Segaris Senyum Bidadari Masjid

Lantunan ayat suci terdengar jelas dari masjid dekat rumahku. Rasa kantuk masih menyerangku. Maklum, aku baru tertidur setelah jam satu malam. Sementara harus terbangun untuk sahur pertama. Suara cempreng Kak Nica membuat kupingku berasa budek. Ia tak peduli. Mama pasti menyuruhnya untuk membangunkan aku yang masih terlena tenggelam dalam balutan selimut tipis bewarna abu-abu tua. Kulirik jam yang terdapat di ponselku. Sudah pukul setengah empat. Dengan langkah gontai kupaksakan badanku bangun, segera menuju ruang makan.
“Kamu ikut Papa salat di masjid Ndi,” suara mama terdengar jelas di telingaku. Aku masih terkantuk-kantuk.
“Aku salat di rumah saja Ma… masih ngantuk. Lagian malas dengar ceramahnya.”
“Nggak bisa! Kamu harus belajar agama lebih baik. Kamu sudah mulai dewasa. Kalau bukan dari sekarang dibiasakan kapan lagi?”
Aku mengunyah nasiku dengan malas. Ucapan mama itu mutlak dan gak bisa dibantah. Membantah berarti harus siap menerima omelannya.
Lima belas menit lagi azan Subuh akan berkumandang. Kuambil peci yang ada di atas meja belajarku. Papa sudah menunggu di teras rumah. Masih merasa malas, tapi aku tak bisa membantah, lagian ini berkaitan dengan agama. Mana berani aku menentang papa apalagi mama.
Masjid tampak lumayan ramai, berbeda dari biasanya. Aku duduk di tangga pintu masuk sembari menunggu azan selesai berkumandang. Kuarahkan pandanganku ke segala penjuru. Sebentar melihat kiri, sebentar melihat kanan. Aku hendak masuk ke dalam kalau saja tidak kudengar suara seseorang tergopoh-gopoh berlari masuk ke halaman masjid. Aku memutar kepalaku. Seorang gadis mengenakan mukenah dengan motif bunga-bunga ungu masuk ke area masjid. Menuju pintu samping tempat kaum hawa berada. Aku tertawa kecil melihatnya. Lalu masuk ke dalam masjid, menunaikan ibadah salat Subuh pertama di bulan Ramadan.
Selesai tadarus aku langsung beranjak menuju halaman masjid. Kutinggalkan Papa yang masih berada di teras masjid, berbicara dengan beberapa bapak-bapak lainnya. Aku melangkah dengan buru-buru. Seseorang di sebelahku juga berjalan dengan buru-buru. Kami bersenggolan di pintu pagar masjid.
“Aduh…” kataku sambil melihat ke arah orang yang menyenggolku barusan. Dia cewek bermukenah motif bunga-bunga ungu yang aku lihat saat azan subuh tadi.
“Maaf… maaf… aku buru-buru.” Bibirnya menggariskan sebuah senyuman. Lalu ia berlari begitu saja, tanpa aku iyakan permintaan maafnya.
Ya sudahlah, aku memaafkannya, lagian puasa pertama tak boleh cari masalah dengan orang lain. Apalagi dia cewek, cemen kalau cowok berantam sama cewek.
***
Matahari sangat terasa menyengat. Aku duduk di teras rumah memandangi langit yang sangat cerah.
“Andi, antarkan ini ke masjid ya.” Mama memberikan beberapa bungkus nasi padaku.
“Untuk apa Ma?”
“Ya untuk berbuka puasa di masjid Ndi, banyak fakir miskin atau orang-orang perantauan, musafir, dan anak jalanan yang akan berbuka puasa bersama di masjid. Jadi tadi papa cerita, kalau masjid depan sana akan menerima sedekah dari orang-orang selama Ramadan. Kamu bisa juga kok gabung buat bantu-bantu. Lumayankan, dapat pahala. Daripada kamu tiduran terus di rumah.”
