sama kamu.” Raka menutup mulut dengan tangan. Bapak di sebelahnya, yang sedang mengantuk, diam-diam menyodorkan tisu. “Rindu rumah, Mas?” “Rindu suara, Pak.” Raka mengangguk dan menatap keluar jendela. Sawah-sawah lewat satu per satu, hijau dan basah, seperti halaman-halaman buku yang lama tak ia buka. Magelang sore itu berbau tanah basah. Ibu sedang menyiram tanaman ketika langkah kaki terdengar di halaman. Ia menoleh, dan selang di tangannya terlepas begitu saja, airnya mengalir ke mana-mana. “Raka?” Ibu tidak berlari, tidak berteriak. Ia hanya berdiri, seolah takut kalau berkedip anak itu akan hilang. Raka yang melangkah lebih dulu, menjatuhkan ransel, dan memeluk perempuan kecil itu erat-erat. Bau minyak kayu putih dan sabun. Bau yang tidak dijual di toko mana pun di Jakarta. “Kamu kurus,” gumam Ibu di dadanya. “Ibu juga.” “Ibu ini langsing.” Malamnya mereka makan berdua di dapur. Sayur sop mengepul di tengah meja, cukup untuk lima orang. Raka menambah tiga kali. “Ibu nggak pernah marah kamu jarang pulang,” kata Ibu pelan. “Ibu cuma kangen.” “Aku tahu, Bu. Sekarang aku tahu.” Setahun kemudian, ponsel Raka bergetar di tengah lorong kantor. Voice note (5:03). Ia memasang earphone dan menekan putar. “Raka, Nak. Si Gundala sekarang punya anak ayam enam. Bu Rini nanya lagi kapan kamu nikah, Ibu bilang kamu masih sibuk jadi orang hebat. Oh iya, Minggu ini Ibu masak sayur sop. Kebanyakan lagi. Tapi nggak apa-apa. Kan kamu pulang.” Raka tersenyum. Ia menekan terus ikon mikrofon. “Iya, Bu. Aku pulang. Sisain yang banyak ya.” Di teras rumah kecil di Magelang, seorang ibu mendengar suara anaknya, dan seperti biasa, memutarnya dua kali. Karena kadang, yang paling ingin kita dengar bukan kabar penting, hanya suara orang yang menyebut nama kita dengan sayang.

Tinggalkan Balasan