
MIMPI SEORANG ANAK PETANI
MIMPI
SEORANG ANAK PETANI
Karya :
Diyan Febriani,M.Pd
KATA PENGANTAR
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Buku ini tidak saya tulis di ruangan ber-AC. Buku ini saya tulis dari ingatan tentang bau lumpur sawah, tentang atap gedek yang bocor saat hujan, dan tentang sepasang sandal jepit yang talinya diikat kawat.Saya hanyalah Diyan. Anak seorang petani yang bahkan tidak lulus SMP. Ibu saya hanya bisa cap jempol. Tapi merekalah guru pertama yang mengajarkan saya tentang arti sebuah mimpi. Bapak pernah berkata, “Mimpi secukupnya saja, Nduk. Setinggi pohon pisang saja.”
Bukan karena beliau tidak ingin saya tinggi, tapi karena beliau takut saya jatuh dan beliau tidak bisa menangkap saya. Banyak yang mengira buku ini tentang ijazah S2. Tentang gelar M.Pd. di belakang nama saya. Padahal bukan.Buku ini tentang perjuangan supaya bisa kuliah, bisa membayar uang smester. Tentang malam-malam menjaga warnet dan tidur di mushola. Dan buku ini juga tentang kehilangan. Tentang adik saya, Lestari, yang tidak sempat melihat saya memakai toga S2. Celengan ayamnya yang 320 ribu menjadi saksi, bahwa cinta seorang adik jauh lebih besar dari sekadar angka. Jika hari ini saya bisa berdiri di aula pendopo dengan seragam PNS, itu bukan karena saya hebat. Itu karena doa ibu yang tidak pernah putus di atas sajadah yang sudah sobek, dan karena punggung bapak yang rela bungkuk seharian di sawah demi membeli buku tulis untuk saya. Untuk setiap anak petani di luar sana yang sedang membaca buku ini sambil berteduh di gubuk sawah, yang sedang berkecil hati karena sepatunya berbeda, bekalnya berbeda: Jangan pernah malu jadi anak petani. Mimpi kita memang berawal dari lumpur, tapi tidak ada yang melarang lumpur itu memantulkan langit.
Terima kasih, Pak, Bu, dan untukmu, Les. Gelar M.Pd. ini bukan milikku. Ini milik kita.
Magetan, 2026
HALAMAN PERSEMBAHAN
Untuk Alm.Bapak,
yang tangannya kapalan karena cangkul,
yang kakinya pecah-pecah karena lumpur sawah,
Terima kasih telah menjual sawah demi sepatu saya, Pak.
Maaf, dulu saya pernah malu dipanggil anak petani.
Untuk Ibu,
yang hanya bisa cap jempol di rapor saya,
tapi cap jempol itu lebih berharga dari seribu tanda tangan pejabat.
yang bekal nasi dibungkus daun jatinya selalu saya malu-malu sembunyikan,
yang sajadah sobeknya menjadi saksi doa-doa panjang untuk anaknya,
yang air matanya jatuh diam-diam di dapur saat tetangga merendahkan kita.
Dan untuk Adikku, Deni,
Perawat surgaku.
Celengan ayammu masih ada di sini.
Terima kasih 320 ribu-nya.
Maaf, Mbak belum sempat membelikanmu seragam putih itu di dunia.
Tunggu Mbak di surga ya, dengan seragammu yang paling cantik.
Dan untuk setiap anak petani di desa saya, di pelosok Magetan, dan di seluruh Indonesia, yang masih berjalan tanpa alas kaki demi sekolah.
Buku ini adalah milik kalian.
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ii
HALAMAN PERSEMBAHAN iv
DAFTAR ISI vi
1.CAP JEMPOL RAPORT 1
2 .SEPATU PERTAMA 2
3.IBU MEMILIKI JANTUNG NDUKMAH 4
4.POHON PISANG 6
5 .STAN 8
6 .KULIAH DI LUAR NEGERI 12
7. WISUDA SENDIRI 14
8. KEMBALI ke KAMPUNG 16
9 . MUSIBAH TERBERAT MENGHAMPIRI 18
10. WARNET MALAM DAN SKD PERTAMA 21
11.TELEPON IBU DAN PENGUMUMAN KE-2 (P2) 23
1
CAP JEMPOL RAPORT
Namaku Diyan gabungan nama Di dari nama bapak Pandi dan yan dari nama ibu yatinem. Sesederhana itu? Ya…orang tuaku adalah orang yang sederhana sekali. Ibuku tidak lulus SMP sedangkan bapak lulusan STM. Keduanya bekerja sebagai buruh tani.
Raport Diyan dibagikan hari Jumat. Semua wali murid tanda tangan pakai pulpen.Hanya ibunya yang dipanggil bu guru ke depan. Bu guru menyodorkan bantalan tinta merah kecil.
“Monggo bu, cap jempol di sini.”
Satu kelas melihat. Diyan menunduk sampai dagunya menyentuh meja. Ia tidak marah ke ibunya. Ia marah ke dirinya sendiri karena malu.Di jalan pulang, ibu menggandengnya. Tangan ibu kasar.
“Nduk tanda tangan itu kayak apa to? Yang bikin kamu bisa jadi orang kantoran?”Diyan tidak menjawab.
