
Dua Anak Lelaki yang Datang Padaku
“Kalau ada yang mau menulis, silakan ke saya, ya! Kita menulis bareng, sampai jadi buku!”
Kalimat itu terus terngiang di benakku. Sudah seminggu ia berlabuh di ruang pikiran anak-anak yang mengikuti kegiatan seminar literasi di perpustakaan. Tapi belum satu pun dari mereka yang tertarik menemuiku. Apa memang tidak ada yang ingin menulis buku?
Ini masih pagi, tapi helaan napasku sudah terlalu dalam. Memang, aku sedikit berharap bisa membuat awal yang baru. Sampai detik ini, belum ada siswa yang pernah menerbitkan sebuah novel. Ratusan prestasi dari olimpiade, debat, atletik, merambah hingga berbagai sudut sekolah. Tapi tak satu pun dari mereka yang memiliki prestasi dalam bidang literasi kepenulisan.
Itu sebabnya seminar literasi digelar, dan aku–yang pernah menulis buku–langsung ditunjuk menjadi pemateri. Padahal aku hanya menulis dua buku cetak, dan beberapa buku di platform online. Tapi baiklah, siapa tahu melalui hal sederhana ini, beberapa murid bisa juga menerbitkan buku kan?
Maka, aku iyakan saja jadi pemateri. Menyampaikan teori, permainan seru, sampai semua peserta merasa excited ketika praktik menulis beberapa paragraf. Aku bahagia sekali, hingga keluarlah kalimat itu, berharap setidaknya seperempat dari mereka juga excited ingin menulis.
Tapi sepertinya, aku terlalu berekspektasi.
“Sudahlah!” ucapku pada diriku sendiri, “Mungkin memang belum waktunya,” lanjutku lagi. Setelah itu, aku kembali pada rutinitas siangku: menilai tumpukan buku yang tiada habisnya.
Belum usai aku membuka sampul satu buku yang berhasil kuraih, ketukan pintu di depan kantor guru membuyarkan fokus seluruh penghuninya.
“Assalamu’alaykum. Ustadzah Syifaa ada?”
Suara anak lelaki, aku gegas menjawab, menaruh buku dan berjalan cepat ke depan ruangan. Kutemui dua anak lelaki dengan wajah lugu. Mereka diam mematung sambil menatapku. Aku menunggu beberapa detik, tapi mereka belum juga bersuara.
Jika aku ikut diam, sepertinya ini hanya akan jadi pembicaraan telepati.
“Hai, kenapa nih mencari saya?”
Seperti biasa, aku berkata riang, berharap kegugupan mereka perlahan sirna.
“Eee…”
Aku menunggu lagi beberapa detik. Mereka mulai saling tatap.
“Begini, Dzah. Waktu itu kan ustadzah bilang kalau mau nulis novel bisa menemui ustadzah. Kami di sini ingin melakukan itu.”
Berbinar hatiku, Tuan! Astaga, kalimat itu seperti menabur benih suka dan menyiram bibit harapan yang aku simpan rapat. Aku tersenyum lebar, “Serius? Kalian yakin?”. Mereka mengangguk. Aku pastikan lagi, “Bahkan meski waktu istirahat kalian berkurang karena beragam penelitian dan proses penulisan?”. Mereka lagi-lagi mengangguk, kali ini dengan mata tegas, “Kami akan melalui semuanya, Dzah. Kami benar-benar ingin menulis!”
Aku merasa seperti disuguhkan hamparan bunga, bahagia bukan main! Aku tahu, setelah ini waktuku tentu akan lebih padat. Entah akan sesibuk dan sepadat apa, aku akan menjalani ini dengan sepenuh hati.
“Oke. Ada lomba novel dari salah satu penerbit. Kalian, saya ikutkan. Menulis non stop 30 hari. Tapi sebelum itu, kalian harus membaca buku sampai habis dalam waktu seminggu! Sanggup?”
Mereka tersenyum lebar, “SANGGUP!”
Gila. Semangat muda mereka mengalir deras di peredaran tubuhku. Hilang sudah segala letih. Dari tiga puluh anak lebih, dua anak yang datang kepadaku saat ini sudah lebih dari cukup. Setelah pertemuan singkat itu, aku kembali menilai tumpukan buku di meja. Tentu dengan senyum lebar yang terus berseri. Hatiku benar-benar sedang bahagia hari itu.
***
Seminggu berlalu, aku memulai pendampingan penulisan bersama dua anak lelaki itu. Ku baca seluruh konsep cerita yang ingin mereka buat. Setelah kurasa tidak ada hole plot, kuminta mereka menuliskan bab pertama.
“Ingat, kalian harus bisa selesai setidaknya delapan ratus kata! Kita punya waktu empat jam!”
Yash, itu waktu kosongku. Aku mengajar hanya empat jam pertemuan hari ini, maka jam kosongnya aku gunakan untuk mendampingi dua anak itu. Mereka bukan anak-anak yang awam, sebab diksi-diksi yang mereka gunakan sudah cukup baik.
Aku menemani mereka menulis, tentu aku pun ikut menulis. Dadaku berdesir hebat ingin juga menulis. Maka jadilah satu ruangan itu hanya berisi suara ketikan keyboard. Aku, dan dua anak lelaki itu sama-sama tenggelam dalam dunia yang kami buat.