Aku manggut-manggut tanda setuju. Kukayuh sepedaku menuju masjid. Membawa bungkusan yang berisi nasi untuk berbuka puasa nanti sore.
Suasana masjid beda dari biasanya. Beberapa ibu-ibu yang kukenal terlihat lagi masak di halaman samping masjid. Suasana sangat meriah. Kuparkirkan sepeda di depan pohon beringin yang ada di halaman mesjid. Berjalan membawa bungkusan untuk diberikan pada ibu-ibu yang ada di situ.
“Oh… kamu anak Pak Rahmat ya? Ganteng ya?”
Aku tersenyum malu-malu.
“Ya udah Nak, kasih ke sana ya. Di sana bagian terima sedekah,” kata Bu Ratmi ramah. Ia menunjuk meja di ujung. Aku melirik, ada beberapa gadis sebayaku duduk di sana.
Aku berjalan malu-malu. Menyapa mereka dengan senyumku. Kulihat salah satu di antara mereka seperti tak asing. Ia mirip gadis ceroboh bermukenah motif bunga-bunga ungu yang tadi subuh aku lihat.
“Ini ada sedikit sedekah.” Aku memberikan bungkusan pada gadis itu.
“Terima kasih ya.” Ia tersenyum. Memamerkan gigi-giginya yang rapi. Aku terkesima saat itu juga. Tapi aku tak berani menatap bidadari itu. Aku lantas berjalan manjauh menuju sepedaku. Lalu kembali ke rumah dengan perasaan campur aduk.
Sudah pukul lima sore. Satu jam lagi waktu berbuka akan segera tiba. Masih terngiang di pikiranku tentang gadis pemilik senyuman manis di masjid siang tadi.
“Ma… besok sedekah nasi lagi nggak?”
“Kalau Mama sempat belanja dan memasak, mama akan sedekah. Tumben? Biasanya kamu nggak peduli masalah beginian?”
“Nanya aja kok Ma, kan suntuk liburan gini. Kalau Mama sedekah, aku saja yang antar ke masjid ya,” kataku ngeles. Padahal sengaja karena ingin bertemu gadis itu lagi.
“Palingan ada gadis incarannya Ma…” celetuk Kak Nica yang sangat tepat.
Aku berdehem kikuk. Mama malah tersenyum penuh makna.
“Kalau memang iya, jadikan itu motivasi, tapi ingat, kamu sedekah atau berbuat amal bukan karena mau dilihat orang lain. Tapi karena memang panggilan hati. Apalagi di Bulan Ramadan gini. Pahala kamu berlipat ganda kalau kamu memang tulus ingin bersedekah tanpa maksud lain. Ingat itu ya,” pesan mama bijak.
Aku tersenyum.
Azan magrib berkumandang indah. Seperti lantunan syair yang sangat syahdu di telinga. Setelah membaca doa berbuka aku menyeruput air putih yang ada di hadapanku. Selesai berbuka, kami sholat Magrib berjamaah. Lalu beristirahat sebentar, lalu bersiap untuk Tarawih.
Kali ini aku duluan ke masjid. Ingin duduk-duduk lebih lama di teras masjid, mana tahu melihat gadis itu lagi.
Tuh! Tuh gadis itu!!! Ia melirik padaku dengan tatapan kikuk. Aku tersenyum, ia juga begitu. Ia masuk ke bagian kaum hawa. Aku juga memutuskan untuk masuk ke dalam masjid.
Salat Tarawih dimulai. Pukul delapan malam dan selesai pukul setengah sepuluh malam. Aku masih mengikuti tadarus dengan beberapa anak laki-laki di dekat rumahku. Setelah selesai aku langsung berjalan menuju pintu keluar.
“Andi…” teriak Alfin dari kejauhan.
“Loh, kamu nggak ikutan tadarus?”
