Menjembatani Layar dan Cita Karya: Umi Khomsatun

Di hadapan riak usia seragam putih abu-abu,
kutatap  mata yang terpaut pada pendar gawai.
Dunia bergerak cepat dalam jemari yang melaju,
menantangku merajut makna agar tak usai.

Bukan lagi sekadar merangkai materi di papan tulis,
aku belajar memahami seluk-beluk dinamika zaman.
Di antara bising informasi dan riyuh yang tak terkikis,
kujaga hangat teguran agar tetap menjadi pedoman.

Ada gejolak jiwa remaja yang mencari jati diri,
meraba arah masa depan di tengah bauran cita.
Kudengar setiap keluh dengan ketulusan hati,
menuntun gemuruh rasa menjadi karya dan cerita.

Meski zaman berganti dan teknologi terus membias,
sentuhan kasih seorang guru takkan pernah terganti.
Di ruang kelas ini kami saling belajar dan bertumbuh bebas,
menyemai benih karakter di dalam sanubari.

Selama napas pengabdian ini masih berembun lembut,
kugenggam janji setia mencerdaskan tunas bangsa.
Menjadi jembatan kokoh tempat mereka bertaut,
melangkah mantap menyongsong fajar Indonesia.

Bagikan tulisan ini

Similar Posts

Tinggalkan Balasan