Setiap hari kami melakukan hal yang sama. Aku makin jarang terlihat di meja kantor. Teman-temanku mulai memuji–atau menyindir?–tentang aku yang terlalu sibuk.
“Jangan terlalu bersemangat pada hal yang mungkin tidak diapresiasi.”
“Hati-hati nanti kecewa.”
“Nanti kalau sakit ngerepotin temannya untuk menggantikan.”
Sumpah, aku menelan semua itu bulat-bulat. Jangankan mengunyah, aku tak punya waktu mencecap rasa dari kalimat-kalimat itu. Indera pengecapku penuh dengan rasa cemas, pahit, hingga manis proses pendampingan kepada dua anak lelaki yang tak pernah mengeluh lelah meski setiap hari harus menulis sekian ratus kata.
Aku terus menerjang waktu, istirahat? Justru istirahatku ketika bisa membersamai anak-anak itu untuk menulis. Hari ke hari, hambatan mulai terlihat. Dua anak lelaki itu mulai merasa burn out. Mereka kehabisan ide.
Aku meminta mereka membaca buku, lalu kembali menulis. Cukup berhasil, meski lagi-lagi mereka stuck.
“Kalau begitu, coba kalian menonton film, membaca komik, atau membaca penelitian dari jurnal tertentu yang berkaitan dengan tulisan kalian.”
Meski dengan berat hati yang mulai bertengger, mereka tetap melakukan itu. Wajah mereka dari hari ke hari tampak kusut. Hilang sudah keluguan seperti hari pertama mereka menemuiku.
Ini tidak bisa dilanjutkan. Aku meminta mereka berhenti menulis. Time to break.
“Kok malah istirahat, Dzah? Ini kita dikejar waktu, kalau istirahat tambah gak selesai! Kalau gak selesai kita gak bisa beprestasi!”
Aku menghela napas dalam-dalam, lihat itu, mereka sekarang bahkan mulai protes. Aku tidak ingin ambil pusing, cukup satu pertanyaan aku torehkan pada mereka, “Memang kalian bisa menulis apa dengan pikiran yang kacau begitu?”
Mereka mendengus kesal.
“Lihat saya, le!” titahku sembari menatap mereka tajam.
“Ayo lihat ustadzah!”
Mau tidak mau, mereka menatapku serius, “Kalian menulis bukan untuk menjadi robot! Kalian menulis, justru untuk bisa membuat diri kalian lebih bisa memanusiakan manusia. Saya sudah bilang, kan? Menulis itu bukan ajang pamer!”
Perlahan, mereka menunduk, kedua tangan mereka meremas satu sama lain.
“Buntu, ya istirahat. Kekurangan ide, ya cari ide. Bukan memaksa terus lancar atau memaksa terus punya ide. Gak gitu, le!’
Mereka masih diam.
“Lagian kalian nulis buat apa sih? Mau tulisan kalian selesai tapi kemudian dihujat seantero raya?”
Mereka menunduk makin dalam.
“Hari ini kita break. Waktunya merenung! Besok kita ketemu lagi. Oke?”
Mereka mengangguk pelan. Dengan lirih, mereka mengucap terimakasih, dan pamit. Sementara aku, memilih mencari ruang sepi lainnya, sambil membaca cerita mereka dari awal. Sesekali aku tertawa membaca tulisan mereka. Siapa sangka dua anak lugu itu bisa membuat tokoh dengan dunia yang hampir utuh?
Seharian aku membaca cerita mereka. Banyak hal yang ku catat, untuk besok aku berikan. Meski sempat bersitegang, aku bukannya lelah, tapi aku lega. Proses seperti ini akan mengajarkan mereka banyak hal suatu saat nanti.
***
Setelah sebulan lebih, rampung juga naskah salah satu dari dua anak lelaki yang menemuiku dengan wajah lugu dan gemetar. Novelnya berhasil selesai. Sedangkan novel satunya lagi–kelak akan menyusul beberapa bulan kemudian.
“Terimakasih, Dzah. Ini karena ustadzah!” kata salah satu anak lelaki itu.
Aku menggeleng, “Kamu yang hebat karena bisa menyelesaikan itu dengan baik. Meski temanmu belum, di periode berikutnya, saya yakin dia akan segera menyusul. Saya benar-benar bangga kepada kalian!”
Setelah beberapa bulan, naskah anak lelaki itu diumumkan sebagaii juara ketiga. Anak lelaki itu terharu bukan main. Ia terus-terusan berkata terimakasih. Namanya mulai dikenal sebagai siswa pertama yang berhasil menulis novel di sekolah itu.
Semua guru memberiku selamat. Meski perjalanan tidak berhenti di sana, tapi sungguh, ladang bunga yang bermekaran ketika pertama kali bertemu mereka, kini menjadi ladang bunga yang penuh haru biru. Anak lelaki itu tersenyum bangga. Orang tuanya juga senang bukan main.
Selamat, anakku.
Kamu telah membuka jalan untuk anak-anak berikutnya juga merasakan kebanggaan yang sama sepertimu!
Selamat anakku.
Dan selamat untuk diriku.
Bergemuruh segala kelu.
Berduka cita segala rasa.
Tumpah ruah tangis biru.
Memeluk luka tercengkram masa.
Siapa kiranya punggawa pemilik kata?
Aku ingin memintanya berfatwa,
Agar luka benar tiada bersisa,
Agar suka benar gemuruh mekarnya.






