PAKET UNTUK BU LUCKY

Aldiana selalu masuk kelas ketika bel pertama sudah lama selesai berbunyi, dengan napas yang terdengar sampai meja guru. Rambutnya diikat seadanya, dan di lengan seragamnya sering menempel serpihan selotip bening. Dua minggu pertama, aku mencatatnya sebagai kebiasaan buruk. Di buku nilaiku, di samping namanya. Kutulis kata ‘’terlambat’’ dengan tinta merah, lima kali, enam kali, sampai halaman itu tampak seperti ladang yang kugarap sendirian.
Itu tahun keduaku mengajar Ekonomi di kelas X. Dua tahun cukup untuk membuatku berhenti gemetar di depan kelas, tetapi belum cukup untuk membuatku berhenti menebak isi kepala anak-anak yang kuhadapi. Mereka memanggilku ‘’Bu’’ dengan nada seorang adik memanggil kakak. Mereka mengirim stiker ke group kelas pukul sebelas malam, dan entah mengapa aku selalu membalasnya.
Pada hari Selasa, materi kami sampai pada skala prioritas dan biaya peluang. Kutulis definisinya di papan: nilai dari pilihan terbaik yang kita lepaskan ketika kita memilih sesuatu. Anak-anak mengangguk dengan wajah yang artinya sudah paham, padahal belum. Contoh di buku paket terasa jauh dari hidup mereka, jadi kuberi tugas sederhana: tuliskan satu keputusanmu minggu ini, lalu hitung apa yang kamu kobarkan.
Kebanyakan menulis tentang tidur melawan drama Korea, atau jajan melawan menabung. Aku sudah bersiap membaca jawaban semacam itu sambil menyereput teh di ruang guru.
Kertas Aldiana kuletakkan paling akhir karena isinya paling pendek. Hanya tiga baris.
Keputusan saya: berangkat ke sekolah.
Biaya peluang: 40 sampai 50 paket yang tidak jadi saya bungkus pagi, kira-kira Rp 90.000 untung ibu.
Tapi menurut saya masih sepadan, Bu. Kata ibu, sekolah itu satu-satunya dagangan yang harganya tidak boleh ditawar.
Kubaca dua kali. Lalu aku diam cukup lama, sampai teh dimejaku benar-benar tawar.
Esoknya kupanggil Aldiana ke ruang guru ketika istirahat ia berdiri kaku, tangannya saling menggenggam di depan rok, seperti orang yang sudah menyiapkan pembelaan. ‘’Saya nggak minta dispensasi, Bu,’katanya sebelum aku sempat bicara. ‘’Saya cuma nggak mau ibu kira saya malas.’’
Dari situ ceritanya keluar sedikit demi sedikit. Ayahnya sudah tiada sejak ia kelas enam. Ibunya berjualan aksesoris rambut lewat toko online, dan pesanan paling banyak masuk malam hari, ketika orang-orang selesai bekerja dan mulai menggulir layar. Kurir menjemput paket pukul enam pagi. Maka pukul empat Aldiana sudah duduk bersila di lantai ruang tamu, mengemas jepit demi jepit, menempelkan resi, menerapkan selotip, sebelum mandi dan berlari mengejar bus conect citra raya.
‘’Kadang kurirnya telat, Bu. Saya nggak bisa pergi sebelum paketnya diambil. Kala paketnya nggak sampai, toko ibu dapat bintang satu.’’Ia tertawa kecil, tetapi matanya tidak ikut tertawa. ‘’ Bintang satu itu mahal, Bu.’’
Aku teringat tinta merah di buku nilaiku. Rasanya seperti baru menyadari bahwa selama dua minggu aku sibuk membaca angka, sementara anak di depanku sedang membaca hidup yang jauh lebih rumit dari pada soal mana pun yang pernah kubuat.
Ada satu pertanyaan lagi yang kuajukan, yang sebenarnya bukan pertanyaan seorang guru.’’Kamu sudah makan?’’ Aldiana menggeleng, lalu buru-buru menambahkan bahwa tadi ia sempat minum teh manis. Kuambil dua potong roti dari mejaku, bekal yang selalu kusiapkan untuk jam-jam ketika perutku sendiri lupa diurus, dan kusodorkan separuhnya. Ia menerimanya dengan dua tangan, seperti menerima sesuatu yang bisa pecah.
Aku tidak memberinya dispensasi. Ia sendiri menolaknya dan aku mengerti penolakan itu bukan soal gengsi. Itu caranya menjaga satu-satunya hal yang ia punya, keyakinan bahwa ia bisa. Sebagai gantinya, kuminta ia mengajar.
‘’Minggu depan. Kamu yang berdiri di depan. Jelaskan ke teman-temanmu bagaimana toko ibumu menghitung harga.’’

Ia melonggo.’’Bu, itu bukan materi.’’
‘’Itu materinya,’’kataku.’’Harga pokok, margin, ongkos kirim, promo gratis ongkir. Semuanya ada pada bab kita.Hanya belum pernah ada yang menjelaskannya dari lantai ruang kelas.’’
Seminggu kemudian Aldiana berdiri di depan kelas, tangannya gemetar memegang spidol. Awalnya suaranya nyaris tak terdengar. Lalu seseorang di bangku belakang bertanya.’’Jadi kalau gratis ongkir, ibu kamu menombok?’’ dan Aldania menjawab dengan cepat, lengkap dengan angka, seperti orang yang sudah menghitungnya ribuan kali di kepala. Kelas yang biasanya sibuk dengan mengobrol satu sama lain mendadak diam. Aku berdiri di pojok dan pura-pura memeriksa daftar hadir, karena ada hal-hal yang tidak pantas dilihat murid dari wajah gurunya.
Malam itu, aku duduk lama di ruangan kerjaku. Dulu kulepas tawaran kerja di sebuah bank, dan masih sering kuhitung apa yang kukorbankan tidur, akhir pekan, gaji yang tak sebanding. Malam itu kuambil pulpen merah, lalu pelan-pelan kucoret kata ‘’terlambat’’ di sebelah nama Aldiana. Tintanya memang tidak bisa dihapus, jadi kucoret saja. Di sampingnya kutulis dengan pulpen biru: belajar paling keras.
Semester berlalu. Pada hari terakhir sebelum libur, ada bungkusan kecil di mejaku dibalut kertas cokelat, selotipnya rapi sekali, rapi dengan cara yang hanya dimiliki orang yang sudah ribuan kali mengemas. Disudut atasnya, dengan spidol hitam dan huruf-huruf miring seperti tulisan di resi, tertulis: Paket untuk Bu Lucky. Di dalamnya ada sebuah jepit rambut berwarna krem dan secarik resi pengiriman. Kolom ‘’total bayar’’ diisi tulisan tangan : RP 0. Dibawahnya tertulis:
Biaya peluang ibu mengajar saya, saya tidak tahu berapa. Tapi semoga masih sepadan
Aku membaca kalimat itu di ruang guru yang sepi. Di luar, sepeda motor satu per satu meninggalkan parkiran, dan anak-anak pulang membawa rapor mereka. Kuselipkan resi itu di dompet, di tempat orang biasa menyimpan struk yang tak sanggup mereka buang.
Sampai sekarang, bila ada yang bertanya mengapa aku bertahan menjadi guru, aku tak pernah punya jawaban yang rapi. Aku hanya ingat sebuah kolom di resi kecil itu, dan betapa angka nol yang tertulis di sana ternyata menjadi yang paling penuh.

Bagikan tulisan ini

Similar Posts

Tinggalkan Balasan