Di dalam tasnya ada raport dengan ranking 1. Di jempol ibunya masih ada sisa tinta merah yang tidak mau hilang. Malam itu Diyan mengajarkan ibu tanda tangan. Diyan menulis di tembok gedek dapurnya pakai arang: “Diyan S2 PNS”. Ibu memarahinya karena mengotori tembok. Bapak hanya diam, lalu mengelus tulisan arang itu, membacanya dengan suara yang bergetar. Sedangkan ibu mengaminkan dengan ikhlas.
2
SEPATU PERTAMA
Sepatu Diyan jebol bulan Agustus. Bukan jebol karena nakal. Solnya memang sudah dua kali dijahit pakai benang sol sepatu di Mak Tum tukang sol di pasar Karangmojo. Jahitan terakhir sudah tidak kuat lagi. Saat Diyan berlari waktu upacara hari Senin, solnya mangap seperti mulut ikan. Teman-teman di belakang menahan tawa. Diyan pura-pura tidak dengar, tapi telinganya merah sampai sore. Ia tidak berani bilang ke bapak. Ia tahu, bulan itu uang saku sekolahnya pun sudah telat tiga minggu. Tapi ibu tahu. Ibu melihat sepatu itu dijemur di belakang rumah, diikat pakai karet ban. Malam itu bapak dan ibu berbisik di dapur. Diyan menguping dari balik gedek.
“Pak, sepatune Diyan…”
“Hmm.”
“Ndak tega aku.”
Bapak diam lama. Suara jangkrik di sawah belakang rumah jadi keras sekali.
“Besok bapak ke rumah Pak Haji.”
Pak Haji adalah pemilik sawah terluas di desanya. Rumahnya paling besar di desa. Keesokan harinya bapak pulang membawa uang. Tidak banyak. Tiga lembar uang seratus ribuan yang lecek. Dan satu kotak kardus. Di dalam kardus ada sepatu hitam mengkilap. Bau toko. Ukuran 39. Agak kebesaran untuk kaki Diyan yang masih kelas 5 SD. Bapak bilang,
“Coba, Nduk.”
Diyan memakainya. Kebesaran, tapi ia suka. Ia jalan mondar-mandir di tanah depan rumah. Bapak melihatnya sambil tersenyum, giginya yang tinggal separuh kelihatan.
“Besok kalau upacara tidak mangap lagi.”
Baru seminggu kemudian Diyan tahu dari ibu. Untuk beli sepatu itu, bapak menjual petak sawah paling pinggir. Petak yang paling kecil, yang warisan dari simbahnya. Petak yang bapak bilang,
“Ini nanti buat kamu, Nduk, kalau bapak sudah tidak ada.”
Diyan nangis di pematang petak itu. Petaknya sudah dipatok bambu oleh orang lain. Tanahnya masih sama, tapi sudah bukan milik bapaknya lagi. Ia lari pulang, ia buka kardus sepatunya. Di bawah kertas alas sepatu, ada tulisan Ibu. Tulisan miring-miring, hurufnya besar-besar, seperti anak kelas 1 belajar menulis.
Tulisannya:
“DIYAN HARUS JADI ANAK PINTER”
Ibu yang tidak bisa tanda tangan, yang hanya bisa cap jempol, memaksakan diri menulis itu untuk anaknya. Sejak hari itu, Diyan tidak pernah membuang kardus sepatu itu. Bahkan ketika sepatunya sudah kekecilan di SMP, kardusnya ia simpan di bawah dipan. Dan tulisan “DIYAN HARUS JADI ANAK PINTER” itu ia tempel di dalam buku tulisnya, sampai tulisannya luntur kena keringat. Itu adalah ijazah pertama yang ia dapat. Bukan dari sekolah, tapi dari ibunya.
3.
IBU MEMILIKI JANTUNG LEMAH
Buk….ibuk…bangun buk….terdengar suara bapak memanggil ibu . suara bapak terdengar berat dan bergetar seperti menahan tangis. Rumah sudah penuh dengan saudara yang berkumpul. Saat itu Diyan baru pulang sekolah. Tanpa bepikir Panjang diyan berlari ke dalam rumah. Hatinya hancur saat melihat ibu ada di dekapan bapak dalam kondisi pingsan. Kejadian ini bukan pertama kali melaikan sering terjadi. Ibu mempunyai penyakit bawaan yaitu jantung lemah, sehingga sering pingsan dan keluar masuk rumah sakit. Hasil panen sawah selalu dipakai untuk membayar hutang biaya rumah sakit. Terkang hasil panen tidak cukup jadi harus meminjam ke sanak saudara yang lain.
Meskipun sering kekurangan uang, namun bapak selalu memprioritaskan biaya sekolah Diyan. Membayar buku-buku, uang SPP dan kebutuhan sekolah lainnya. Ibu sering bilang
“ Diyan anak orang tidak punya harus sekolah dengan sungguh-sungguh agar nanti bisa sukses”.
Kata-kata ini seolah jadi cambuk semangat untuk Diyan untuk lebih lagi rajin belajar. Sedikit demi sedikit dia kumpulkan tekat untuk meraih mimpinya.
4.
MIMPI SETINGGI “POHON PISANG”
Di belakang rumah Diyan ada pohon pisang. Pohon itu tidak pernah berbuah besar. Buahnya kecil-kecil, tapi bapak tidak pernah menebangnya.
“Kenapa tidak ditebang saja, Pak?” tanya Diyan suatu sore.
“Buat ngukur mimpi,” jawab bapak.
Diyan tidak mengerti.
