
Pijar Api di Bawah Hujan 28 Oktober
Sepeda tua ini menembus tirai air,
Jalanan kota berubah jadi sungai dingin yang mengalir.
Seragam putih abu-abu basah kuyup hingga ke dada,
Namun di dalam jiwa, ada api yang enggan reda.
Sepatu tergenang, tas sekolah semakin berat membeban,
Hujan deras menampar wajah di sepanjang perjalanan.
Rintik-rintik angin mencoba berbisik untuk menyerah,
Meminta langkah ini pulang, berteduh dan mengalah.
Namun aku ingat janji yang terukir di lembar sejarah,
Sembilan puluh delapan tahun lalu, ikrar bergema gagah.
Jika dahulu mereka menembus peluru dan tekanan zaman,
Mengapa aku harus gentar hanya karena hujan di jalanan?
Setiap kayuhan pedal adalah sumpah yang kuteguhkan,
Setiap tetes air di pelipis adalah semangat yang dikobarkan.
Aku pemuda hari ini, siap menerjang badai yang datang,
Bukan hanya demi ujian, tapi masa depan yang membentang.
Gerbang sekolah menyapa di balik bayang hujan mendung,
Di bawah tiang bendera, rasa bangga tak lagi terbendung.
Tubuhku mungkin dingin dan basah oleh hujan yang reda,
Namun hatiku hangat, terbakar semangat Sumpah Pemuda.





