
Sejauh Rantau, Sedekat Rumah
Sejauh Rantau, Sedekat Rumah
Di sebuah desa kecil di pelosok Kalimantan, suara jangkrik dan gemericik air sungai selalu menjadi musik pengiring malam bagi Okka. Sudah tiga bulan ia tinggal di rumah panggung beratap seng ini. Sebagai seorang pemuda asal pulau tetangga yang dibesarkan di riuhnya kota besar, keputusan merantau untuk menjadi guru honorer di sekolah Perkebunan kelapa sawit seperti melempar diri ke dunia yang benar-benar asing.
Awalnya, kesunyian pedalaman terasa mencekik. Jalanan lumpur yang menyiksa setiap kali hujan, ketiadaan listrik harian, hingga sinyal ponsel yang hilang-timbul membuat Okka sempat meragukan keputusannya. Namun, perlahan tapi pasti, rasa asing itu luluh oleh kehangatan yang tak pernah ia sangka.
Setiap pagi, sebelum matahari benar-benar naik, pintu pondok kecil Okka kerap diketuk. Bukan oleh tetangga dewasa, melainkan oleh langkah-langkah kaki mungil anak-anak didiknya.
“Pak Guru Okka! Ini ada pisang rebus dari Ibu!” teriak Adrian, murid kelas enam yang selalu bersemangat, sambil menyodorkan piring berbungkus daun pisang.
Di sekolah, kondisi kelas jauh dari kata layak. Papan tulisnya penuh goresan lama, dan atapnya sesekali bocor. Namun, mata anak-anak itu- Ifan, Ilma, Adrian, dan belasan anak pedalaman lainnya—memancarkan binar rasa ingin tahu yang tak terbatas. Bagi mereka, kedatangan Pak Guru Okka adalah jendela pertama mereka melihat betapa luasnya dunia.
“Pak Guru, apakah laut itu benar-benar tidak ada ujungnya?” tanya Ilma suatu hari saat Okka mengajarkan IPAS.
“Ada ujungnya, Ilma, tapi sangat jauh. Nanti kalua Ilma makin rajin belajar, Ilma bisa melihat laut itu sendiri,” jawab Okka lembut sambil tersenyum.
Melihat kepolosan dan semangat mereka, lelah Okka setelah berjam-jam menyeberangi sungai atau menembus lumpur menguap begitu saja.
Tidak hanya murid-muridnya, warga desa setempat juga merangkul Okka seperti keluarga sendiri. Sebagai seorang perantau yang hidup sebatang kara di tanah orang, Okka tidak pernah merasa benar-benar kesepian.
Ketika ia jatuh sakit karena demam malaria di bulan kelimanya bertugas, Pak RT dan ibu-ibu warga desa bergantian menjaganya. Mereka memasakkan bubur, membawa dedaunan herbal, dan memastikan api di dapur tempat tinggalnya tetap menyala agar Okka tidak kedinginan.
“Pak Okka sudah mendidik anak-anak kami membaca dan berhitung. Pak Okka ini sudah seperti anak kami sendiri di sini,” ujar Pak RT tulus sembari mengusap bahu Okka yang masih lemas.
Di situlah Okka menyadari sesuatu yang mendalam, cinta tidak selalu hadir dalam wujud kemewahan atau kata-kata manis, melainkan dalam perhatian tulus dan rasa kebersamaan yang saling menguatkan.
Hari Ulang Tahun Guru nasional menjadi momen yang paling tak terlupakan bagi Okka. Di sekolah kota, mungkin guru-guru mendapat buket bunga indah atau hadiah berbalut kertas kado mahal. Namun di pedalaman ini, anak-anak menyambut Okka dengan kepolosan yang menggetarkan dada.
Pagi itu, saat Okka melangkah masuk ke dalam kelas, ruangan mendadak hening. Tiba-tiba, Adrian dan kawan-kawannya maju berderet ke depan kelas. Dari belakang punggung masing-masing, mereka mengeluarkan “hadiah”; seikat sayur pakis segar, mangga muda hasil memetik di kebun, ikan hasil memancing di sungai, dan sebuah gambar tangan sederhana di atas kertas lusuh.
Gambar itu melukiskan seorang pria berkacamata yang memegang spidol, dikelilingi anak-anak kecil yang tersenyum lebar. Di bawahnya tertulis huruf-huruf miring yang digoreskan dengan pensil warna: Selamat Hari Guru, Pak Okka. Kami sayang Pak Guru.
Mata Okka berkaca-kaca. Dada pria perantau itu bergetar menahan haru. Ia melangkah mendekat dan merengkuh murid-muridnya dalam satu pelukan hangat.
Dua tahun telah berlalu. Masa tugas perantauan Okka sebenarnya telah usai, dan kesempatan untuk kembali ke kota besar dengan fasilitas yang nyaman sudah di depan mata. Namun, saat berdiri di tepi sungai sambil menatap anak-anak yang melambaikan tangan padanya dari kejauhan, Okka tersenyum mantap.
Ia tahu jawabannya. Ia tidak akan pergi.
Merantau ke pedalaman awalnya adalah pencarian arah hidup baginya. Namun di tanah yang jauh ini, di antara kesederhanaan dan ketulusan, Okka justru menemukan alasan terbaik untuk tetap bertahan: ia telah menemukan rumahnya di tengah cinta murid-murid dan warga desa.






