
Gengkers
Cerita ini tentang aku, Tika, Ditya, Fiqa, dan Rina. Banyak sudah peristiwa yang kami lalui. Saking sudah dekatnya kami ingin membentuk sebuah geng. Awalnya geng kami bernama Ada Geng. Cuma kesannya kok norak dan kayak nama band saja, Ada Band. Akhirnya kami mufakat lagi, terlintas di pikiranku sebuah nama unik, The Gengkers. Tapi lebih dipersingkat lagi menjadi Gengkers oleh Fiqa.
Bukan hanya membuat nama geng, tapi kami juga sepakat akan mengumpul setiap malam minggu. Walau sekarang setelah semua sudah mulai beranjak besar dan menjadi cewek-cewek remaja yang cantik-cantik, kami sudah jarang berkumpul dan melupakan begitu saja janji yang pernah kami tulis di atas kertas.
Aku ingat satu peristiwa penting di antara kami semua. Waktu itu bulan Ramadhan. Entah mengapa tiba-tiba saja Rina dan Ditya tak ingin berbicara dengan Tika. Mereka mengacuhkan Tika yang sudah jauh-jauh datang dari rumahnya. Rina dan Ditya tak peduli akan kehadiran Tika. Mereka malah sibuk main sendiri-sendiri.
“Kak, Rina sama Ditya kenapa?” tanya Tika heran.
“Gak tahu, gila mungkin…” kataku sambil hendak menerkam Rina dan Ditya yang begitu menjengkelkan pada saat itu.
Setelah Tika pulang, aku mencari keberadaan Rina dan Ditya. Aku ingin mendengarkan penjelasan dari mereka kenapa mereka begitu tega mengacuhkan dan tidak peduli sama sekali dengan Tika.
“Kami malas lihat Tika, dia gak bisa diajak becanda. Kami putuskan untuk tidak berbicara dengannya.” Terang mereka berdua.
Aku mengeryit heran. “Tapi, Tika gak pantas kalian begitukan. Lagian setiap orangkan beda-beda. Ada yang mudah tersinggung dan ada yang tidak. Pokoknya kalau sampai kalian tak peduli lagi sama dia, kalian berdua tak usah lagi berbicara denganku!” kataku kesal sambil meninggalkan mereka berdua.
Beruntung begitu malam tiba mereka sudah berbaikan lagi dengan Tika dan sampai sekarang tidak pernah lagi ada kejadian seperti itu.
Sebuah kenangan yang tak mungkin bakal dilupa. Ketika kami berenang, nonton bioskop, dan bermain bongkar pasang. Tak kalah indahnya adalah kenangan saat bulan Ramadhan, terutama bulan ramadhan 2008. Hampir 24 jam kami bersama. Dimulai dari tarawih, sholat subuh berjamaah di mesjid dekat rumah, dan nonton DVD subuh-subuh.
Tapi, dari semua kenangan yang kuiingat, kenangan waktu hari raya haji 2008 yang paling indah. Malam Idul Adha kami berkumpul di rumahku, kemudian rumah Fiqa sampai jam 12 malam. Kami berfoto dan ketawa-tiwi. Paginya kami sholat Idul Adha bersama-sama. Lalu sepakat ngumpul lagi jam setengah sepuluh pagi.
Untuk sahabat-sahabat terbaik yang hadir dan pernah hadir dalam hidupku. Yang tak mungkin mampu kulupakan begitu saja. Tetap ingat, kalau kita yang terhebat di masa muda kita yang lampau.
Untuk Fiqa, walau pun saat ini kita tak lagi bersama-sama karena kesalahpahaman kita di masa muda. Di mana pun kamu berada, tetap bahagia, begitu pun kami.
Thank’s for Vina Sartika Sari, Rina Susilawati, Rofiqah Azmi, dan Ditya Sukma Pratiwi. ***






