
Salam Rindu untuk Dana
Mengingat kembali kejadian setahun silam membuatku begitu terluka. Harusnya aku menyayangi dia lebih dari nyawaku. Mataku nanar menatap foto yang terpajang di samping tempat tidurku. Aku tahu aku banyak salah padanya. Namun apa yang kini bisa kulakukan selain terdiam. Mematung menatap foto itu dengan penuh haru dan rasa yang sakit.
Otakku kembali lagi mengingat saat-saat mengerikan itu. Akh… begitu sakitnya hatiku kalau harus mengingat kejadian setahun silam. Seharunya aku melupakan masalah sakit ini, tapi tak segampang itu. Lukanya terlalu sulit untuk diobati. Bahkan aku bingung di mana mencari obatnya. Hampir seluruh tempat kujelajahi untuk mencari obat penyembuh luka di hati ini, namun belum juga kutemukan obat itu.
Oh.. Tuhan… salahku padanya begitu banyak. Bahkan aku belum sempat memberikan sesuatu yang terbaik yang aku miliki pada dirinya. Tuhan… maafkan aku. Sampaikan salamku padanya yang ada disisi-Mu…
Pertengkaran-pertengkaran konyol itu terus terjadi di antara kami. Bahkan aku tega tak berbicara dengannya selama hampir setahun. Semua pertengkaran itu berawal dari masalah-masalah tak penting. Tapi kemudian di perbesar menjadi masalah rumit yang tak kunjung selesai. Kalau mengingat kejadian tak penting itu dadaku terasa sesak. Bagaimana bisa dulu aku begitu jahat padanya. Aku lebih memilih orang lain di banding dia. Padahal dia adalah salah satu orang terpenting di dalam hidupku.
Keegoisan di hatiku dan hatinya membuat hubungan kami tak pernah mambaik. Hanya sesekali kami terlihat akrab dan mengobrol. Itupun terkadang ujung-ujungnya menjadi sebuah pertengakan tak penting. Hatiku hancur kala mengingat setiap kebodohan yang kuperbuat atas dirinya itu.
Untuk Dana, adikku.
Setelah kepergianmu, aku baru tahu kalaau dia begitu berharga di hidupku. Tak seharusnya dulu aku menyakitimu. Harusnya aku menyayangimu dan mengalah untuk kebahagian kita bersama. Tapi itu tak bisa kulakukan. Kau sudah terlalu jauh di sana, di tempat yang suatu hari nanti juga akan menjadi tempat terakhirku. Aku berharap kalau kita nanti bakal ketemu. Kan kucium tanganmu sebagai permohonan maafku yang terdalam.
Kita selalu bertengkar. Aku egois begitupun kau. Kadang aku mengalah untuk kedamaian kita. Tapi hal itu tetap tak bisa meluluhkan rasa benciku padamu dulu. Kau selalu menang sayangku… kau menang. Bahkan sekarang pun kau menang telak. Aku kalah. Kini aku terpuruk. Sakit di hati dan dadaku ini membuatku berpikir kalau mungkin suatu saat aku akan berada di rumah sakit jiwa. Duduk termangu di salah satu bangku di taman rumah sakit itu.
Ingin aku memohon pada Tuhan, agar kau satu jam saja berada di sampingku. Meminjammu dari Tuhan yang maha sempurna. Aku ingin menebus semua kesalahanku selama ini. Tuhan… satu jam saja. Beri aku satu jam, setengah jam mungkin… atau sepuluh menit. Aku ingin bilang padanya kalau aku sungguh… sungguh.. sangat menyayangi dia. Lebih dari seluruh teman yang kumiliki. Walaupun dulu aku tak menunjukkan semua hal indah itu padanya. Di waktu yang singkat itu, sepuluh menit itu, aku ingin bilang hal terindah padanya. Agar tak kubawa luka ini selama hidupku.
Semua tak tahu apa yang sebenarnya yang kurasa. Orang tuaku sangat menyesali kepergiannya yang begitu cepat. Aku pun sangat menyesali hal itu. Sudahlah… ini kehendak-Nya. Aku dan yang lainnya hanya bisa terima dengan ikhlas.
***
”Din…”
”Aku sayang kau Dan… maafkan semua kesalahanku… kebodohanku selama ini… kau tahu, begitu sesak yang kurasa setelah kepergianmu. Sekaranglah seharusnya aku membahagianmu… sekarang aku sudah dapat kerjaan. Ingin aku membelikan sesuatu untukmu. Tapi sekarang tidak bisa. Semoga doaku padamu selalu sampai, agar kau selalu senang di sana… kau tahu, banyak kabar yang seharusnya aku sampaikan padamu. Termasuk kabar tentang sepak bola yang kita cintai. Kalau bukan karena kau, sampai sekarang mungkin aku tak menggemari olahraga itu. Diam-diam kau memberikan suatu pengajaran hidup buatku. Aku belajar menerima segalanya dengan lapang dada. Aku belajar kehilangan. Aku belajar melepaskan sesuatu yang aku miliki.”
”Din…”
”Tunggu… aku belum selesai bicara Dan, aku sayang… sayang sekali sama kau… kau harusnya tahu tentang hal ini. Kau mengerti Dan… mengertikan… bisakah waktu kita ini di tambah? Aku masih ingin memandang wajahmu yang begitu tampan… aku sayang… hiks… hiks….”
”Din…”
”Tenang Dan, aku tahu apa yang harusnya aku lakukan sekarang. Sekarang aku akan berusaha membahagiakan orang tua kita. Terlalu sakit kehilangan kau. Tapi dunia itu berputar. Selamanya kau akan kami ingat. Selama kau masih ada di hati kami, kau tahu, kau masih hidup. Kami tak pernah melupakanmu. Termasuk bagaimana cara kau berdiri, menatap, tersenyum, tertawa, berlari, berteriak, berbicara, tidur, semua hal tentangmu akan kami ingat. Kami satukan dalam sebuah memori terindah.”
”Din…”
”Hiks… harusnya aku membahagiakanmu… maaf… maaf… maafkan aku…”
”Din…”
”Pergilah adikku sayangku… aku bangga padamu… kau akan selalu hidup di hati kami. Aku akan selalu menganggapmu salah satu lelaki terhebat di hidupku. Hatiku selalu ada tempat untuk sebuah nama. Namamu… Dana Sukma Pratama… pergilah adikku… maafkan semua kesalahanku selama ini.”
Aku tersenyum dalam tangis. Dunia terasa gelap gulita. Aku menangis di sudut kamar yang sepi. Kembali kutatap fotonya di samping tempat tidurku. Maafkan aku Dan…***