“ Mengapa pakai pohon pisang Pak ?” tanya Diyan penasaran sekaligus bingung. Namun bapak tidak menjawab. Didalam hati Diyan sungguh penasaran mengapa bapak bilang seperti itu. Tapi rasa itu dia pendam karena melihat bapak yang sibuk bekerja
Rumah mereka dari gedek bambu. Kalau hujan, air masuk dari sela-sela. Satu-satunya kamar yang tidak bocor adalah dapur. Di dapur itulah Diyan belajar. Kelas 6 SD, pelajarannya makin susah. Diyan harus belajar untuk ujian akhir. Tapi rumahnya ramai. Ibu menggoreng bawang, adiknya nangis, tetangga numpang nonton TV satu-satunya yang ada di desa. Diyan tidak bisa konsentrasi. Ia marah, ia banting buku.Bapak yang baru pulang dari sawah melihatnya. Bapak tidak marah. Bapak hanya mengambil senter dan tikar.
“Ayo.”Bapak mengajaknya ke kandang sapi.
Kandang itu bau, tapi sepi. Hanya ada suara sapi mengunyah. Di kandang itu, di bawah lampu senter yang baterainya sudah redup, Diyan belajar perkalian. Bapak duduk di sebelahnya, tidak mengerti apa yang dibaca anaknya, hanya mengusir nyamuk dengan sapu lidi.Setiap Diyan menguap, bapak berkata,
“Sudah, Nduk, mimpi secukupnya saja. Setinggi pohon pisang di belakang itu. Jangan tinggi-tinggi, nanti jatuh sakit.”
Diyan mengangguk, tapi di dalam hati ia berbisik,
“Aku mau lebih tinggi dari pohon pisang itu, Pak.”
Ujian akhir datang. Diyan ranking 1 se-kecamatan Karangmojo. Namanya dibacakan pakai pengeras suara di balai desa. Kepala desa menyalami bapaknya. Bapak pulang dengan dada busung. Malam itu untuk pertama kalinya bapak menebang pisang di belakang rumah.
“Buat apa, Pak?” tanya Diyan.
“Buat syukuran. Besok bapak bagikan ke tetangga. Anak bapak ranking 1” jawab bapak.
Pisang yang selama ini jadi pengukur mimpi itu akhirnya ditebang, karena mimpi anaknya sudah lebih tinggi dari pohonnya. Di tunggul pohon pisang itu, Diyan menancapkan kayu. Ia tulis pakai spidol, “SMP, SMA, KULIAH S1, S2.” Bapak melihatnya dan hanya menggeleng sambil tertawa,
“Wah, mimpi kamu sudah setinggi tower sekarang, Nduk.”
Tapi bapak tidak mencabut kayu itu. Kayu itu dibiarkan berdiri di sana sampai lapuk dimakan hujan, menjadi saksi.
5
STAN
Diyan diterima di SMA Negeri 1 Maospati. Jaraknya 14 kilometer dari rumah. Tidak ada motor. Tidak ada uang kos. Jadi setiap pagi Diyan berangkat jam setengah enam pagi, naik sepeda ontel bapak yang rangkanya sudah karatan. Berangkat pagi, pulang maghrib. Di SMA, Diyan sadar ia berbeda. Teman-temannya sepatunya bersih, bekalnya pakai kotak. Diyan bekalnya nasi dibungkus daun pisang, lauknya bawang goreng sisa panen kemarin.Ia diejek sekali,
“Eh, bekalmu wangi bawang.”
Sejak itu ia makan di belakang mushola, sendirian.Tapi nilainya tetap di atas. Hari ini hari senin, diyan dipanggil oleh guru kimia ke ruang guru.
Bu Riatmi bilang, “Diyan, kamu harus kuliah. Jangan berhenti di SMA”.
“Bisa kuliah itu Bagai mimpi bagi Diyan bu,” jawab diyan dengan suara yang bergetar.
“Dengan keadaan orang tua saya yang seperti ini, apa itu mungkin bu…..lanjut Diyan.
“ Bisa, kamu bisa kuliah dengan beasiswa.”
Seolah mendapatkan semangat baru Diyan mulai merangkai mimpinya. Setiap hari waktu luangnya digunakan untuk membaca buku, belajar dan belajar.
Kelas 2 semester 1 Diyan terpilih menjadi peserta olimpiade fisika. Mewakili SMAN 1 Maospati di tingkat Kabupaten. Diyan meraih juara 1.
Di kelas 3 Diyan masuk di kelas unggulan yaitu IPA 1. Dia pun senang sekali tapi juga sedih. Satu kelas hampir semua anak orang kaya, anak pegawai negeri hanya dia seorang yang anak petani. Tapi semangat dan kata – kata ibunya selalu dia ingat. “ DIYAN BISA”. Semua anak dikelas IPA 1 mengikuti les tambahan. Namun Diyan tidak ingin membebani orang tuanya lagi dengan biaya les. Setiap hari diyan selalu menyisihkan uang yang diberikan oleh bapaknya untuk membeli buku-buku latihan soal. Dia yakin dengan rajin berlatih dia tidak akan tertinggal dengan teman-teman yang mengikuti les tambahan.
Hari jum’at ini adalah penerimaan raport , namun bapak/ ibu tidak dapat hadir mengambil raport karena Ibunya sakit .Ada sedikit rasa kecewa dan juga sedih. Namun dia tetap berusaha untuk tegar.
“ Permisi bu…”. Diyan mengetuk pintu wali kelasnya.
“ ya…masuk!….jawab bu Riatmi.