“Aku mempersiapkan kentongan yang kemarin rusak dibuat Wahyu. Jadi aku dari tadi di belakang masjid.” Alfin menjelaskan sementara tatapanku masih mencari-cari keberadaan gadis pemilik senyum paling manis di masjid ini.
“Kamu melihat siapa?”
“Eh… nggak ada, yuk pulang.” Aku merangkul bahu Alfin untuk jalan bersama.
Tak terasa sebentar lagi Ramadan akan berakhir. Aku tak ingin bulan penuh berkah ini pergi. Apalagi hampir setiap hari selama Ramadan ini aku terbiasa mengantarkan sedekah ke masjid setiap siang. Sedekah untuk orang-orang yang akan berbuka puasa. Terbiasa melihat gadis yang belum aku ketahui namanya sampai di Ramadan ke 24 ini.
Seminggu lagi lebaran. Kelewatan kalau aku belum tahu juga siapa nama gadis yang memberikan warna lain di masjid dekat rumah. Ketua BKM menyuruhku dan Irwan mengantarkan surat pemberitahuan mengenai zakat fitrah. Dengan semangat berapi-api aku mengantarkannya ke rumah-rumah sekitar masjid. Mana tahu salah satu rumah yang aku datangi adalah rumah gadis itu.
“Assalamualaikum… permisi…” kataku dari luar pagar.
Seorang gadis berjilbab pink ke luar dari dalam rumahnya. Ia tersenyum manis. Itu, itu dia, bidadari masjid yang hampir sebulan ini aku lihat.
“Wa’alaikumssalam…” katanya lembut.
“Ini…” dengan gugup aku memberikan surat itu. Ia mengucapkan terima kasih.
“Kami pamit dulu ya…” kataku sok kalem. Irwan terlihat bingung melihat perubahan sikapku.
“Oh ya, nanti sore aku dan beberapa temanku akan mengadakan pembagian takjil gratis di persimpangan dekat masjid. Kamu mau ikutan?” tanyanya.
Aku mengangguk mantap. Ia tertawa. Sekali lagi memamerkan deretan gigi-giginya  yang rapi.
Rasanya tak sabar menunggu sore. Aku sudah rapi dengan baju koko berwarna putih dan celana jins hitam, tak lupa melekatkan peci bewarna hitam di atas kepala. Lantas pamit pada mama dan papa. Mungkin aku tak bisa berbuka bersama kali ini. Mereka terlihat senang, karena tak biasanya aku mau ikutan hal beginian.
Aku, bidadari masjid itu, dan beberapa teman kami yang lain mulai membagikan takjil gratis ke orang-orang yang membutuhkan atau orang-orang yang melintas di sekitar simpang dekat masjid.
“Kita sering bertemu, tapi aku belum tahu namamu, kita belum berkenalan kan?” tanya gadis itu ramah.
“Eh.. iya, iya… kenalkan namaku Andi.” Aku mengulurkan tangan, ingin berjabat tangan dengannya.
Ia tak menyentuh tanganku, hanya mengapit kedua tangannya. “Maaf… oh ya, namaku Laila…”
Nama yang indah bukan? Aku tersenyum mendengar nama itu. Nama lengkapnya Lailatussadiah. Bulan yang penuh berkah. Bulan yang membawaku pada kebaikkan. Mengajarkan banyak hal. Termasuk mendapat berkah saat aku dapat melihat gadis yang sering kusebut Bidadari Masjid.
Awalnya, aku melangkah ke masjid dengan maksud dapat melihatnya. Hingga akhirnya aku mulai terbiasa. Menyadari ada hal penting lainnya. Bahwa bulan ini sangat bermakna. Kalau bukan karena sedekah keluargaku di hari pertama Ramadan, aku tak akan pernah berkenalan dengan bidadari bernama Lailatussadiah ini. Semoga tak hanya di Ramadan aku melihat senyumnya, tapi juga di bulan lainnya.

