
“Cuma Bercanda”, Benarkah..? Saatnya Kita Berhenti Menormalisasi Ejekan
Menghentikan perundungan bukan hanya tugas guru atau pihak sekolah. Ini adalah tanggung jawab bersama yang membutuhkan kepedulian keluarga, pendidik, masyarakat, dan anak-anak itu sendiri.
Pertama, orang tua perlu membangun komunikasi yang terbuka dengan anak.
Tanyakan bagaimana pengalaman mereka bersama teman-temannya. Dengarkan cerita mereka tanpa terburu-buru menghakimi. Ajarkan bahwa setiap orang memiliki keunikan dan kekurangan, tetapi tidak seorang pun pantas direndahkan karena keadaan fisiknya, latar belakang keluarga, suku, atau perbedaan lainnya.
Orang tua juga perlu berani mengevaluasi perilaku anaknya sendiri. Jangan langsung membela anak hanya karena ia dianggap sedang bercanda. Jika anak terbukti menyakiti orang lain, bantulah ia memahami kesalahannya dan bertanggung jawab untuk memperbaiki perilakunya.
Kedua, guru perlu peka terhadap interaksi antarpeserta didik.
Guru bukan hanya bertugas menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga membimbing perkembangan karakter dan keterampilan sosial peserta didik. Ketika mendapati julukan yang merendahkan, ejekan berulang, pengucilan, atau tindakan mempermalukan teman, guru perlu menanggapinya dengan serius. Jangan buru-buru menyimpulkan bahwa semuanya sekadar kenakalan biasa. Dengarkan pihak-pihak yang terlibat secara terpisah, lindungi anak yang menjadi sasaran, dan tindak lanjuti sesuai prosedur pencegahan dan penanganan kekerasan yang berlaku.
UNICEF Indonesia juga menekankan pentingnya mendengarkan laporan anak, menunjukkan empati, berbicara dengan anak-anak yang terlibat, memberikan perlindungan, dan memastikan tindak lanjut dilakukan secara berkelanjutan.
Ketiga, masyarakat jangan menjadi penonton.
Ketika menyaksikan anak-anak saling mengejek, orang dewasa dapat memberikan teguran yang tenang, tegas, dan tidak mempermalukan mereka di depan umum. Misalnya, “Boleh bercanda, tetapi jangan menghina fisik atau keluarga temanmu. Kita tidak tahu bagaimana perasaannya. ”Kalimat sederhana seperti ini dapat menjadi pengingat bahwa ada batas yang perlu dihormati dalam pergaulan. Masyarakat juga perlu menyediakan ruang yang aman bagi anak-anak untuk bermain dan berinteraksi, sekaligus membangun kebiasaan saling menghargai.
Keempat, anak-anak perlu belajar menjadi teman yang berani peduli.
Jika melihat teman diejek, jangan ikut tertawa atau menyebarkan ejekan tersebut. Bila aman, alihkan situasi, temani anak yang menjadi sasaran, atau laporkan kepada orang dewasa yang dapat dipercaya. Anak-anak juga perlu memahami bahwa meminta bantuan bukanlah tanda kelemahan. Justru keberanian untuk menghentikan perilaku yang menyakiti orang lain merupakan bagian dari kedewasaan.
Mengajarkan Batas: Bercanda Boleh, Merendahkan Jangan
Kita tidak perlu melarang anak-anak bercanda. Tawa, permainan, dan keakraban merupakan bagian penting dari masa pertumbuhan mereka. Yang perlu kita bangun adalah pemahaman bahwa humor tidak harus mengorbankan harga diri orang lain.
Ajarkan beberapa prinsip sederhana berikut.
- Bercanda harus menyenangkan bersama, bukan menyenangkan satu pihak dengan mengorbankan pihak lain.
- Jangan menjadikan fisik, suku, kondisi keluarga, keterbatasan, atau kekurangan seseorang sebagai bahan penghinaan.
- Ketika teman mengatakan tidak suka, berhentilah.Jangan memaksanya menerima sesuatu yang membuatnya terluka.
- Jika telah menyakiti orang lain, berani meminta maaf dan mengubah perilaku.Jangan berlindung di balik kalimat “cuma bercanda”.