“maaf bu, bapak ibu tidak bisa ambil raport, ibu sakit.”jelas diyan dengan suara pelan.
“Ya, tidak apa-apa. Ini raportmu…..dan ini kamu dapat surat kamu buka !”. Jawab bu riatmi.
“ Ya bu….jawab diyan.
“Lo….kenapa mukamu sedih?” tanya bu riatmi. “ Harusnya kamu seneng kan????”
“Alhamdulillah ….tapi ITB itu kan jauh bu….saya tidak yakin ibu bapak akan mengijinkan. Apalagi Biaya hidup disana juga besar, orangtua saya tidak mampu bu” jelas diyan dengan mata yang mulai berair.
“ Terus maumu bagaimana diyan…..” tanya bu riatmi.
“ kira-kira ada ndak bu kuliah gratis dan ada asrama gratis juga” jelas diyan.
“ ada. Di STAN. Sekolah Tinggi Akutansi Negara”
Seolah mendapat angin segar, diyan merasa mimpinya untuk kuliah bisa dia raih. Setiap hari dia mengumpulkan informasi tentang STAN. Setiap hari belajar dengan keras , mengerjakan soal-soal. Sampai akhirnya waktu tes pun tiba. Tes dilaksanakan di Jakarta. Berbekal uang tabungan ditambah uang dari ibu dari hasil panen padi, diyan berangkat ke Jakarta. Tes pertama Lolos. Memasuki tes ke dua ternyata hasilnya tidak sesuai harapan . Diyan merasa hancur….hatinya sedih. Kesempatan untuk kuliah gratis gagal.
6
Kuliah di Luar Negeri
Seperti biasa sehabis sholat subuh di mushola diyan tidak langsung pulang. Apalagi hatinya masih sedih sekali atas kegagalan kuliah di STAN. Ingin bercerita ke bapak dan ibu tapi dia tau pasti orang tuanya akan ikut sedih. Dia tidak mau menambah beban ibunya.
Tiba-tiba ada seseorang yang menegurnya.
“ Diyan kan…?? “ tanya seorang kakak Perempuan yang cantik sekali wajahnya.
“ Iya mbak..” jawab diyan.
“ kenapa kamu bengong disini diyan….” Goda kakak cantik itu.
“ ah tidak mbak…aku lagi mikir kira-kira aku bisa kuliah sambil kerja bisa nggak ya….??”
“ Bisa, Diyan mau kuliah ?
“iya”
Tercipta obrolan Panjang antara diyan dan kakak cantik itu. Seolah mendapat motivasi baru tumbuh semangat baru dan tekat baru untuk dia kuliah sambil kerja. Tapi….yang jadi masalah kuliah tidak di Indonesia tetapi di Malaysia. Apakah bapakibu akan mengijinkan????
Waktu pendaftaran kualiah di Malaysia tinggal 4 hari lagi. Tapi diyan belum berani cerita ke bapak ibu. Dia takut bapak ibu tidak mengijinkan. Tapi kalau dia tetap di rumah dia tidak akan bisa kuliah. Demi masa depan dan cita-cita malam itu diyan beranikan diri mengungkapkan keinginannya.
Terkejut!!! Ternyata bapak mengijinkan. Meski jelas terlihat diwajah bapak ibu berat dan sedih. Tapi demi keinginan diyan bapak dan ibu seolah menelan kesedihan mereka. Atas ijin bapak ibu diyan mendaftar kuliah di Malaysia dengan jurusan Tarbiyah “ PGRA” sekaligus mendaftar pekerjaan sebagai buruh produksi di pabrik elektronik. Hari senin sampai sabtu diyan bekerja dengan sif siang dan malam. Hari minggu diyan kuliah mulai jam 8 sampai jam 10 malam.
Berat sungguh berat tapi semangatnya demi masa depan diyan bertahan hingga lulus dengan nilai sangat memuaskan.
7
WISUDA SENDIRI
Foto wisuda diyan hanya satu. Difoto oleh lilik, di depan gedung Graha IAIN Malaya. Backgroundnya spanduk wisuda yang sudah ditekuk angin. Diyan pakai toga kebesaran, baju kurung satu-satunya yang dia punya. senyumnya kaku, tidak ada bunga ,tidak ada keluarga yang meneriakkan namanya.
Dua hari lalu diyan memberi kabar ke bapak ibunya melalui telepon. Ibunya terdengar menangis bahagia atas kelulusannya. “Alhamdulillah…..nduk kamu sudah lulus, cita-citamu kuliah berhasil. Semoga ilmu yang kamu dapat bermanfaat untuk masa depanmu. “ Doa ibunya.
“ bu…kalau Alloh mengijinkan diyan ingin melanjutkan sokolah S2 “ terang diyan.
Mendengar itu pecah tangis ibunya….beliau bangga tapi juga sedih. Anaknya harus bekerja sangat keras untuk kuliah.
“ tapi nduk…” terdengar tangis lirihnya.
“ bisakah kamu kuliah di dekat kampung sini saja, biar ibu dan bapak bisa melihatmu setiap hari” ibunya diam sejenak , dengan suara serak ibu melanjutkan
“ bapak sakit nduk”.
Terkejut, diyan sungguh terkejut . 4 tahun tidak bertemu dengan bapaknya tiba-tiba mendengar berita bapak sakit.