Tamat

Segaris Senyum Bidadari Masjid

Lantunan ayat suci terdengar jelas dari masjid dekat rumahku. Rasa kantuk masih menyerangku. Maklum, aku baru tertidur setelah jam satu malam. Sementara harus terbangun untuk sahur pertama. Suara cempreng Kak Nica membuat kupingku berasa budek. Ia tak peduli. Mama pasti menyuruhnya untuk membangunkan aku yang masih terlena tenggelam dalam balutan selimut tipis bewarna abu-abu tua. Kulirik jam yang terdapat di ponselku. Sudah pukul setengah empat. Dengan langkah gontai kupaksakan badanku bangun, segera menuju ruang makan.
“Kamu ikut Papa salat di masjid Ndi,” suara mama terdengar jelas di telingaku. Aku masih terkantuk-kantuk.
“Aku salat di rumah saja Ma… masih ngantuk. Lagian malas dengar ceramahnya.”
“Nggak bisa! Kamu harus belajar agama lebih baik. Kamu sudah mulai dewasa. Kalau bukan dari sekarang dibiasakan kapan lagi?”
Aku mengunyah nasiku dengan malas. Ucapan mama itu mutlak dan gak bisa dibantah. Membantah berarti harus siap menerima omelannya.
Lima belas menit lagi azan Subuh akan berkumandang. Kuambil peci yang ada di atas meja belajarku. Papa sudah menunggu di teras rumah. Masih merasa malas, tapi aku tak bisa membantah, lagian ini berkaitan dengan agama. Mana berani aku menentang papa apalagi mama.
Masjid tampak lumayan ramai, berbeda dari biasanya. Aku duduk di tangga pintu masuk sembari menunggu azan selesai berkumandang. Kuarahkan pandanganku ke segala penjuru. Sebentar melihat kiri, sebentar melihat kanan. Aku hendak masuk ke dalam kalau saja tidak kudengar suara seseorang tergopoh-gopoh berlari masuk ke halaman masjid. Aku memutar kepalaku. Seorang gadis mengenakan mukenah dengan motif bunga-bunga ungu masuk ke area masjid. Menuju pintu samping tempat kaum hawa berada. Aku tertawa kecil melihatnya. Lalu masuk ke dalam masjid, menunaikan ibadah salat Subuh pertama di bulan Ramadan.
Selesai tadarus aku langsung beranjak menuju halaman masjid. Kutinggalkan Papa yang masih berada di teras masjid, berbicara dengan beberapa bapak-bapak lainnya. Aku melangkah dengan buru-buru. Seseorang di sebelahku juga berjalan dengan buru-buru. Kami bersenggolan di pintu pagar masjid.
“Aduh…” kataku sambil melihat ke arah orang yang menyenggolku barusan. Dia cewek bermukenah motif bunga-bunga ungu yang aku lihat saat azan subuh tadi.
“Maaf… maaf… aku buru-buru.” Bibirnya menggariskan sebuah senyuman. Lalu ia berlari begitu saja, tanpa aku iyakan permintaan maafnya.
Ya sudahlah, aku memaafkannya, lagian puasa pertama tak boleh cari masalah dengan orang lain. Apalagi dia cewek, cemen kalau cowok berantam sama cewek.
***
Matahari sangat terasa menyengat. Aku duduk di teras rumah memandangi langit yang sangat cerah.
“Andi, antarkan ini ke masjid ya.” Mama memberikan beberapa bungkus nasi padaku.
“Untuk apa Ma?”
“Ya untuk berbuka puasa di masjid Ndi, banyak fakir miskin atau orang-orang perantauan, musafir, dan anak jalanan yang akan berbuka puasa bersama di masjid. Jadi tadi papa cerita, kalau masjid depan sana akan menerima sedekah dari orang-orang selama Ramadan. Kamu bisa juga kok gabung buat bantu-bantu. Lumayankan, dapat pahala. Daripada kamu tiduran terus di rumah.”