- Jangan ikut menyebarkan ejekan, foto, video, atau komentar yang mempermalukan orang lain di media sosial.
Prinsip-prinsip ini perlu diulang melalui percakapan sehari-hari, keteladanan, pembiasaan di kelas, dan kegiatan bersama masyarakat. Pendidikan karakter tidak cukup hanya disampaikan melalui slogan yang ditempel di dinding; pendidikan karakter harus hadir dalam perilaku nyata.
Mari Memutus Rantai Perundungan dari Hal-Hal Kecil
Saya percaya, perubahan besar sering kali dimulai dari keberanian melakukan hal sederhana. Berhenti tertawa ketika seseorang direndahkan. Mengingatkan teman yang melampaui batas. Menegur anak dengan cara yang mendidik. Mendengarkan cerita korban tanpa menyalahkannya. Serta mengajarkan anak bahwa kekuatan bukanlah kemampuan membuat orang lain takut, melainkan kemampuan mengendalikan diri dan menghormati sesama.
Kita juga perlu memahami bahwa anak yang melakukan perundungan tetap membutuhkan pembinaan. Perilakunya harus dihentikan dan pertanggungjawaban harus ditegakkan secara proporsional, tetapi anak tersebut tidak boleh kehilangan kesempatan untuk belajar, berubah, dan memperbaiki diri.
Pada saat yang sama, anak yang menjadi korban harus memperoleh perlindungan nyata. Jangan sampai ia diminta terus bersabar, diminta memaklumi pelaku, atau dipaksa memaafkan sebelum merasa aman. Mencegah perundungan bukan sekadar menghentikan ejekan. Kita sedang membangun lingkungan tempat setiap anak merasa aman untuk tumbuh, belajar, berteman, dan menjadi dirinya sendiri.
Penutup: Sebelum Tertawa, Mari Berpikir
Sungguh menyedihkan apabila suatu hari kita baru menyadari betapa berbahayanya sebuah ejekan setelah melihat seseorang terluka, sebuah persahabatan hancur, atau sebuah konflik berubah menjadi kekerasan. Padahal, mungkin sebelumnya kita pernah mendengar ejekan itu. Mungkin kita pernah menyaksikannya. Mungkin kita bahkan ikut tertawa karena menganggapnya lucu. Karena itu, mari mulai mengubah cara pandang kita. Jangan menunggu anak menangis untuk menyadari bahwa perkataan kita menyakitkan. Jangan menunggu perkelahian terjadi untuk menyadari bahwa ejekan yang berulang bukanlah hal sepele. Dan jangan menunggu sebuah kasus menjadi viral untuk mulai peduli.
Mari kita ajarkan kepada anak-anak bahwa setiap manusia memiliki martabat yang harus dihormati. Bahwa perbedaan bukan alasan untuk menghina. Bahwa keberanian bukanlah tentang siapa yang paling keras mengejek, melainkan siapa yang berani menghentikan tindakan yang salah. Sebab, kita tidak pernah benar-benar tahu seberapa dalam luka yang ditinggalkan oleh sebuah kalimat sederhana.
Bercanda boleh, tetapi jangan melukai. Tertawa boleh, tetapi jangan merendahkan. Berbeda boleh, tetapi tetaplah saling menghormati.
Mari kita mulai dari diri sendiri, dari keluarga kita, dari ruang kelas kita, dan dari lingkungan tempat anak-anak kita tumbuh. Jangan biarkan kata “cuma bercanda” menjadi pembenaran untuk menyakiti.
Hentikan ejekannya sebelum menjadi perundungan. Hentikan perundungannya sebelum menjadi luka yang lebih dalam.
Karena setiap anak berhak tumbuh dalam lingkungan yang aman, dihargai, dan bebas dari rasa takut.
Referensi bacaan
- UNICEF Indonesia, Apa itu cyberbullying dan bagaimana menghentikannya?— Baca artikel
- Kementerian Kesehatan RI, Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan, Anak Saya Mengalami Bullying di Sekolah, Apa yang Harus Saya Lakukan?— Baca artikel
- UNICEF Indonesia, Tips untuk guru dalam mengatasi perundungan (bullying)— Baca artikel