“ Baik bu….diyan usahakan segera pulang setelah kontrak kerja habis.” Kata diyan
“ Baik nduk “ jawab ibu
Saat kontrak kerja habis diyan segera mengurus dokumen untuk kepulangan ke Indonesia. Terharu dan juga senang sekali saat bertemu lagi dengan keluarga. Bapak dan ibunya sewa mobil untuk menjemput di bandara. Keluarga yang lain juga ikut menyambut.
8
KEMBALI ke KAMPUNG
Tiga bulan ia tidak melakukan apa-apa. Ia kembali jadi pengangguran. Membantu di sawah yang dulu dijual bapaknya, beberapa kali memasukkan lamaran pekerjaan namun belum ada satupun yang diterima. sekarang ia jadi buruh di sawah milik orang lain. Punggungnya sakit lagi, seperti bapaknya dulu. Sore itu hujan deras. Diyan berteduh di gubuk tengah sawah bersama bapak. Bapak menyalakan rokok tingwe lintingannya. Bapak berkata tanpa melihat Diyan,
“Nduk, kamu tahu kenapa bapak dulu jual sawah buat sepatumu?” Diyan diam.
“Karena bapak tidak mau kamu ngerasain lumpur ini seumur hidup. Kalau kamu capek, tidak apa-apa. Pulang saja. Tapi jangan pulang karena kamu merasa gagal. Pulanglah karena kamu sudah selesai.”
Kata “selesai” itu menyambar Diyan. Ia belum selesai. Malam itu juga, dengan sisa kuota HP ibu, Diyan mulai mencari-cari peluang untuk kuliah lagi. Bayarnya bisa dicicil.
ada…kuliah PGSD di UT jurusan PGSD. Biayanya cukup terjangkau dan bisa dicicil. Keputusan mengambil kuliah PGSD Adalah masukan dari ibunya. Menurut ibu kuliah PGSD peluang untuk menjadi pegawai negeri lebih banyak. Diyan hanya bisa mengikuti keinginan ibunya. Dia berharap itu merupakan ridho dari seorang ibu.
Biaya kuliah dia tanggung sendiri. Diyan membuka bimbingan belajar di rumah. Bimbingan membaca dan berhitung anak-anak sekitar rumah dengan biaya seikhlasnya. Waktu pagi Diyan ikut memberi tambahan membaca di SD terdekat. Dengan sisa uangnya diyan gunakan untuk modal berjualan tas, korden dan juga make up. Semua dia lakukan yang penting halal. Diyan tidak malu melakukan itu selama itu halal. Semua demi cita-citanya. Kuliah 4 tahun jurusan PGSD diyan pun lulus dengan nilai memuaskan. Meskipun tidak tinggi tetapi diyan cukup puas.
9
MUSIBAH TERBERAT MENGHAMPIRI
Adik Diyan namanya Deni. Usianya 17 tahun. Kelas 3 SMA. Kalau Diyan adalah anak yang pendiam dan kutu buku, Deni adalah kebalikannya. Ceria, bawel, dan paling berani membantah bapak. Deni lah yang paling bangga punya kakak S1. Di status WA nya ia tulis,
“mbak ku sarjana!!”.
Tiap ada tamu ke rumah, Deni yang mengambilkan bingkai ijazah Diyan dari dinding dan menunjukkannya,
“Ini lho ijazah mbak ku.”
Deni punya mimpi sendiri. Ia ingin jadi perawat. Ia bilang ke Diyan,
“Mbak, nanti kalau mbak lulus, Deni kuliah jadi perawat ya. Kita obati bapak sama ibu bareng-bareng.”Diyan mengangguk.
Janji itu diucapkan di pematang sawah, bulan Juni. Bulan Juli, Diyan baru satu bulan lulus kuliah S1. Ia lagi jaga warnet malam di daerah Barat.
HP ibu berdering. Nomor ibu tidak pernah menelepon jam segitu.
Suara Bapak hancur.
“Nduk… pulang… Deni…”Diyan tidak mendengar kalimat selanjutnya.
Ibu sudah tidak sadarkan diri. Motornya ia geber dari tempat kerja tanpa berhenti. Hujan.Sesampainya di rumah, rumah gedeknya sudah penuh orang. Lampu petromak menyala. Di tengah rumah, terbujur Deni. Ditutup kain jarik. Kecelakaan motor sepulang bimbel. Ditabrak truk sayur di tikungan Desa Tambakromo. Supirnya kabur. Bapak duduk di pojok. Tidak nangis. Tidak bersuara. Tatapannya kosong ke bingkai ijazah Diyan yang miring di dinding. Topi capingnya jatuh di lantai. Diyan berlutut. Ia buka kain jarik itu pelan. Wajah adiknya masih ada luka. Tangan adiknya masih menggenggam erat jilbabnya yang sobek. Ibu berbisik, “Tadi pagi dia cari kamu, Nduk. Katanya mau minta tolong belikan buku tulis buat daftar perawat.