Aku manggut-manggut tanda setuju. Kukayuh sepedaku menuju masjid. Membawa bungkusan yang berisi nasi untuk berbuka puasa nanti sore.
Suasana masjid beda dari biasanya. Beberapa ibu-ibu yang kukenal terlihat lagi masak di halaman samping masjid. Suasana sangat meriah. Kuparkirkan sepeda di depan pohon beringin yang ada di halaman mesjid. Berjalan membawa bungkusan untuk diberikan pada ibu-ibu yang ada di situ.
“Oh… kamu anak Pak Rahmat ya? Ganteng ya?”
Aku tersenyum malu-malu.
“Ya udah Nak, kasih ke sana ya. Di sana bagian terima sedekah,” kata Bu Ratmi ramah. Ia menunjuk meja di ujung. Aku melirik, ada beberapa gadis sebayaku duduk di sana.
Aku berjalan malu-malu. Menyapa mereka dengan senyumku. Kulihat salah satu di antara mereka seperti tak asing. Ia mirip gadis ceroboh bermukenah motif bunga-bunga ungu yang tadi subuh aku lihat.
“Ini ada sedikit sedekah.” Aku memberikan bungkusan pada gadis itu.
“Terima kasih ya.” Ia tersenyum. Memamerkan gigi-giginya yang rapi. Aku terkesima saat itu juga. Tapi aku tak berani menatap bidadari itu. Aku lantas berjalan manjauh menuju sepedaku. Lalu kembali ke rumah dengan perasaan campur aduk.
Sudah pukul lima sore. Satu jam lagi waktu berbuka akan segera tiba. Masih terngiang di pikiranku tentang gadis pemilik senyuman manis di masjid siang tadi.
“Ma… besok sedekah nasi lagi nggak?”
“Kalau Mama sempat belanja dan memasak, mama akan sedekah. Tumben? Biasanya kamu nggak peduli masalah beginian?”
“Nanya aja kok Ma, kan suntuk liburan gini. Kalau Mama sedekah, aku saja yang antar ke masjid ya,” kataku ngeles. Padahal sengaja karena ingin bertemu gadis itu lagi.
“Palingan ada gadis incarannya Ma…” celetuk Kak Nica yang sangat tepat.
Aku berdehem kikuk. Mama malah tersenyum penuh makna.
“Kalau memang iya, jadikan itu motivasi, tapi ingat, kamu sedekah atau berbuat amal bukan karena mau dilihat orang lain. Tapi karena memang panggilan hati. Apalagi di Bulan Ramadan gini. Pahala kamu berlipat ganda kalau kamu memang tulus ingin bersedekah tanpa maksud lain. Ingat itu ya,” pesan mama bijak.
Aku tersenyum.
Azan magrib berkumandang indah. Seperti lantunan syair yang sangat syahdu di telinga. Setelah membaca doa berbuka aku menyeruput air putih yang ada di hadapanku. Selesai berbuka, kami sholat Magrib berjamaah. Lalu beristirahat sebentar, lalu bersiap untuk Tarawih.
Kali ini aku duluan ke masjid. Ingin duduk-duduk lebih lama di teras masjid, mana tahu melihat gadis itu lagi.
Tuh! Tuh gadis itu!!! Ia melirik padaku dengan tatapan kikuk. Aku tersenyum, ia juga begitu. Ia masuk ke bagian kaum hawa. Aku juga memutuskan untuk masuk ke dalam masjid.
Salat Tarawih dimulai. Pukul delapan malam dan selesai pukul setengah sepuluh malam. Aku masih mengikuti tadarus dengan beberapa anak laki-laki di dekat rumahku. Setelah selesai aku langsung berjalan menuju pintu keluar.
“Andi…” teriak Alfin dari kejauhan.
“Loh, kamu nggak ikutan tadarus?”
