JARAK YANG MENGAJARKAN PULANG

Surat keputusan itu kusimpan sampai sekarang. Surat Keputusan ini yang membuat perubahan dalam hidupku. Yang tertulis sebuah madrasah tempat mengabdiku, yang jaraknya berjam-jam perjalanan dari rumah.

Setelah pembagian surat keputusan, sore ini lah aku pulang dengan membawa dua perasaan yang saling bertolak belakang: bahagia karena akhirnya menjadi guru, dan sedih karena untuk pertama kalinya aku harus meninggalkan rumah.

Di rumah, tiga anakku masihterlalu kecil untuk dapat memahami arti perpisahan. Yang pertama baru berusia lima tahun, yang kedua berusia tiga tahun, dan si bungsu baru satu tahun.

“Umi pergi ke mana?” tanya anak sulungku.

“Bekerja, Nak.”

“Besok pulang?”

Aku terdiam.

“Tidak setiap hari.”

Ia memandangku, lalu memelukku.

Di kamar sebelah, ibuku yang sudah tua, beliau tidak lagi mampu berdiri. Matanya tetap menyimpan kekuatan seorang ibu.

“Berangkatlah,” katanya pelan.

“Tapi mamah bagaimana?”

“mamah baik-baik saja.”

Aku tahu itu bukan jawaban yang sebenarnya.

Malam itu aku menangis diam-diam.
Pagi keberangkatan datang terlalu cepat.

Aku mencium kening anak-anak satu per satu. Si sulung memelukku erat.

“Umi jangan lama.”

Aku mengangguk, meskipun tidak yakin bisa menahan air mata.

Aku berangkat membawa satu koper pakaian, beberapa buku, dan rasa bersalah yang berat.

Di sepanjang perjalanan, pikiranku dipenuhi wajah keluarga. Apakah si bungsu akan menangis saat mencari Umi nya? Siapa yang akan membantu mamah jika tubuhnya terasa sakit?

Namun kendaraan terus bergerak, dan semakin jauh.

Saat tiba di madrasah, aku berdiri di depan gerbang, menarik napas panjang.

“Ohh. Ini tempatku sekarang,” bisikku kepada diri sendiri.

Aku masuk.
Madrasah ini sederhana. Halamannya luas, ruang kelas yang banyak menandakan bahwa siswa nya cukup banyak.

Hari pertama mengajar, aku datang dan berdiri di depan kelas dengan tangan dingin.

“Assallamualaikum, Selamat pagi.”

“ Walaikumsalam, Selamat pagi, Ibu!”

Suara mereka menjawab serempak.

Tetapi ketika jam pelajaran selesai, rasa rindu kembali datang.

Aku melihat seorang murid duduk sendirian di pojok kelas. Namanya Rian.

“Kenapa tidak bermain?”

“Menunggu Ibu pulang, Bu.”

“Ibumu bekerja?”

Ia mengangguk.

“Kalau Ibu belum pulang, saya di sini.”

Aku terdiam. Ternyata hal yang sama denganku tetapi versi nya berbeda.

Hari-hari pertama menjadi guru adalah hari-hari yang panjang.

Pagi mengajar. Siang menyusun administrasi. Sore menyiapkan pembelajaran untuk esok hari.

Malam adalah waktu paling berat.

Ketika guru-guru lain pulang ke rumah, aku hanya bisa menelepon.

“Mah, Mamah sudah makan?” tanyaku.

“Sudah.”

“Anak-anak bagaimana?”

“Baik.”

Lalu suara anak sulungku terdengar dari kejauhan.

“Umi!”

Aku tersenyum sambil menahan tangis.

“Iya, Nak.”

“Kapan pulang?”

“Sebentar lagi.”

Aku berbohong.

Sebenarnya perjalanan pulang tidak sebentar.

Kadang-kadang aku menutup telepon lalu menangis di kamar kontrakan yang sunyi. Aku merindukan suara anak-anak dan tangan ibuku.

Baru sekarang aku rasakan, yang paling kita rindukan adalah hal-hal sederhana yang dulu kita miliki setiap hari.
Suatu hari, aku menerima kabar bahwa ibuku kembali sakit.

