
“Di Antara Tugas dan Cinta”
“Di Antara Tugas dan Cinta”
Oleh : Mohd. Ridwan
Pagi selalu datang dengan caranya sendiri.
Bagi sebagian orang, pagi mungkin hanya tentang secangkir kopi, sarapan, lalu berangkat bekerja. Namun bagiku, pagi adalah awal dari sebuah perjuangan. Ada begitu banyak hal yang harus kupikirkan sebelum melangkahkan kaki keluar dari rumah: keluarga yang kutinggalkan untuk sementara, pekerjaan yang menunggu, siswa-siswa yang mungkin membutuhkan kehadiranku, dan tanggung jawab yang tidak pernah benar-benar selesai.
Aku seorang guru.
Lebih tepatnya, aku seorang guru Bimbingan dan Konseling.
Banyak orang mengira tugas seorang guru BK hanya menangani siswa yang bermasalah. Mereka mungkin melihatku duduk di ruang BK, berbicara dengan siswa, memberikan nasihat, lalu semuanya selesai.
Padahal tidak sesederhana itu.
Di balik pintu ruang BK, ada begitu banyak cerita yang tidak pernah sampai ke telinga orang lain.
Ada siswa yang datang dengan mata berkaca-kaca karena masalah keluarganya. Ada yang kehilangan semangat belajar karena merasa dirinya tidak cukup pintar. Ada yang diam karena sedang berperang dengan pikirannya sendiri. Ada pula yang terlihat selalu tertawa, tetapi ternyata menyimpan luka yang tidak pernah diceritakannya kepada siapa pun.
Aku mendengarkan mereka.
Kadang aku tidak memiliki jawaban yang sempurna.
Aku hanya bisa berkata,
“Tidak apa-apa kalau hari ini kamu belum baik-baik saja. Tapi jangan berhenti berusaha.”
Aneh rasanya.
Aku sering menguatkan orang lain ketika sebenarnya diriku sendiri juga sedang membutuhkan kekuatan.
Suatu sore, setelah sebagian besar siswa pulang, aku masih berada di ruang BK.
Di atas meja terdapat beberapa berkas yang belum selesai. Program layanan yang harus disusun, laporan yang harus diperiksa, data siswa yang harus direkap, dan berbagai pekerjaan lain yang seolah tidak pernah habis.
Jam dinding menunjukkan pukul lima sore.
Aku menarik napas panjang.
Dalam hati aku berkata, “Sampai kapan pekerjaan ini selesai?”
Kemudian ponselku bergetar.
Sebuah pesan dari rumah.
“Abi pulang jam berapa?”
Aku terdiam cukup lama.
Pertanyaan sederhana itu tiba-tiba terasa begitu dalam.
Aku melihat layar ponsel, kemudian melihat tumpukan pekerjaan di meja.
Di satu sisi ada tugas.
Di sisi lain ada keluarga.
Keduanya sama-sama membutuhkan diriku.
Dan saat itulah aku kembali memahami satu hal: menjadi seorang guru tidak pernah berarti berhenti menjadi seorang ayah, seorang suami, dan seorang manusia.
Aku segera merapikan berkas.
Tidak semuanya harus selesai hari itu.
Ada pekerjaan yang bisa dilanjutkan besok.
Tetapi masa kecil anakku tidak akan pernah kembali.
Waktu bersama keluarga juga tidak bisa diulang.
Sesampainya di rumah, kulihat anakku berlari menyambutku.
Senyumnya sederhana.
Tidak ada tuntutan.
Tidak ada pertanyaan tentang berapa banyak pekerjaan yang sudah kuselesaikan.
Ia hanya ingin ayahnya hadir.
Tangannya menggenggam tanganku.
“Abi pulang.”
Aku tersenyum.
“Iya, Nak.”
Anak kembarku langsung memelukku.
Serasa hilang penat kerjaku seharian.
Saat itu aku merasa malu pada diriku sendiri.
Betapa sering aku mengajarkan kepada siswa tentang pentingnya menghargai waktu, tetapi terkadang aku sendiri lupa menghargai waktu bersama orang yang paling kucintai.
Aku duduk bersamanya.
Mendengarkan ceritanya yang sederhana.
Tentang apa yang ia lihat hari itu.
Tentang hal-hal kecil yang mungkin bagi orang dewasa tidak berarti apa-apa, tetapi bagi seorang anak merupakan seluruh dunianya.
Aku tersenyum.
Dalam hati aku berkata,
“Maafkan Abi jika terlalu sering pulang membawa lelah. Ayah mungkin tidak selalu punya banyak waktu, tetapi Ayah akan selalu berusaha pulang membawa cinta.”