Hari itu Diyan tidak jadi kakak sarjana. Ia kembali jadi anak petani yang tidak bisa apa-apa. Ijazah S1 nya tidak bisa menolong adiknya. Uang hasil jaga warnetnya tidak bisa menghidupkan adiknya. Pemakaman Deni siang itu. Bapak yang biasanya kuat mencangkul seharian, tidak kuat mengangkat keranda anaknya. Diyan yang mengangkat nisannya deni. Di nisan Deni yang hanya dari kayu, Diyan menancapkan kayu yang dulu ia tancapkan di tunggul pohon pisang. Tulisan “SMP, SMA, KULIAH, S2, PNS” sudah lapuk. Ia tulis lagi di bawahnya dengan spidol yang ia bawa dari Malaysia: “DENI, PERAWAT SURGA.” Malam setelah tahlilan hari ketiga, bapak memanggil Diyan ke kandang sapi. Tempat belajar mereka dulu. Bapak menyodorkan kaleng biskuit Kong Guan yang dulu untuk bingkai ijazah. Sekarang isinya bukan uang. Isinya celengan ayam Deni yang dibongkar. Recehan, uang 2 ribu, 5 ribu, total 320 ribu. Ada surat kecil tulisan Deni.”Buat Mbak Diyan daftar S2. Semangat Mbak.”Tulisan adiknya jelek, tapi jelas.Di situ Diyan pecah. Ia peluk bapaknya. Dua laki-laki petani yang tidak pernah diajari cara menangis, menangis seperti anak kecil di kandang sapi yang bau, di bawah lampu senter redup. Sejak malam itu, mimpi Diyan bukan lagi mimpinya sendiri. Ada satu nama lagi yang harus ia bawa sampai ke aula pendopo Kabupaten nanti.
10
WARNET MALAM DAN KULIAH PGSD
Setelah Deni tidak ada, rumah gedek itu jadi lebih sepi dari biasanya. Ibu tidak lagi berisik menggoreng bawang. Bapak lebih sering diam di sawah sampai maghrib. Kaleng celengan Deni yang 320 ribu itu Diyan simpan di dalam tas S2 nya. Tidak ia belanjakan. Itu jadi jimat.
Diyan kembali ke rutinitas. Kuliah harus tetap jalan. Biaya UKT semester delapan 1,8 juta. Tidak ada beasiswa. Tidak ada yang bisa diharapkan. Ia dapat kerja jaga warnet di Keras Wetan. Shift malam, jam 9 malam sampai jam 5 pagi. Upahnya 700 ribu sebulan, plus boleh pakai komputer warnet gratis untuk ngerjain tugas. Siang ia kuliah. Sore ia ngelesi anak SD 3 orang, bayaran seikhlasnya. Malam ia jaga warnet. Tidurnya di mushola warnet, pakai sarung, jam 5 pagi sampai jam 7 pagi, sebelum pemilik warnet datang.Matanya merah permanen.
Temannya bilang, “Di, kamu sakit?”
Diyan hanya jawab, “Begadang tugas.”
Di warnet itulah ia kenal dengan dunia CPNS. Pelanggan warnet kebanyakan anak SMA yang main game, tapi ada satu pelanggan tetap, Mas Andi, yang tiap malam buka situs BKN, belajar soal SKD.
“Mbak Diyan mau jadi PNS ya? Belajar bareng sini,” ajak Mas Andi.
Diyan yang dulu menulis “PNS” pakai arang di tembok dapur, akhirnya belajar sungguhan. Di warnet bau rokok itu, di antara suara “Double Kill!” anak-anak, Diyan dan Mas Andi mengerjakan soal TIU, TWK, TKP sampai subuh.
Tahun 2014, tepatnya bulan Oktober diyan lulus Sarjana dengan jurusan PGSD. Namun saat acara wisuda diyan dan keluarga tidak bisa datang. Bapak sakit dan harus dirawat dirumah sakit. Diyan tidak tega mau meninggalkan ibunya sendiri.
“ diyan kapan kamu wisuda” ibunya membuka obrolan disaat menunggu bapak disuatu rumah sakit.
“ Hari jum’at bu” jawab diyan dengan raut wajah sedih .
“ Jum’at lusa ???”
“ iya Bu….”
“ Diyan ikut??”
“ Tidak bu, biaya bisa kita pake untuk pengobatan bapak, tidak ikut acara wisuda tetep lulus kok bu “ Diyan mencoba Ikhlas. Wajahnya dipaksa tersenyum. Hal ini ia lakukan agar ibunya tidak terlalu sedih.
“ Sabar ya nduk “
“ iya ibu….tenang ….yang terpenting saat ini bapak segera dapat penanganan dokter, dan cepat sembuh “ Diyan tersenyum untuk menyemangati ibunya.
11
TES CPNS
November 2018, formasi CPNS Kabupaten Magetan dibuka. Diyan ikut mendaftar Formasi Guru Kelas Ahli Pertama. Ia daftar pakai uang celengan Deni untuk beli meterai dan print berkas. Hari ujian SKD di Gedung Asrama Haji Madiun. Diyan pakai kemeja putih satu-satunya yang sudah menguning di kerah. Sepatu yang dulu dibeli bapak dengan jual petak sawah itu sudah ia semir lagi.
Tahun di mana semua berjuang. Diyan duduk di antara ribuan peserta, kacamata bulat, kerudung bunga, fokus di SOAL 17 / 100 SOAL CPNS PGSD 2018 dengan waktu tersisa 41:03. Di meja Mbak ada papan nama peserta ujian no. Peserta: 2018CPNS08452 dan lembar rencana jawaban. Di belakang spanduk-spanduk bertuliskan LOKET PENGAWAS – MEJA 01-50 dan JANGAN MENCONTEK – AWASI KECURANGAN – SANKSI DISKUALIFIKASI. Ini adalah tahun Diyan membuktikan bahwa anak warnet Karangmojo yang dulu mencatat di toples tabungan Kuliah 350.000 bisa duduk sejajar dengan ribuan sarjana lain.
