
Selama Menjadi Guru “Pelita di Mata Mereka”
Pelita di Mata Mereka
Aku belajar mengeja takdir di atas papan kayu lapuk
di mana kapur-kapur patah merajut mimpi yang tak pernah padam
Di tempat ini, riuh hujan bukan lagi sekadar nyanyian alam
melainkan bisikan doa anak-anak yang rindu akan secercah cahaya
Semenjak menjadi guru, aku tak lagi menghitung rugi dan untung
sebab senyum polos di pojok kelas adalah upah yang tak terbilang
Kulihat jemari kecil meraba harapan di tengah pekatnya malam
dan di sana, dadaku bergetar menyadari betapa indahnya pengabdian
Aku bukan lagi sekadar penuntun yang menabur huruf dan angka
tapi penjaga nyala kecil agar tak padam diterpa kencangnya angin
Dari tatapan yang haus akan ilmu, aku menemukan makna hidup
bahwa memberi tak pernah mengikis jiwa, justru meluaskan lapang dada
Kini pelita itu telah menyala di mata mereka yang pernah dilupakan
menembus kabut bukit dan menuntun langkah menuju masa depan
Semenjak menjadi guru, aku sadar akan satu hal yang abadi
karya terbaik seorang manusia adalah yang terukir manis di dalam jiwa






