Menjadi seorang guru TK bukanlah sesuatu yang pernah ada dalam rencana hidupku. Bahkan, ketika masih duduk di bangku kelas tiga SMK, aku sendiri belum tahu akan membawa langkahku ke mana setelah lulus.
Suatu hari, guruku bertanya kepada kami tentang rencana setelah menyelesaikan sekolah.
“Setelah lulus, kalian mau melanjutkan ke mana?”
Satu per satu teman-temanku mulai menyebutkan rencana mereka. Ada yang ingin kuliah, bekerja, atau melanjutkan pendidikan di tempat lain.
Ketika tiba giliranku, aku hanya bisa tersenyum kecil.
“Belum tahu, Bu,” jawabku jujur. “Entah masih di pesantren atau pulang ke rumah.”
Memang, saat itu aku belum memiliki kepastian. Namun, ada satu hal yang sebenarnya sudah kuputuskan dalam hati: aku tidak akan kuliah.
Bukan karena aku tidak memiliki keinginan untuk melanjutkan pendidikan, tetapi keadaan ekonomi membuatku harus mengubur keinginan itu untuk sementara. Aku sadar, ada banyak hal yang harus dipikirkan sebelum mengambil keputusan sebesar itu.
Tidak lama setelah itu, akhirnya aku benar-benar meninggalkan pesantren dan pulang ke rumah. Keputusan itu tentu bukan sesuatu yang mudah bagiku. Setelah terbiasa dengan kehidupan pesantren, tiba-tiba aku harus kembali menjalani kehidupan seperti sebelum berada di sana.
Aku pun kembali membantu ibuku seperti biasanya.
Ibuku adalah seorang guru ngaji di sebuah madrasah milik seorang sesepuh agama di daerah kami. Setiap kali pulang dari pesantren, aku memang sering membantu beliau di madrasah. Jadi, setelah kembali ke rumah, aktivitas itulah yang kembali kulakukan.
Hari-hari pertama berlalu begitu saja.
Satu minggu sudah aku berada di rumah, tetapi aku belum memiliki pekerjaan ataupun rencana yang pasti untuk masa depanku.
Sampai suatu hari, sebuah kabar datang tanpa pernah kuduga sebelumnya.
Guruku ketika TK sekaligus guru mengajiku menghubungiku. Beliau mengatakan bahwa di TK sedang membutuhkan bantuan tenaga pengajar dan beliau memintaku untuk membantu di sana.
Aku terdiam sejenak mendengar tawaran itu.
Mengajar?
Aku?
Sejujurnya, menjadi guru bukanlah cita-cita yang pernah kurencanakan. Aku bahkan belum memiliki pengalaman mengajar di TK. Aku juga belum kuliah.
Namun, ketika ibuku mendengar kabar tersebut, beliau justru menyuruhku untuk menerimanya.
“Terima saja,” kata Ibu.
Karena Ibu menyetujuinya, aku pun tidak banyak berpikir.
“Iya, Bu.”
Akhirnya, minggu berikutnya aku mulai datang ke TK tersebut. Hari pertama aku datang dengan perasaan campur aduk. Ada rasa gugup, bingung, sekaligus penasaran.
Aku mencoba mengikuti kegiatan yang ada dan membantu sebisa mungkin. Aku belajar dari guru-guru di sana, belajar menghadapi anak-anak, belajar memahami tingkah mereka, dan perlahan mulai menikmati kegiatan tersebut.
Dua minggu berlalu.
Awalnya semuanya berjalan biasa saja. Sampai akhirnya aku mulai mendengar beberapa obrolan yang kurang enak.
Ternyata, sebelum aku dipanggil untuk membantu mengajar, ada dua orang yang sudah lebih dahulu melamar ke TK tersebut. Namun, lamaran mereka tidak diterima.
Yang membuat keadaan semakin rumit, kedua orang itu masih satu kampung denganku.
Dari situlah mulai muncul berbagai pembicaraan.
“Paling karena maksa-maksa, makanya diterima.”
Kalimat semacam itu mulai terdengar sampai ke telingaku.
Saat pertama kali mendengarnya, aku hanya tersenyum.
Aku tidak tahu harus menjawab apa.
Aku juga tidak ingin memperpanjang masalah. Bagiku, aku datang ke TK itu bukan karena meminta pekerjaan kepada siapa pun. Aku hanya menerima ketika guruku memintaku membantu.
Semakin lama, semakin banyak orang yang bertanya kepadaku.
“Kenapa kamu bisa mengajar di TK?”
Aku menjawab apa adanya.
“Saya ditelepon guru saya, diminta membantu di TK.”
Jawabanku sederhana. Tidak ada yang kutambah-tambahkan.
Kadang, setelah mendengar jawabanku, mereka hanya mengangguk-angguk sambil berkata,
“Wah, bagus ya. Berarti tidak perlu melamar.”
Aku hanya tersenyum lagi.
Namun, ternyata persoalannya tidak berhenti sampai di sana.
Aku kemudian mengetahui bahwa dua orang yang sebelumnya melamar ke TK tersebut sebenarnya sudah memiliki pengalaman mengajar di TK. Bahkan, mereka juga sudah kuliah. Sedangkan aku?
Aku belum pernah memiliki pengalaman mengajar sebelumnya. Aku juga belum kuliah.
Aku hanya seorang perempuan yang baru saja pulang dari pesantren dan tiba-tiba mendapat kesempatan untuk membantu mengajar anak-anak TK.
Perbandingan itu membuat sebagian orang merasa aku tidak pantas berada di sana.
Awalnya, perkataan orang-orang itu membuatku bertanya kepada diri sendiri.
“Benarkah aku tidak pantas?”
“Apakah aku memang tidak layak menjadi guru?”
“Apakah karena aku belum kuliah, aku tidak boleh mencoba?”
Pertanyaan-pertanyaan itu sempat memenuhi pikiranku.
Namun, semakin kupikirkan, semakin aku sadar bahwa kesempatan tidak selalu datang setelah seseorang merasa dirinya siap.
Terkadang, kesempatan datang terlebih dahulu, lalu kita belajar untuk menjadi siap setelahnya.
Aku memang belum memiliki pengalaman. Aku memang belum kuliah. Tetapi bukan berarti aku tidak bisa belajar.
Hari demi hari, aku mulai mengenal anak-anak itu. Aku belajar bagaimana menghadapi mereka, bagaimana membuat mereka nyaman, bagaimana mengajarkan sesuatu dengan cara yang sederhana, dan bagaimana menjadi seseorang yang bisa mereka percaya.
Aku tidak tahu apakah suatu hari nanti aku benar-benar akan menjadi guru yang hebat.
Tetapi hari itu aku belajar satu hal penting:
Tidak semua jalan hidup harus dimulai dari rencana yang kita buat sendiri.
Kadang-kadang, Allah membuka sebuah jalan melalui sesuatu yang sama sekali tidak pernah kita bayangkan.
And mungkin, inilah jalan yang sedang Dia titipkan kepadaku.
Menjadi seorang guru TK.
Sebuah pekerjaan yang dulu tidak pernah ada dalam bayanganku, tetapi perlahan mengajarkanku tentang kesabaran, tanggung jawab, keberanian, dan arti sebuah proses.
Aku tidak ingin membuktikan apa pun kepada orang-orang yang pernah meragukanku.
Aku hanya ingin terus belajar.
Sebab mungkin, suatu hari nanti, ketika melihat ke belakang, aku akan tersenyum dan berkata,
“Ternyata, jalan yang dulu tidak pernah aku rencanakan inilah yang justru membawaku menemukan bagian lain dari diriku.”