
Untuk Seseorang yang Namanya Hanya Bisa Disebut dalam Doa
Untukmu, seseorang yang namanya entah mengapa selalu terasa terlalu indah untuk sekadar dituliskan.
Aku tidak tahu sejak kapan namamu menjadi begitu akrab dengan doa-doaku. Mungkin sejak aku menyadari bahwa ada seseorang yang tidak perlu selalu hadir di hadapan mata untuk tetap tinggal di dalam hati. Seseorang yang tidak harus dimiliki untuk tetap bisa didoakan. Seseorang yang namanya mungkin tidak pernah berani kusebut dengan suara lantang, tetapi diam-diam selalu menemukan tempatnya di antara kalimat-kalimat yang kupanjatkan kepada Tuhan.
Ada banyak hal yang ingin kusampaikan kepadamu, tetapi tidak semuanya harus sampai kepadamu. Barangkali memang ada perasaan yang lebih baik disimpan dalam kesunyian, bukan karena ia tidak berarti, melainkan karena ia terlalu berarti untuk dipaksa menjadi sesuatu yang belum tentu menjadi milik kita.
Aku pernah bertanya kepada diri sendiri, mengapa namamu harus hadir di dalam doa, bukan di dalam percakapan? Mengapa aku lebih mudah menitipkan kabarmu kepada Tuhan daripada bertanya langsung bagaimana harimu? Mungkin karena doa adalah tempat paling aman untuk menyimpan sesuatu yang belum memiliki keberanian untuk menjadi kata-kata.
Di sana, dalam doa, aku tidak perlu menjelaskan siapa kamu. Tuhan sudah lebih dahulu tahu. Aku tidak perlu bercerita tentang alasan mengapa aku mengingatmu. Tuhan juga tahu bagian-bagian kecil yang bahkan sulit kujelaskan kepada diriku sendiri.
Aku hanya ingin kamu baik-baik saja. Semoga langkahmu selalu dipertemukan dengan jalan yang baik. Semoga ketika dunia terasa terlalu ramai, kamu selalu menemukan ruang untuk bernapas. Semoga ketika lelah datang tanpa permisi, ada seseorang yang mengingatkanmu bahwa kamu tidak harus kuat setiap waktu. Dan semoga setiap impian yang sedang kamu perjuangkan menemukan jalan pulangnya.
Kalau suatu hari nanti hidup membawa kita ke arah yang berbeda, aku ingin belajar menerimanya tanpa menyalahkan keadaan. Sebab mungkin tidak semua pertemuan diciptakan untuk berakhir dengan kebersamaan. Ada pertemuan yang hadir hanya untuk mengajarkan bahwa hati mampu menyimpan rasa dengan cara yang paling tenang: mendoakan tanpa menuntut, mengingat tanpa memiliki, dan menyayangi tanpa harus meminta balasan.
Namun jika suatu hari Tuhan menuliskan jalan yang berbeda, jika langkah kita ternyata dipertemukan pada waktu yang tepat, aku ingin pertemuan itu datang bukan karena aku memaksa takdir, melainkan karena Tuhan memang menghendakinya. Sebab aku percaya, sesuatu yang baik tidak perlu dikejar dengan tergesa-gesa. Ia cukup diperjuangkan dengan tulus, lalu diserahkan kepada-Nya.
Untuk sekarang, biarlah namamu tetap menjadi nama yang hanya bisa kusebut dalam doa. Bukan karena aku tidak ingin mengatakannya, tetapi karena ada rasa yang ingin kujaga agar tetap bersih dari tuntutan. Jika aku tidak bisa berada di dekatmu, setidaknya aku bisa berharap kebaikan selalu berada di dekatmu.
Dan bila suatu saat kamu merasa ada seseorang yang diam-diam berharap kamu bahagia, meski ia tidak pernah mengatakannya, mungkin itu aku. Seseorang yang memilih menitipkan namamu kepada langit, sebab ia percaya bahwa doa yang tulus tidak pernah benar-benar kehilangan jalan.
Terima kasih karena, entah kamu menyadarinya atau tidak, pernah menjadi bagian dari doa-doa yang membuatku belajar tentang ketulusan.
Semoga Tuhan selalu menjagamu.
Di mana pun kamu berada, semoga kebaikan selalu menemukanmu.
Dan jika namamu masih boleh kusebut dalam doa, biarlah ia tetap menjadi rahasia kecil antara aku dan Tuhan.
Dengan doa yang tak banyak suara,
Andri Bangun Prabowo






