
Di Antara Jelaga dan Suluh Karsa
Aku bermula dari celah sunyi yang tak pernah hilang, Menampung jelaga dari salah yang tak pernah kukarsa. Di bawah cemooh dan tatap jumawa yang memandang rendah, Kutatap perih itu, hingga waktu melipat setia ini menjadi tajuk yang mulia.
Telah kusangga gelombang murka dari jiwa belia yang dahaga, Menahan bidik tudingan dari para wali yang datangan membawa pelestarian. Aku berdiri sebagai karang, meski dada teriris tanpa suara, Mendekap amarah dengan santun, belas kasih prasangka menjadi kedamaian.
Lalu takdir merenggut selapis demi selapis tawa, Ada sahabat sedada yang kini beristirahat di balik keabadian pusara, Ada anak-anak panah yang melesat pergi meninggalkan muara, Menyisakan gema di lorong kelas, tempat kerinduan terus berlanjut tanpa jeda.
Namun di ujung lelah, luruhlah segala pahit oleh kasih yang murni, Dari binar mata jemari mungil dan ketulusan kawan yang saling menopang. Sebab menjadi guru bukan soal gelar yang terpatri di kening bumi, Melainkan tentang menyalakan suluh jiwa yang abadi, di hati mereka yang kini terang.