Aku ingin pulang. Sangat ingin.

Namun hari itu sekolah sedang mempersiapkan ujian. Ada anak-anak yang membutuhkan bimbinganku.

Aku duduk lama di meja guru.

Untuk pertama kalinya aku bertanya, “Apakah menjadi guru harus seberat ini?”

Tidak ada jawaban. Yang ada hanya tanggung jawab.

Aku menelepon rumah.

“Bagaimana Mamah?”

“Tidur,” jawab kakakku.

“Kalau begitu, jangan bangunkan.”

Malamnya aku berdoa lebih lama. Aku meminta semoga ibuku diberi kekuatan, dan semoga anak-anakku mengerti mengapa ibunya harus pergi sejauh itu.

Keesokan paginya aku kembali masuk kelas.

Seorang murid menyerahkan gambar.

“Ini Ibu, Bu.”

Aku tersenyum.

“Kenapa menggambar Ibu?”

“Supaya Ibu tidak sedih.”

Aku menunduk.

Ternyata di tempat yang jauh dari rumah, Tuhan memberiku keluarga kecil yang lain.
Bulan dan tahun berlalu.

Aku mulai mengenal nama  murid, kebiasaan mereka, dan mimpi-mimpi kecil yang mereka simpan.

Aku mengajar mereka dengan sabar dan penuh harapan. Namun diam-diam mereka juga mengajariku bertahan.

Aku belajar bahwa perjuangan tidak selalu berupa sesuatu hal yang besar.

Kadang perjuangan adalah di mulai bangun pagi ketika hati sedang sedih, datang ke kelas ketika rindu rumah, tetap tersenyum walaupun mendapat kabar buruk, dan tetap mengajar ketika ingin menyerah.
Pengorbanan hari ini mungkin menjadi masa depan yang lebih baik bagi orang-orang yang kucintai.
Suatu sore, setelah satu bulan tidak pulang, akhirnya aku mendapat kesempatan kembali ke rumah.

Assalamualaikum, pintu terbuka, tiga anakku berlari.

“Umi!”

Aku berlutut. Pelukan mereka membuat semua lelah yang kupendam runtuh menjadi air mata.

Anak sulungku sudah sedikit lebih tinggi. Anak keduaku memeluk leherku. Si bungsu yang dulu baru bisa berjalan kini sudah berlari kecil.

Hari libur selesai, aku kembali ke tempat tugasku.

Kali ini langkahku tidak lagi seberat keberangkatan pertama.

Aku tetap rindu dan sedih. Tetapi kini aku tahu untuk apa aku pergi.

Aku pergi bukan karena ingin meninggalkan keluarga. Aku pergi karena ingin menunaikan amanah.

Aku pergi membawa doa ibuku, wajah tiga anakku, dan harapan murid-murid yang menungguku di kelas.

Bertahun-tahun kemudian, ketika seorang murid datang dan berkata, “Bu, saya berhasil,” aku teringat perjalanan panjang itu.

Aku teringat koper kecil, air mata di depan pintu, seorang ibu yang tidak mampu berdiri tetapi mampu membuat anaknya tetap berdiri, dan tiga anak kecil yang belajar memahami arti menunggu.

Aku sadar, ternyata jarak tidak selalu memisahkan. Ada jarak yang justru mengajarkan arti pulang.

Sejak hari pertama menjadi guru, aku belajar satu hal: mengabdi kadang berarti pergi dari orang-orang yang paling kita cintai, bukan karena kita tidak mencintai mereka, tetapi karena cinta itu membuat kita berani berjuang.

Kini, setiap kali bel sekolah berbunyi, aku selalu teringat rumah.

Sebab aku tahu, sejauh apa pun tempat tugasku, ada tiga anak yang menunggu ibunya pulang, ada seorang ibu yang selalu mendoakan anaknya, dan ada murid-murid yang percaya bahwa gurunya akan datang lagi esok pagi.

Mungkin itulah arti menjadi guru:

pergi membawa cinta,

berjuang dengan air mata,

dan pulang membawa makna.

Bagikan tulisan ini

Similar Posts

Tinggalkan Balasan