Soal TWK keluar. Tentang Pancasila, tentang bapaknya yang cap jempol. Diyan menjawab dengan air mata. Skor keluar: 430. Passing grade tahun itu 434. Kurang 4 poin. Diyan keluar ruangan, ia tidak nangis di dalam. Ia jalan ke toilet asrama haji lantai 2, ia kunci pintunya, ia nangis pelan supaya tidak didengar petugas.
Ia telepon ibu,
“Bu, Diyan gagal lagi.”
Di seberang, ibu juga nangis. Tapi bapak merebut HP nya. Bapak bilang, kalimat yang sama seperti 15 tahun lalu di kandang sapi,
“Mimpi secukupnya saja, Nduk. Setinggi pohon pisang.”Diyan membalas,
kali ini tidak mengangguk. Ia berkata,
“Tidak, Pak. Kali ini Diyan mau setinggi langit. Buat Deni.”
Ia tutup telepon. Di luar toilet, pengumuman peserta sesi berikutnya dipanggil. Diyan menghapus air matanya, merapikan kemeja putihnya yang kuning, dan keluar. Di tangannya masih ada kartu ujian yang basah kena keringat. Gagal pertama. Masih ada tahun depan.
11
TELEPON IBU DAN PENGUMUMAN KE-2 (P2)
Tahun 2018 tahap 2 Diyan menerima berita pengumuman lolos tes CPNS tahap dua ( P2 ). Disaat hampir saja diyan menyerah karena bapak sakit. Diabetes bapak sudah kronis. Kaki bapak luka, tidak sembuh-sembuh. Harus dirujuk ke RSUD Magetan untukoperasi amputasi. Diyan menjadi perawat untuk bapaknya, menggantikan mimpi Deni yang tidak kesampaian. Adiknya meninggal, Musibah terus Ibu dengar itu. Malamnya ibu menangis di dapur. Diyan mendengar. Ia masuk dapur, ia peluk ibunya dari belakang, seperti waktu kecil. Tiba-tiba ada email masuk yang isinya pengumuman tahap ke 2 dan disana tertulis diyan lolos tes tahap 2.
“Bu, Diyan belum selesai.”
“Bu… Alhamdulillah Bu… Diyan Lolos PGSD P2 Bu….”
“ Alhamdulillah ya nduk….beneran ini nduk????” Suara ibu bergetar hamper menangis, menangis karena haru dan Bahagia. Test berikutnya diyan lakukan dengan keyakinan penuh, bahwa dia pasti lolos.
Bapak agak sembuh. Bisa jalan lagi pakai tongkat. Di bawah lampu yang sama dengan tempat ia duduk dulu bapak menunggu kepulanganku membawa map yang berisi Surat Keputusan CPNS. Ibu jam 5 pagi sebelum ia berangkat.
“Nduk, ibu mimpi Deni semalam.”
“Mimpi apa, Bu?”
“Deni pakai seragam putih, kayak perawat. Dia bilang, ‘Bu, bilang Mbak Diyan, hari ini bajunya yang rapi ya, mau dipanggil Bupati.” Cerita ibu
“ kamu digandeng menuju rumah joglo yang besar sekali nduk” lanjut ibu.
Diyan diam lama. Dadanya sesak.
“Iya Bu.”
SKD tahun ini ia dapat 412. Ranking 3. Lolos ke SKB. SKB itu tes sesuai dengan formasi yaitu PGSD. Berisi tentang pengelolaan kelas, pedagogig, kelas inkuiri dan masih banyak lagi . Diyan mengikuti tes dengan semangat dan keyakinan penuh diantar oleh suami.
Satu bulan penantian. Satu bulan paling lama seumur hidup Diyan. Pengumuman jam 3 sore. Diyan di sawah, membantu bapak yang pakai tongkat. HP nya yang sudah retak bergetar.
Dari BKN: “SELAMAT! ANDA DINYATAKAN LULUS SEBAGAI CPNS KABUPATEN MAGETAN…”Diyan jatuh terduduk di lumpur sawah. HP nya jatuh ke lumpur. Bapak bingung,
“Kenapa, nduk?”
Diyan tidak bisa menjawab. Ia hanya mengambil lumpur sawah itu, ia oleskan ke wajahnya, bercampur air mata. Lumpur yang sama yang dulu ia benci, yang ia ingin tinggalkan. Sekarang lumpur itu menjadi saksi, ia pulang. Hari itu juga ia lari ke makam Deni. Nisan kayunya sudah lapuk. Ia tancapkan print pengumuman kelulusannya yang masih berlumpur di sana.
“Den, Mbak lulus. Kita jadi PNS dan Perawat ya, den. Seperti janji kita.”
Angin sawah berhembus. Pohon pisang baru di belakang rumahnya bergoyang seakan ikut berbahagia mendengar kebahagiaan keluarga diyan.
12
PENDOPO KABUPATEN MAGETAN
Malam ini diyan dan ibunya tidakbisa tidur. Keduanya tidak sabar menunggu matahari terbit. Bukan masalah dengan mataharinya tetapi hari ini adalah pengambilan sumpah dan penyerahan SK CPNS.
“ kamu belum tidur nduk?” Tanya ibu.
“ belum bu”
“kenapa?? Apa yang kamu pikirkan?”
“ diyan takut kalau ini hanya mimpi bu”
“ coba sini tanganmu tak cubitnya…hmm…” sambil mencubit kecil tangan diyan.
