
JEJAK ENAM BELAS TAHUN
Enam belas tahun melangkah dalam sunyi,
Mengabdi pada nusa, menanam benih budi.
Dari ruang kelas berdebu di pagi hari,
Hingga kini berdiri tegak memetik buah abdi.
Berawal dari honorer dengan amplop tipis di tangan,
Gaji tak seberapa, namun ikhlas jadi pegangan.
Papan tulis usang saksi bisu perjuangan,
Menyalakan pelita ilmu di tengah keterbatasan.
Lalu cinta hadir merajut hari-hari berdua,
Kami menikah dalam kesederhanaan doa.
Tiada bulan madu mewah, hanya janji setia,
Menatap masa depan berbekal cinta dan asa.
Hari berganti, tangis bayi kecil pun hadir,
Menguji kesabaran, menemani langkah kian berukir.
Tiada tempat menitip, buah hati terpaksa diboyong,
Menginap di ruang guru yang sunyi dan kosong.
Beralaskan tikar tipis di balik tumpukan buku,
Kau terlelap ditemani deru angin dan malamku.
Ibu mengajar di kelas, bayi tenang dalam buaian rindu,
Menjadi saksi bisu betapa tulus perjuangan hidupmu.
Enam belas tahun berlalu, badai telah dilewati,
Tahun 2024 membawa cahaya di penghujung penantian ini.
Kepastian di tangan, lelah berganti senyum abadi,
Terima kasih ya Allah, atas takdir dan karunia ini.