“Aku mempersiapkan kentongan yang kemarin rusak dibuat Wahyu. Jadi aku dari tadi di belakang masjid.” Alfin menjelaskan sementara tatapanku masih mencari-cari keberadaan gadis pemilik senyum paling manis di masjid ini.
“Kamu melihat siapa?”
“Eh… nggak ada, yuk pulang.” Aku merangkul bahu Alfin untuk jalan bersama.
Tak terasa sebentar lagi Ramadan akan berakhir. Aku tak ingin bulan penuh berkah ini pergi. Apalagi hampir setiap hari selama Ramadan ini aku terbiasa mengantarkan sedekah ke masjid setiap siang. Sedekah untuk orang-orang yang akan berbuka puasa. Terbiasa melihat gadis yang belum aku ketahui namanya sampai di Ramadan ke 24 ini.
Seminggu lagi lebaran. Kelewatan kalau aku belum tahu juga siapa nama gadis yang memberikan warna lain di masjid dekat rumah. Ketua BKM menyuruhku dan Irwan mengantarkan surat pemberitahuan mengenai zakat fitrah. Dengan semangat berapi-api aku mengantarkannya ke rumah-rumah sekitar masjid. Mana tahu salah satu rumah yang aku datangi adalah rumah gadis itu.
“Assalamualaikum… permisi…” kataku dari luar pagar.
Seorang gadis berjilbab pink ke luar dari dalam rumahnya. Ia tersenyum manis. Itu, itu dia, bidadari masjid yang hampir sebulan ini aku lihat.
“Wa’alaikumssalam…” katanya lembut.
“Ini…” dengan gugup aku memberikan surat itu. Ia mengucapkan terima kasih.
“Kami pamit dulu ya…” kataku sok kalem. Irwan terlihat bingung melihat perubahan sikapku.
“Oh ya, nanti sore aku dan beberapa temanku akan mengadakan pembagian takjil gratis di persimpangan dekat masjid. Kamu mau ikutan?” tanyanya.
Aku mengangguk mantap. Ia tertawa. Sekali lagi memamerkan deretan gigi-giginya  yang rapi.
Rasanya tak sabar menunggu sore. Aku sudah rapi dengan baju koko berwarna putih dan celana jins hitam, tak lupa melekatkan peci bewarna hitam di atas kepala. Lantas pamit pada mama dan papa. Mungkin aku tak bisa berbuka bersama kali ini. Mereka terlihat senang, karena tak biasanya aku mau ikutan hal beginian.
Aku, bidadari masjid itu, dan beberapa teman kami yang lain mulai membagikan takjil gratis ke orang-orang yang membutuhkan atau orang-orang yang melintas di sekitar simpang dekat masjid.
“Kita sering bertemu, tapi aku belum tahu namamu, kita belum berkenalan kan?” tanya gadis itu ramah.
“Eh.. iya, iya… kenalkan namaku Andi.” Aku mengulurkan tangan, ingin berjabat tangan dengannya.
Ia tak menyentuh tanganku, hanya mengapit kedua tangannya. “Maaf… oh ya, namaku Laila…”
Nama yang indah bukan? Aku tersenyum mendengar nama itu. Nama lengkapnya Lailatussadiah. Bulan yang penuh berkah. Bulan yang membawaku pada kebaikkan. Mengajarkan banyak hal. Termasuk mendapat berkah saat aku dapat melihat gadis yang sering kusebut Bidadari Masjid.
Awalnya, aku melangkah ke masjid dengan maksud dapat melihatnya. Hingga akhirnya aku mulai terbiasa. Menyadari ada hal penting lainnya. Bahwa bulan ini sangat bermakna. Kalau bukan karena sedekah keluargaku di hari pertama Ramadan, aku tak akan pernah berkenalan dengan bidadari bernama Lailatussadiah ini. Semoga tak hanya di Ramadan aku melihat senyumnya, tapi juga di bulan lainnya.***

Bagikan tulisan ini

Similar Posts

Tinggalkan Balasan