“ aduh bu…sakit “
“ berarti ini bukan mimpi nduk….ini kenyataan. Sudah ayo tidur, takut besok malah bangun kesiangan”
Pagi itu tidak lagi bau bambu dan debu papan tulis. Pagi itu bau kayu jati pendopo, ukiran-ukiran di pilar, dan karpet merah. Mbak Diyan pakai seragam putih PGRI lengkap, nama di dada DIYAN. Di depannya, Bapak Bupati dengan batik dan peci hitam tersenyum lebar, menyerahkan map coklat:SK CPNS P2 – PGSD 2019 Di belakang, teman-teman CPNS lain bertepuk tangan. Mereka yang dulu sama-sama antri di GOR tahun 2018, sama-sama melihat daftar DIYAN – LOLOS PGSD . Dan di pojok pendopo, terlihat Ibu yang dulu sakit jantung di gubuk bambu, yang dulu ditelepon sambil nangis pada 28 Desember 2018 sekarang duduk dengan kerudung putih, nangis lagi, tapi nangis paling bahagia.
“Debu di kerak bentala itu akhirnya diinjak Bupati, bukan untuk dibersihkan, tapi untuk disahkan bahwa anak desa juga bisa jadi abdi negara.”
13
KULIAH PASCA SARJANA
Lolos menjadi PNS merupakan modal untuk Diyan melanjutkan kuliah S2. Setelah lolos P2 PGSD 2019 dan mengabdi di SDN Bayemtaman, Diyan tidak berhenti di Pendopo Kabupaten. Ia melanjutkan mimpi yang tertunda sejak di IAIN dulu: PASCA SARJANA PBSI ( Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia).
Perkuliahan dilakukan dengan sintem RPL jadi diyan tidak harus selalu hadir di kampus. Kuliah lebih sering dilakukan secara on line pada malam hari. Disiang hari diyan tetap menjalankan tugas sebagai guru kelas 6 dimalam hari kuliah pasca sarjana PBSI.
Dibalik keterbatasan waktu semangat diyan selalu tinggi. Lelah tak pernah dia indahkan. Di pikirannya dia harus lulus tepat waktu. Ini salah satu janjinya kepada bapak. Perjuangan bapak dalam melawan penyakitnya telah usai. Di waktu diyan menempuh sekolah pasca sarjana, bapaknya meninggal. Kesedihannya mengingatkan dia saat adiknya pergi dulu. Namun diyan sadar bahwa masih ada ibunya yang harus dijaga. Sekarang ibunya menjadi cambuk penyemangat untuk lulus S2.
Tanggal 18 September 2026 melalui acara Yudhisium diyan dinyatakan lulus S2 dan berhak menyandang gelas M.Pd ( Magister Pendidikan).
Perempuan yang dulu dipandang sebelah mata karena cuma penjaga warnet, sekarang wisudawati pascasarjana. Di panggung UNIPMA, di bawah lambang Garuda, Diyan menerima surat ucapan selamat atas kelulusan S2, nama di map Diyan, memegang sertifikat : SERTIFIKAT YUDISIUM PASCA SARJANA. UNIVERSITAS PGRI MADIUN 2024 Rektor UNIPMA menyerahkan langsung. Di belakang, dosen-dosen dan teman-teman seangkatan PBSI bertepuk tangan haru.
“ yang hari ini lulus pasca sarjana bukan hanya Diyan , tapi untukmu juga Deni”
“ Investasi untuk dunia Pendidikan tidak akan pernah sia-sia. Pasti akan memetik hasil beserta bunganya di kemudian hari”.
“ Debu di kerak bentala jadi bunga di pendopo UNIPMA”.
“ Suatu hari nanti, aku akan menjadi guru untuk anak-anak lain yang nasibnya sepertiku”.
PUISI PERSEMBAHAN
Dari Desa untuk UNIPMA
Aku ,
bukan nomor di papan pengumuman,
Tapi aku pernah jadi nomor yang dilupakan.
P2 – PGSD – 28 Desember 2018,
Bukan angka,
itu adalah doa Ibu yang kupanjatkan.
Toples plastik 320 ribu jadi saksi,
Warnet Karangmojo jadi madrasah pertama.
Gubuk bambu bocor jadi istana,
Saat aku tulis mimpi dengan air mata.
TK Bayemwetan ajarkan aku mengeja,
Pendopo Kabupaten ajarkan aku berdiri.
Perpustakaan PBSI ajarkan aku membaca dunia,
UNIPMA ajarkan aku bahwa debu pun bisa jadi pelangi.
Jika kau tanya apa nomorku?
Nomorku adalah setiap anak yang pernah kau ajar.
Nomorku adalah sajak debu di kerak bentala,
Yang kini mekar jadi yudisium di almamater tercinta.
TENTANG PENULIS
Diyan Febriani, M.Pd. lahir di sebuah desa kecil bernama Bayemwetan kecamatan Kartoharjo Kabupaten Magetan. Diantara hamparan sawah padi dan aroma bawang merah yang baru dipanen. Anak pertama dari pasangan Ibu Yatinem dan bapak Pandi.
Perjalanan pendidikanya bukanlah jalan TOL. Buku MIMPI SEORANG ANAK PETANI adalah buku pertamanya. Ditulis bukan untuk menunjukkan betapa hebatnya dia, tapi untuk memberi semangat bagi anak-anak petani di seluruh Indonesia.
“ Bahwa mimpi yang ditanam di lumpur sawah, suatu hari bisa memantulkan langit”.
“ saya bukan anak pinter, saya hanya anak petani yang tidak berhenti bermimpi”.






