Menghidupkan mimpi yang dititipkan

Aku yang Perlahan Mencintai Profesi Guru

Menjadi seorang guru bukanlah pekerjaan yang mudah. Saya teringat puluhan tahun yang lalu saat saya melamar pekerjaan di Sekolah Negeri menjadi menjadi seorang Guru Honorer. Bertahun-tahun saya menerima gaji hanya beberapa ratus ribu. Waktu itu sistem penggajiannya berdasarkan berapa banyak jumlah jam mengajar kita per minggu. Saya adalah guru Bahasa Inggris, awalnya saya tidak mengajar Bahasa Inggris karena di sekolah kami waktu itu sudah ada 2 orang Guru Bahasa Inggris yang menyebabkan saya mengampu Mata Pelajaran yang bukan bidang disiplin ilmu saya yaitu Multimedia. Beberapa tahun saya mengajar yang bukan di bidang saya. Saya hampir-hampir saja menyerah karena saya merasa saya tidak menguasainya.

Bertahun-tahun saya menjadi seorang guru honorer, saya mulai berpikir ulang untuk masa depan saya apalagi saya seorang pria lajang yang memikirkan persiapan pernikahan saya yang tentu saja membutuhkan tidak sedikit modal untuk menikah. Saat itu rekan saya tanpa sepengetahuan saya mendaftarkan saya untuk mengikuti Uji Kompetensi Guru (UKG) di Tahun 2015, saya sangat berterima kasih kepada rekan saya, Ibu Yulihartati, S.E, atas bantuan beliau hingga akhirnya saya berkesempatan untuk mengikuti Pretest Pendidikan Profesi Guru Dalam Jabatan (PPG-DJ). Saat itu saya belum mempunyai Nomor Unik Pendidik dan Tenaga Kependidikan (NUPTK), yang ada hanya terdaftar di Aplikasi Padamu Negeri. Setelah saya dinyatakan lulus pretest PPG dalam Jabatan akhirnya saya dipermudah untuk mendapatkan NUPTK.

Sesuai dengan Undang-undang Guru dan Dosen Nomor 14 Tahun 2005, setiap guru wajib mengikuti Pendidikan Profesi Guru (Sertifikasi) sebab guru diakui sebagai profesi yang harus profesional dimana profesionalisme guru mencakup 4 kompetensi guru yaitu; 1) Kompetensi Profesional yaitu kompetensi penguasaan materi ajar secara luas dan mendalam yang meliputi konsep dan metodologi keilmuan yang diajar., 2) Kompetensi Pedagogik yaitu kemampuan untuk mengelola pembelajaran yang meliputi pemahaman terhadap murid, perancangan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, serta evaluasi hasil pembelajaran., 3) Kompetensi Kepribadian yaitu kemampuan personal dari guru yang mencerminkan kepribadian yang mantap, dewasa, berwibawa, arif, dan bijaksana., 4) Kompetensi Sosial yaitu kemampuan guru dalam berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dengan murid, rekan kerja, orang tua murid dan Masyarakat.  Tepat pada tahun 2018 Saya ikut pretest PPGDJ (Pendidikan Profesi Guru Dalam Jabatan), puji Tuhan saya lulus pretest PPG tahun 2018. Pada tahun 2019 saya begitu bahagia ketika nama saya masuk angkatan Ke 4 dengan LPTK nya di Universitas Bengkulu.

PPG melewati beberapa tahapan yaitu mulai dari Daring (Pembelajaran Jarak Jauh) melalui website SPADA PPG beberapa bulan, Workshop di LPTK (waktu itu belum pandemi), kemudian Peerteaching, PPL di sekolah mitra, Ukin (Uji Kinerja) dan UP (Uji Pengetahuan). Selama masa daring, banyak tugas setiap hari yang harus kami selesaikan, yang mana materinya adalah tentang Pedagogi dan Profesional. Selama itu pula saya rutin ke warnet mengerjakan tugas karena jaringan internet di rumah saya tidak terlalu bagus.

