
Simfoni Kapur dan Air Mata Tawa
Pagi baru merangkak di beranda sekolah,
Langkah-langkah kecil berkejaran tanpa lelah.
Tas punggungan kebesaran, sepatu baru bersinar,
Menyambut hari dengan tawa yang jujur dan segar.
Di sinilah duniaku, di kelas yang riuh rendah,
Tempat tangis dan tawa berpadu indah.
Ada yang merajuk karena pensilnya patah,
Ada yang berebut bangku sambil berwajah merah.
“Ibu Guru, sepatuku terbalik!” teriak si kecil ceria,
“Pak Guru, lihat gambarku!” seru mereka berlomba-lomba.
Suara riuh berganti, hilir mudik tak henti,
Menguji sabar, menguras energi di dalam hati.
Kadang kepala pening menghadapi riuhnya suasana,
Membimbing jemputan jemari yang baru belajar mengeja.
Menulis huruf A saja butuh seribu kali sabar,
Agar goresan pensil mereka tak lagi melar dan kasar.
Namun, di balik lelah yang merayap di penghujung hari,
Ada sihir sederhana yang menghapus sunyi.
Sebuah pelukan erat di ujung jam pelajaran,
Atau permen sisa jajan yang tulus diserahkan.
“Terima kasih, Guru,” bisik suara polos penuh makna,
Membuat segala penat seolah sirna seketika.
Melihat mereka mengeja kalimat pertama dengan bangga,
Adalah bayaran terindah yang takkan ternilai harga.
Ah, inilah kisah kami para penjaga tunas muda,
Merajut mimpi mereka dengan senyum dan air mata.
Susah senang terajut rapi di setiap lembar buku,
Menjadi guru kelas rendah: panggilan jiwa, pelita hidupku.






