
Tangga Putih dari Langit
Malam itu langit terbuka lembut. Di antara awan yang terbelah, aku melihatnya sebuah tangga berwarna putih bersih, turun perlahan dari langit. Ujungnya berhenti tepat di atas atap rumahku, melayang di udara, tidak menyentuh apa pun. Cahayanya lembut, tidak menyilaukan hanya terasa hangat, seperti pelukan yang tak terlihat.
Aku berdiri diam di bawahnya, tak berani bergerak. Namun hatiku berkata lembut: “Ini jalan yang disiapkan khusus untukmu. Bukan untuk kau panjat dengan kakimu tapi dengan hatimu.
Tangga itu tidak berisik. Tidak ada siapa-siapa yang terlihat naik atau turun. Tapi aku tahu di sanalah langit dan bumi saling menyapa. Di sanalah doa-doa kecilku berjalan naik, dan berkat-berkat turun memenuhi rumahku, bahkan sebelum aku sempat memintanya.
Sejak malam itu aku mengerti: rumahku bukan sekadar tempat tinggal di bumi. Itu juga tempat di mana langit datang berkunjung.