Menjadi guru membuatku belajar tentang banyak bentuk cinta.
Aku belajar bahwa cinta tidak selalu berupa kata-kata manis.
Cinta bisa berbentuk seseorang yang tetap datang bekerja meskipun tubuhnya lelah.
Cinta bisa berupa seorang ibu yang menunggu anaknya pulang.
Cinta bisa berupa ayah yang berusaha memenuhi kebutuhan keluarganya.
Cinta juga bisa berupa seorang guru yang tetap mendengarkan siswa, meskipun dirinya sendiri sedang memiliki masalah.
Dan semakin lama aku menjalani profesi ini, semakin kusadari bahwa mengajar adalah salah satu cara mencintai.
Aku tidak hanya mengajar pelajaran.
Aku mencoba menanamkan harapan.
Ketika seorang siswa mengatakan, “Saya tidak bisa,” aku ingin menjadi orang yang berkata, “Coba sekali lagi.”
Ketika seorang siswa merasa dirinya tidak berharga, aku ingin menjadi orang yang mengingatkannya bahwa setiap manusia memiliki nilai.
Ketika seorang siswa hampir menyerah, aku ingin menjadi salah satu alasan baginya untuk bertahan.
Mungkin suatu hari nanti mereka akan lupa siapa guru BK yang pernah berbicara dengan mereka.
Mungkin mereka akan lupa nasihat yang pernah kuberikan.
Tetapi aku berharap mereka tidak pernah lupa bahwa pernah ada seseorang yang percaya kepada mereka ketika mereka sendiri belum mampu percaya kepada dirinya.
Namun di antara semua cinta itu, ada satu hal yang sering terlupakan.
Aku juga harus belajar mencintai diriku sendiri.
Aku bukan manusia yang selalu kuat.
Aku juga pernah kecewa.
Pernah merasa gagal.
Pernah mempertanyakan apakah semua yang kulakukan sudah cukup.
Pernah pulang dengan tubuh yang lelah, tetapi tetap berusaha tersenyum di depan keluarga.
Karena terkadang seorang guru terlalu sibuk menguatkan orang lain sampai lupa bahwa dirinya juga membutuhkan tempat untuk bersandar.
Dan tempat itu adalah keluarga.
Rumah.
Orang-orang yang tidak menilai kita dari prestasi, jabatan, atau keberhasilan.
Mereka menerima kita apa adanya.
Mereka tidak peduli berapa banyak siswa yang berhasil kita bantu hari ini.
Mereka hanya ingin kita pulang dengan selamat.
Kini aku memahami bahwa hidup memang selalu menempatkan kita di antara banyak tugas dan tanggung jawab.
Ada sekolah yang harus kuperhatikan.
Ada siswa yang membutuhkan bimbinganku.
Ada administrasi yang harus kuselesaikan.
Ada keluarga yang menungguku pulang.
Ada anak yang membutuhkan waktu bersama ayahnya.
Dan ada diriku sendiri yang sesekali membutuhkan ketenangan.
Aku tidak selalu mampu memberikan yang terbaik kepada semuanya.
Namun aku ingin terus belajar.
Belajar menjadi guru yang lebih baik.
Belajar menjadi ayah yang lebih hadir.
Belajar menjadi pasangan yang lebih memahami.
Dan belajar menjadi manusia yang tidak kehilangan dirinya sendiri di tengah kesibukan.
Karena pada akhirnya, hidup bukan tentang seberapa banyak tugas yang berhasil kita selesaikan.
Hidup adalah tentang siapa yang kita cintai, siapa yang kita perjuangkan, dan siapa yang merasa hidupnya menjadi sedikit lebih baik karena kehadiran kita.
Aku mungkin tidak bisa mengubah dunia.
Tetapi jika suatu hari seorang siswa berkata,
“Pak, terima kasih karena dulu Bapak tidak menyerah kepada saya,”
atau anakku kelak berkata,
“Abi memang sibuk, tetapi Abi selalu ada untuk kami,”
maka aku tahu…
semua lelah itu tidak pernah sia-sia.
Sebab di antara tugas dan cinta, aku menemukan makna sebenarnya dari pengabdian.
Bahwa menjadi guru adalah tentang mencintai banyak anak dengan sepenuh hati, tetapi menjadi seorang ayah adalah tentang selalu menemukan jalan untuk pulang kepada cinta yang menunggumu di rumah.
Dan di antara keduanya…
aku memilih untuk tetap berjalan.
Bukan karena aku selalu kuat.
Tetapi karena ada begitu banyak orang yang kucintai dan ingin kuperjuangkan.
Itulah hidupku. Di antara tugas dan cinta.






