
Garis Finis yang Tak Sempat Ia Sapa
Meja belajar itu masih rapi tersusun,
Buku-buku terbuka pada bab penuh tuntutan.
Ada pena yang tertinggal di baris kesimpulan,
Menunggu jemari yang terbiasa penuh kedisiplinan.
Pagi tadi, langkahnya selalu yang paling awal,
Menatap masa depan dengan tekad yang tebal.
Namun tubuhnya menyimpan badai yang senyap,
Mengikis tenaga di balik senyum yang tetap lelap.
Sakit merayap perlahan tanpa suara,
Memadamkan api mimpi di dada sang juara.
Ia berjuang menahan nyeri di tiap hembusan,
Hingga waktu memaksa menutup lembaran.
Oh, langkah yang terhenti sebelum sampai,
Buku prestasi yang kini basah oleh derai.
Ia telah berlari sejauh keyakinan membentang,
Namun takdir memanggilnya pulang di senyap petang.
Selamat jalan, wahai pemilik cita-cita tinggi,
Namamu abadi di ruang kelas yang sunyi.
Engkau telah menang, meski lelah mendera,
Di garis finis abadi yang tak sempat ia sapa.