Setiap hari kami harus siap mengerjakan tugas, baik itu tugas formatif, sumatif maupun forum diskusi. Dan, rasa lelah saya selalu terbayar tuntas ketika nilai-nilai saya mulai dari Tugas Formatif, Sumatif dan Forum Diskusi selalu sangat memuaskan.  Akhirnya, beberapa bulan kami melaksanakan Daring tiba saatnya kami ke tahap selanjutnya, itu pun kami belum tahu apakah kami lulus daring atau tidak tapi kami telah berangkat ke LPTK, puji Tuhan, di tengah perjalanan kami membaca pengumuman ternyata kami lulus Daring, itu artinya kami bisa melanjutkan ke tahapan selanjutnya yaitu Workshop di kampus yaitu kuliah tatap muka.

Beberapa bulan kami kami melaksanakan workshop, setiap hari kami pergi ke kampus dengan tugas yang cukup banyak, dan kami harus masuk tetap waktu dan pulang dari kampus pun sudah sore (5.30). Setelah beberapa bulan kami melaksanakan workshop, maka tahapan yang selanjutnya adalah melaksanakan PPL. Waktu itu saya dapat PPL di SMK Negeri 1 Kota Bengkulu. Beberapa Minggu kami melaksanakan PPL itu artinya kami akan melewati tahapan yang selanjutnya yaitu Ukin (Uji Kinerja), puji Tuhan, Uji Kinerja saya mendapat nilai yang sangat memuaskan.
Setelah kami melaksanakan PPL kami pun kembali ke kampus untuk melaksanakan tahapan yang selanjutnya yaitu Uji Pengetahuan (UP). UP merupakan salah-satu penentu akhir apakah kita layak mendapatkan Sertifikat Pendidik atau tidak. Meskipun demikian, LPTK kami memfasilitasi kami untuk ikut bimbingan belajar agar kami dibekali pemahaman dan pengetahuan yang matang untuk menghadapi Uji Pengetahuan yang akan dilaksanakan di Bulan November 2019. Waktu yang dinanti pun tiba, bulan November, kami pun melaksakan Uji Pengetahuan, malam sebelum UP, saya belajar hampir sampai larut pagi. Karena saya ingin lulus UP.

Paginya, kami pun melaksanakan UP. Setelah selesai kami pun pulang kampung ke rumah kami masing-masing. Tepatnya pada bulan Januari 2020 pengumuman UP yang dinanti pun tiba, pagi itu saya sedang mengajar di kelas, entah kenapa perasaan saya pada saat itu sangat tidak enak, seperti ada firasat yang memberi tahu saya, ya benar saya, teman-teman di group WhatsApp sudah pada ramai membicarakan tentang hasil UP. Dengan gemetar, saya pun mengecek info kelulusan di website sergur. Saya pun memasukkan nomor peserta saya, ya benar saja, saya tidak lulus. Saya serasa tidak percaya bahwa saya Tidak Lulus Uji Pengetahuan. Saya merasa sangat sedih bercampur bingung. Bahkan teman-teman saya tidak percaya saya tidak lulus, mereka mengira saya bercanda.Jika saya mereview kembali perjalanan saya mulai dari Daring nilai saya selalu sangat memuaskan bahkan di UKin juga nilai saya sangat memuaskan, itu yang membuat saya sangat terpukul. Dan, saya pun menjadi retaker.
Akhirnya saya pun mencoba ikhlas menerima keadaan itu. Tuhan pasti punya rencana yang indah bagi saya. Tepat pada Bulan Februari 2020, diadakan kembali Uji Pengetahuan (Retaker). Saya benar-benar pasrah kepada Tuhan (bukan putus asa), apalagi kenangan tentang UP waktu itu belum terlupakan. Benar saja, ketika Ujian dimulai, saya merasa soal-soal UP sangat mudah. Puji Tuhan, ketika pengumuman UP saya pun dinyatakan lulus.
Menjadi guru memang sangat membutuhkan kesabaran, kesabaran menerima gaji seadanya, kesabaran menanti dapat diundang menjadi peserta PPG, kesabaran untuk lulus menjadi seorang ASN, kesabaran hidup seadanya, kesabaran menghadapi murid-murid dan banyak kesabaran-kesabaran lainnya. Dari cerita perjalan saya menjadi seorang guru yang mana saya perlahan mencoba mencintai profesi saya sebagai guru dengan lika-liku kehidupan menjalani karir saya semakin memantapkan keyakinan saya bahwa menjadi seorang guru adalah pilihan hidup saya.

Bagikan tulisan ini

Similar Posts

Tinggalkan Balasan