
BAYANGAN AKHIR DI PAPAN TULIS
Dalam hitungan bulan ke depan, pintu purna tugas akn saya jalani. Dua puluh tujuh tahun saya menyelami dunia pendidikan. Kalau dihitung, papan tulis hitam yang catnya sudah memudar, kusam itu, sudah saya hadapi ribuan kali. Tapi baru tahun ini, saya benar-benar mengerti apa isinya.
Namanya Ido. Anak kelas VII binaan saya di tahun ajaran baru ini.
Pendiamnya bukan main. Duduknya di baris nomor dua dari belakang, dekat jendela yang kalau angin dari arah pabrik itu, baunya kertas masuk ke kelas. Setiap saya terangkan, dia lihat ke papan, tapi matanya itu kosong.
Setiap saya suruh, “Do, maju kerjakan nak,” polanya sama. Dia berdiri. Jalan pelan. Sepatu yang depannya sudah menganga itu diseret. Tapi begitu sudah dekat papan tulis, satu jengkal lagi, dia berhenti. Kapur yang saya kasih menggantung di tangannya. Diam. Lama. Lalu balik lagi ke bangkunya. Nunduk.
Tiga kali, empat kali begitu. Anak-anak lain mulai nyeletuk, “Ido wedi, Pak!” Saya diamkan. Insting saya bilang, ini bukan anak malas. Ini anak yang menyimpan takut.
Puncaknya Kamis minggu lalu. Saya panggil lagi. Dia maju. Kali ini keringatnya bercucuran, padahal kipas angin di atas itu bunyinya kencang sekali. Sampai di depan papan, saya kasih kapur.
Hening. Kelas diam.
Tiba-tiba dia teriak.
“TIDAAAAK!”
Melengking. Histeris. Satu kelas kaget. Kapur di tangannya dilempar keras ke papan tulis. Praaak! Pecah jadi debu putih.
Dia nangis. Saya dekati. Tidak saya marahi. Saya rangkul saja pundaknya yang kurus itu. Bau keringatnya masih bau anak-anak. Saya bilang, “Wes, Do, tidak apa-apa. Nanti sore temui Bapak sebentar ya.”
Sore itu, setelah bel pulang, dia cerita. Ternyata waktu di SD di desanya, tiap kali maju dan salah, gurunya membentak di depan kelas, “Bodoh kamu! Goblok!” sambil kapur dilempar ke mukanya. Teman-teman menertawakan. Sejak itu, papan tulis itu baginya bukan papan tulis. Itu panggung hukuman.
Ya Allah. Saya yang sudah 27 tahun jadi guru, baru sadar. Selama ini saya sibuk mengisi papan tulis dengan rumus. Padahal ada tulisan lain yang sudah terlanjur tertulis di kepala anak ini, tulisan yang berbunyi “saya bodoh”. Dan itu harus saya hapus dulu.
Sejak itu saya ubah cara. Saya tidak suruh dia mengerjakan soal lagi. Saya suruh, “Do, tolong hapuskan papan tulis, ya. Bapak terima kasih.” Saya suruh bagi kapur. Tiap dia selesai, saya tepuk pundaknya. “Pinter, Do.”
Pelan-pelan. Bulan demi bulan.
Sampai kemarin ulangan harian. Tangannya terangkat. Ragu-ragu. “Saya, Pak?”
Dia maju. Tulis jawabannya. Masih ada salah satu angka. Dia lihat saya, takut. Saya senyum, “Bagus, Do. Sudah berani itu juara. Coba betulkan ujungnya sedikit.”
Dia betulkan. Sendiri. Dan kelas tepuk tangan. Bukan menertawakan.
Waktu kelulusan kemarin, dia salim sama saya. Ibunya yang jualan di pasar itu ikut nangis. “Papan tulisnya sudah tidak menakutkan lagi, Pak,” katanya.
Saya yang mau pensiun ini malah yang dapat pelajaran terakhir. Ternyata benar, akademik itu tidak serumit membangun karakter. Menghapus kata “bodoh” di kepala satu anak butuh berbulan-bulan, tapi begitu terhapus, dia berani seumur hidup.
Itu bayangan akhir saya di papan tulis. Bukan rumus-rumus. Tapi wajah Ido yang akhirnya berani.
“selamat Ido, kamu bisa!” Ucapan terakhir sy jelang purna kepada Ido.






